Posted in

DIPAKSA MENIKAH DENGAN PETANI MISKIN DI PEDESAAN, SEMENTARA ADIKNYA MEMILIH PEWARIS KAYA—NAMUN SAAT SUV HITAM ITU DATANG, SEMUA ANGGAPAN MEREKA HANCUR SEKETIKA

DIPAKSA MENIKAH DENGAN PETANI MISKIN DI PEDESAAN, SEMENTARA ADIKNYA MEMILIH PEWARIS KAYA—NAMUN SAAT SUV HITAM ITU DATANG, SEMUA ANGGAPAN MEREKA HANCUR SEKETIKA

Kyla menggenggam pisau kecil di atas meja lalu menempelkannya ke pergelangan tangannya sendiri.

—Kalau kalian tetap memaksaku menikah dengan petani miskin itu, aku akan mati di sini juga!

Seluruh ruang tamu mendadak sunyi.

Di dekat jendela, Mara Villanueva berdiri tanpa suara. Ia tidak menangis. Ia juga tidak berkata apa-apa. Namun di dalam dadanya, sesuatu terasa retak sedikit demi sedikit.

Di usia dua puluh tujuh tahun, Mara sudah terbiasa mengesampingkan rasa sakitnya sendiri demi menjaga kedamaian keluarga. Ia adalah anak sulung. Ia selalu mengalah. Ia selalu berkorban.

Sementara adiknya, Kyla, selalu mendapatkan apa yang diinginkannya selama ia menangis cukup keras, berteriak cukup lama, atau mengancam dengan cukup serius.

—Kyla, turunkan pisaunya! —teriak ayah mereka, Renato.

Namun Kyla justru semakin menekan ujung pisau ke kulitnya.

—Tidak! Kenapa aku yang harus dikirim ke desa? Kenapa Kak Mara yang mendapatkan Adrian Montemayor? Dia berasal dari keluarga pemilik hotel, restoran, dan apartemen mewah di Makati. Sedangkan aku harus menikah dengan pria yang menanam ubi di Quezon?

Mara memejamkan mata.

Sebelum meninggal dunia, ibu mereka meninggalkan dua janji.

Salah satu putrinya akan menikah dengan keluarga Montemayor, keluarga terpandang di Manila.

Sedangkan yang satu lagi akan menikah dengan Elias Ramirez, putra Aling Rosa, perempuan yang pernah menyelamatkan nyawa Kyla saat masih bayi.

Saat itu badai besar melanda kota mereka. Kyla yang masih bayi hampir tidak bisa bernapas. Tidak ada kendaraan yang berani menerobos banjir. Aling Rosa-lah yang menggendong bayi itu, berjalan menembus lumpur dan hujan, lalu membawanya ke pusat kesehatan terdekat.

Jika bukan karena dirinya, Kyla mungkin tidak akan hidup sampai hari ini.

—Nak, janji itu bukan hukuman —kata Renato pelan.—Kita berutang nyawa kepadanya.

Kyla tertawa sinis.

—Hanya karena dia menyelamatkanku saat bayi, aku harus mengorbankan seluruh hidupku? Tinggal di rumah beratap seng dan menghitung ayam setiap hari?

—Kamu bahkan belum mengenal Elias —kata Mara.—Mungkin dia orang yang baik.

Kyla langsung menoleh kepadanya.

—Mudah bagimu mengatakannya karena kamu yang akan hidup mewah.

Mara menarik napas panjang.

—Aku tidak pernah meminta semua pengaturan ini.

—Tapi kamu juga tidak pernah menolaknya.

Senyum dingin muncul di bibir Kyla.

—Lagipula, desa memang cocok untukmu, Kak.

Semua orang terdiam.

Lalu Kyla menambahkan kalimat yang ia tahu akan paling menyakitkan.

—Memangnya keluarga Montemayor mau apa dengan perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan?

Dada Mara terasa seperti disiram air mendidih.

—Kyla! —teriak Renato.

Namun luka lama itu sudah kembali terbuka.

Kyla mengetahui seluruh kebenarannya.

Saat berusia sembilan belas tahun, Kyla pernah mengalami radang usus buntu yang parah. Saat itu keluarga mereka hanya mampu membayar satu operasi. Pada waktu yang sama, Mara juga sudah lama merasakan sakit yang aneh di tubuhnya.

Ia memilih mengutamakan adiknya.

—Kyla dulu, Pa. Kondisinya lebih berbahaya.

Butuh beberapa bulan sebelum Mara akhirnya memeriksakan diri. Saat dokter menemukan masalahnya, semuanya sudah terlambat.

Kerusakan serius telah terjadi pada sistem reproduksinya.

Kemungkinan besar ia tidak akan pernah bisa memiliki anak.

Kyla tahu harga yang harus dibayar Mara untuk pengorbanan itu.

Namun ia tetap menjadikannya senjata.

—Mudah sekali kamu mengatakannya —ucap Mara pelan namun tegas.

Kyla hanya mengangkat bahu.

—Karena itu memang kenyataannya.

Wajah Renato memerah karena marah.

—Keluar dari ruang tamu sekarang!

—Aku akan keluar setelah kalian mengubah keputusan. Aku yang akan menikah dengan Adrian. Kak Mara saja yang menikah dengan petani itu.

—Tidak bisa.

Kyla kembali mengangkat pisau.

—Kalau tidak, kalian akan melihatku bersimbah darah di sini.

—Kyla, hentikan! —seru Mara sambil melangkah maju.—Turunkan pisaunya. Jangan sakiti dirimu sendiri.

—Jangan mendekat!

Mara berhenti.

Ia melihat ketakutan di wajah ayahnya.

Namun yang lebih jelas ia lihat adalah kelemahan yang sudah sangat dikenalnya.

Ayahnya selalu mengalah pada Kyla.

Selalu.

Setelah keheningan panjang, Renato akhirnya menundukkan kepala.

—Baiklah. Kamu yang akan menikah dengan Adrian Montemayor.

Seolah sebuah tombol ditekan.

Kyla langsung menurunkan pisaunya. Air matanya menghilang. Ia berdiri tegak dan tersenyum puas.

—Terima kasih, Pa. Aku tahu Ayah akan mengerti.

Mara menatap adiknya.

—Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan.

—Dan memang seharusnya begitu.

—Ambillah nama keluarga Montemayor. Ambillah mansion, mobil mewah, dan kehidupan impianmu. Tapi ingat hari ini.

Kyla tertawa.

—Kenapa? Karena aku akan menyesal?

Mara tidak menjawab.

Keesokan paginya, hanya dengan sebuah koper kecil, ia berangkat menuju Tayabas, Quezon.

Tidak ada penjemput mewah.

Tidak ada sopir berseragam.

Tidak ada mobil mahal.

Van tua yang ditumpanginya berhenti di ujung jalan beton karena jalan menuju rumah Aling Rosa sudah terlalu sempit dan berlumpur.

Mara berjalan sambil membawa koper.

Di kiri dan kanan terbentang kebun kelapa, ladang sayur, dan rumah-rumah kayu sederhana.

Saat tiba di sebuah bungalow tua yang dikelilingi kebun dan kandang ayam, seorang wanita bergaun lusuh menyambutnya dengan senyum hangat.

—Kamu Mara, kan? Aku Rosa. Mulai hari ini, kamu juga anakku.

Tidak ada pertanyaan apakah ia mandul.

Tidak ada tatapan dingin.

Tidak ada penghakiman.

Aling Rosa memeluknya seolah sudah lama menunggunya.

Menjelang matahari terbenam, Elias Ramirez akhirnya tiba.

Tubuhnya tinggi, kulitnya kecokelatan, berpakaian rapi namun sederhana. Ada noda tanah di sepatunya dan lengan kemeja putihnya tergulung.

Ia tampak tenang, namun memiliki wibawa yang sulit dijelaskan.

—Maaf aku terlambat —katanya.—Ada urusan yang harus kuselesaikan di lahan sebelah.

Ia menyerahkan sebuah kotak kecil berlapis beludru kepada Mara.

—Ini bukan pengganti cinta. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu datang ke sini bukan sebagai sebuah kewajiban.

Saat membuka kotak itu, napas Mara tercekat.

Sebuah gelang emas berat berkilauan di telapak tangannya.

Bukan perhiasan biasa yang bisa ditemukan di pusat perbelanjaan.

Terlihat sangat mahal dan dibuat dengan pengerjaan yang sempurna.

—Elias, aku tidak bisa menerima ini.

Sebelum Elias menjawab, Aling Rosa datang membawa kotak lain.

—Aku juga punya hadiah kecil untukmu, Nak.

Saat Mara membukanya, hampir saja kotak itu terjatuh dari tangannya.

Sebuah kalung dengan liontin berlian merah muda berada di dalamnya.

Ia menatap langit-langit rumah yang sederhana, meja tua, dan tirai yang sudah usang.

Lalu ia kembali memandang Elias.

—Siapa sebenarnya kalian?

Elias tersenyum tipis.

Namun sebelum ia sempat menjawab, sebuah SUV hitam berhenti di depan halaman.

Pintunya terbuka.

Seorang pria berjas segera turun lalu membungkuk hormat di hadapan Elias.

—Tuan Elias, para anggota dewan sudah menunggu. Para pengacara dari Singapura juga telah tiba. Kami membutuhkan tanda tangan Ketua Utama Ramirez Global Holdings.

Mata Mara membelalak.

Dan untuk pertama kalinya, ekspresi Elias berubah.

Ia tidak lagi terlihat seperti petani biasa.

Ia terlihat seperti pria yang mampu mengubah nasib seluruh keluarganya hanya dengan satu tanda tangan.

Babak Akhir: Sang Raksasa yang Bersembunyi di Balik Lumpur

Keheningan seketika menyelimuti teras rumah sederhana itu. Mara menatap pria berjas hitam yang masih membungkuk hormat, lalu beralih pada Elias.

Elias Ramirez, pria yang adiknya sebut sebagai “petani miskin penyuka ubi”, ternyata adalah pucuk pimpinan dari Ramirez Global Holdings—konglomerat agrikultur dan teknologi pangan terbesar di Asia Tenggara yang berbasis di Singapura.

“Maafkan aku, Mara,” kata Elias lembut, suaranya kini terdengar sangat berwibawa. “Aku memang mengelola lahan di desa ini, tapi ini adalah lahan riset seluas ribuan hektar milik perusahaanku. Aku sengaja tinggal di sini bersama Ibu untuk menjauh dari kebisingan kota, sekaligus menguji… siapa di antara putri mendiang teman ibuku yang tulus menghormati janji masa lalu.”

Aling Rosa terkekeh pelan sambil mengelus pundak Mara. “Putriku, kami sengaja membiarkan rumah ini tampak sederhana. Kami ingin menanti seorang wanita yang datang membawa hati, bukan keserakahan. Dan Tuhan mengirimkanmu.”

Elias menoleh ke arah asistennya. “Katakan pada para pengacara, aku akan menandatangani berkasnya di dalam rumah. Dan siapkan helikopter pribadi untuk besok pagi. Aku ingin membawa istriku menemui ayahnya.”

Dua Sisi Takdir

Satu bulan kemudian, sebuah pesta makan malam mewah digelar di sebuah hotel bintang lima di Makati. Pesta itu diadakan oleh keluarga Montemayor untuk menyambut Kyla ke dalam keluarga mereka.

Kyla berdiri di tengah aula dengan gaun desainer mahal, dagunya terangkat tinggi penuh kesombongan. Namun, di balik senyumnya, ada gurat kecemasan. Adrian Montemayor ternyata bukan pria idaman; ia adalah seorang penjudi yang temperamental. Keluarga Montemayor juga sedang terlilit utang besar dan sangat berharap pada suntikan dana dari investor misterius yang baru saja membeli saham mayoritas hotel mereka.

“Kyla, jaga sikapmu malam ini,” bisik Adrian dengan wajah tegang. “Ketua Utama dari Ramirez Global Holdings akan datang. Jika kita bisa mengambil hatinya, bisnis keluarga kita akan selamat.”

Renato, ayah Kyla, yang juga hadir di sana, hanya bisa menghela napas penyesalan. Pikirannya masih tertuju pada Mara yang ia buang ke desa.

Tiba-tiba, pintu aula terbuka lebar.

Seluruh ruangan mendadak senyap. Puluhan pengawal berjas hitam membuat barikade, memberikan jalan bagi sang investor legendaris.

Kyla melebarkan matanya saat melihat seorang pria jangkung, luar biasa tampan, mengenakan setelan jas buatan penjahit terbaik Italia, melangkah masuk. Aura kekuasaannya begitu pekat hingga membuat semua orang menahan napas. Pria itu adalah Elias Ramirez.

Namun, yang membuat jantung Kyla seolah berhenti berdetak adalah wanita yang menggandeng lengan Elias.

Wanita itu mengenakan gaun sutra putih yang elegan. Di lehernya melingkar sebuah kalung berlian merah muda yang berkilau mewah—perhiasan langka yang harganya bisa membeli seluruh aset keluarga Montemayor. Wajahnya begitu anggun, tenang, dan memancarkan kebahagiaan yang sejati.

“Kak… Mara?!” pekik Kyla tak terkendali.

Suara Kyla membuat Elias dan Mara menghentikan langkah tepat di depan keluarga Montemayor dan Renato.

Pembalasan yang Elegan

Adrian Montemayor langsung menyenggol lengan Kyla dengan kasar, lalu membungkuk hormat. “Selamat datang, Tuan Ramirez. Dan… Anda pasti Nyonya Ramirez yang terhormat.”

Kyla gemetar hebat. Kenyataan menghantam wajahnya seperti godam yang menghancurkan seluruh kesombongannya. Pria yang ia tolak dengan ancaman bunuh diri, pria yang ia lemparkan kepada kakaknya sebagai “hukuman”, ternyata adalah penguasa tertinggi yang memegang urat nadi ekonomi mereka.

Mara menatap adiknya dengan tatapan datar—tidak ada dendam, tidak ada kemarahan. Hanya ada rasa iba.

“Kyla,” sapa Mara pelan namun suaranya menggema di antara keheningan para tamu. “Aku sudah mengambil apa yang kamu buang. Aku tinggal di desa, menghitung luas lahan yang tak berujung, dan hidup bersama pria yang sangat menghormatiku.”

Elias mengeratkan genggaman tangannya pada Mara, lalu menatap dingin ke arah Adrian dan Kyla.

“Tuan Montemayor,” kata Elias, suaranya berat dan penuh penekanan. “Aku baru saja membaca laporan keuangan hotel ini. Dan aku juga baru tahu bahwa wanita yang hampir menghancurkan harga diri istriku dengan pisau sebulan yang lalu… kini menjadi menantumu.”

Adrian langsung pucat pasi. Ia menoleh ke arah Kyla dengan tatapan menghunus. “Apa maksud Anda, Tuan?”

“Investasi untuk keluarga Montemayor dibatalkan,” ucap Elias tenang namun mematikan. “Aku tidak akan mengalirkan satu sen pun dari Ramirez Global Holdings kepada keluarga yang mengizinkan orang-orang beracun masuk ke dalamnya.”

“Tuan Ramirez, tolong! Ini kesalahpahaman!” Adrian memohon, sementara Kyla jatuh terduduk di lantai marmer, gaun mahalnya mendadak terasa seperti kain lusuh. Mimpi indahnya berubah menjadi mimpi buruk yang instan.

Mara tidak menoleh lagi saat Elias menuntunnya berjalan melewati mereka. Ia sempat berhenti di hadapan ayahnya, Renato, yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca penuh penyesalan.

“Pa,” kata Mara lembut, menyentuh tangan ayahnya untuk terakhir kali sebagai tanda bakti. “Janji Ibu memang bukan hukuman. Itu adalah berkah yang sengaja disiapkan untuk menjagaku. Aku pergi dulu.”

Di luar hotel, sebuah konvoi SUV hitam mewah sudah menunggu mereka. Saat pintu mobil dibuka untuknya, Mara mendongak menatap langit malam Manila yang cerah.

Ia telah melepaskan segalanya demi mengalah, namun ketulusannya justru membawanya ke tempat tertinggi—di samping seorang pria yang memujanya, di dalam sebuah kehidupan baru di mana tidak ada satu orang pun yang bisa menyakitinya lagi.