Aku Baru Menyadari Bahwa Kamar Kami Ternyata Dipantau Lewat Siaran Langsung
Orang-Orang Asing di Internet Membicarakan Anakku Seolah Dia Adalah Sebuah Barang Dagangan
Dan Rahasia yang Tersembunyi di Balik Resort Keluarga Itu Akhirnya Menghancurkanku…
Anakku, Miguel, mengikat gelang kertas berwarna hijau pada gagang pintu kamar kami, nomor 1208.
Ia tersenyum manis lalu berkata,
“Mama, meskipun Om Adrian pulang larut malam, dia pasti langsung tahu kamar kita.”
Hari itu adalah akhir pekan liburan.
Resort tersebut merupakan hadiah dari pacarku, Adrian Reyes, untukku dan Miguel.
Selama tiga bulan terakhir, dia sering menghilang selama beberapa hari karena alasan pekerjaan.
Awalnya aku mengira dia hanya sibuk mempersiapkan pernikahan kami.
Sampai minggu lalu, aku memergokinya berbohong soal beberapa “perjalanan bisnis.”
Setelah pertengkaran besar, justru dia yang lebih dulu meminta maaf.
Dia mengirimkan konfirmasi reservasi sebuah resort keluarga.
“Jangan sampai Miguel sedih karena masalah kita.”
“Kalian berdua berangkat dulu. Aku akan menyusul malam nanti.”
Aku mempercayainya.
Bagaimanapun juga, aku tidak ingin merusak kebahagiaan anakku.
Saat kami tiba di resort, seorang resepsionis muda bernama Jenny memberikan sebuah kotak kecil kepada Miguel.
Kotak itu berisi gelang-gelang kertas berwarna-warni.
Ada merah.
Ada kuning.
Ada ungu.
Ada hijau.
Miguel sebenarnya hendak mengambil gelang merah, tetapi Jenny dengan cepat mengambil gelang hijau.
Sambil tersenyum, ia berkata,
“Yang ini paling cocok untuk dia.”
“Pakai saja supaya Om Adrian nanti mudah menemukan kalian.”
Miguel menerimanya dengan senang hati.
Namun alih-alih memakainya, ia mengikat gelang itu pada gagang pintu kamar kami.
Aku bahkan sempat memotretnya dan mengirimkannya kepada Adrian.
Balasannya datang sangat cepat.
“Lucu sekali.”
Menjelang tengah malam, Adrian masih belum datang.
Miguel sudah tertidur lelap.
Aku berbaring di sofa sambil memainkan ponsel.
Tiba-tiba sebuah siaran langsung muncul di layar.
Judulnya:
“Menjelajahi Kamar-Kamar Rahasia di Resort.”
Awalnya aku ingin langsung melewatinya.
Namun beberapa detik kemudian, seluruh tubuhku membeku.
Karena dalam video itu…
Lorong yang terlihat persis sama dengan lorong di lantai tempat kami menginap.
Kamera bergerak perlahan.
Melewati satu pintu demi satu pintu.
Hingga akhirnya berhenti tepat di depan kamar 1208.
Dan gelang hijau milik Miguel masih tergantung di sana.
Jantungku berdegup kencang.
Komentar-komentar bermunculan tanpa henti.
[Green Room sudah ditemukan.]
[Masih lengkap semua penghuninya?]
[Jangan sentuh Red Room malam ini.]
[Green Room biasanya mudah.]
Tubuhku langsung terasa dingin.
Tak seorang pun menyebutnya Kamar 1208.
Mereka menyebutnya…
“Green Room.”
Aku segera merekam siaran langsung itu.
Orang yang memegang kamera tampaknya hanya berjarak beberapa meter dari pintu kamar kami.
Lalu terdengar suara yang telah diubah dengan filter.
“Masih ada orang di Green Room.”
“Tunggu sinyal dari bawah.”
Komentar-komentar semakin cepat bermunculan.
[Anaknya sudah tidur?]
[Masih ada satu orang dewasa bersamanya.]
[Tunggu saja.]
Darahku terasa membeku.
Aku segera menutup dan mengunci semua kunci pintu kamar.
Lalu menggendong Miguel dan membawanya ke kamar mandi.
Aku menyalakan shower agar suara air menutupi suara apa pun dari luar.
Dengan mata setengah terpejam, Miguel bertanya,
“Mama, kenapa kita belum tidur?”
Aku memaksakan senyum.
“Mama cuma mau memastikan airnya hangat.”
Dia mengangguk lalu tertidur lagi di bahuku.
Aku duduk di lantai kamar mandi.
Tanganku gemetar hebat.
Dan saat itulah aku teringat sesuatu.
Ketika kami check-in.
Jenny memperhatikan kartu identitasku cukup lama.
Lalu ia bertanya,
“Suami Ibu akan datang larut malam ya?”
Saat itu aku menganggapnya pertanyaan biasa.
Tetapi sekarang…
Aku sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa akan ada orang lain yang menyusul.
Aku segera menelepon Adrian.
Dia mengangkat setelah beberapa kali dering.
“Ada apa?”
Aku menceritakan semuanya dengan cepat.
Dia terdiam beberapa detik.
Lalu berkata,
“Jangan lapor ke siapa pun.”
Aku langsung tertegun.
“Maksudmu apa?”
“Tenang dulu. Aku yang akan urus.”
“Kamu tahu sesuatu soal ini?”
Nada bicaranya langsung berubah.
“Tidak. Maksudku jangan membesar-besarkan situasi ini.”
“Aku sedang menuju ke sana.”
Tubuhku terasa dingin.
Kenapa dia tidak bertanya apakah kami aman?
Kenapa hal pertama yang dia katakan justru agar aku tidak memberi tahu siapa pun?
Aku menutup telepon.
Lalu mengirim video tersebut kepada sahabatku, Camille Santos, seorang jurnalis investigasi.
Bersama lokasi kami.
Balasannya datang seketika.
“Kalau ada sesuatu yang aneh, telepon aku segera.”
“Jangan buka pintu untuk siapa pun.”
Lima belas menit berlalu.
Terdengar ketukan di pintu.
Aku hampir melompat karena kaget.
Suara seorang wanita terdengar dari luar.
“Bu, saya dari resepsionis.”
“Kami hanya ingin memeriksa sistem kelistrikan.”
Aku tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian.
Terdengar suara pria.
“Kami hanya perlu masuk sebentar.”
Perlahan gagang pintu bergerak turun.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Keringat dingin mengalir di punggungku.
Aku memeluk Miguel erat-erat.
Lalu berteriak,
“Saya sudah menelepon polisi!”
Mendadak semuanya hening di luar.
Tidak ada suara apa pun.
Lima menit kemudian.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Tanpa satu kata pun.
Hanya sebuah foto.
Foto dari kamera pengawas.
Dan orang yang ada di foto itu…
Adalah aku.
Sedang memeluk Miguel di dalam kamar mandi.
Yang lebih mengerikan lagi…
Foto itu diambil hanya beberapa menit yang lalu.
Aku merasa napasku berhenti.
Perlahan aku mendongak.
Menatap ventilasi udara di langit-langit.

Dan tepat pada saat itu…
Aku mendengar suara gesekan yang sangat pelan dari dalam saluran ventilasi yang gelap.
Seolah…
Ada seseorang yang baru saja bergerak di dalamnya.
…Dan di ujung saluran ventilasi yang tertutup jeruji besi itu, aku melihat kilatan lensa kamera kecil yang berkedip merah—menatap lurus ke arahku dan Miguel.
Rasanya seolah-olah seluruh pasokan oksigen di kamar mandi ini lenyap. Kami tidak sekadar dikepung dari luar pintu; kami sedang ditonton secara langsung oleh ribuan pasang mata asing di internet, dan resort ini adalah panggung pembantaian yang sudah dirancang rapi.
Kring!
Ponselku berdering lagi. Kali ini dari Adrian. Dengan tangan gemetar, aku menggeser tombol hijau.
“Mika! Kamu di mana? Aku sudah di depan resort, tapi gerbangnya dikunci dari dalam,” suara Adrian terdengar panik, napasnya tersengal-sengal.
“Adrian… mereka ada di dalam ventilasi. Mereka mengawasi kami lewat kamera tersembunyi! Tolong aku, Adrian!” tangisku pecah, berusaha berbisik sebisa mungkin agar suara tidak terdengar ke langit-langit.
“Mika, dengarkan aku,” potong Adrian cepat. “Jangan lewat pintu depan. Ada tangga darurat di ujung lorong sebelah kanan kamarmu. Keluar dari kamar mandi sekarang, bawa Miguel, dan lari ke sana. Aku akan menunggumu di bawah tangga.”
Aku ingin mempercayainya. Dia adalah pria yang kucintai. Namun, sebelum aku melangkah keluar, ponselku bergetar menerima pesan masuk dari Camille, sahabat jurnalisku. Pesan itu berisi sebuah tautan artikel berita lama yang belum sempat dipublikasikan.
Di bawahnya, Camille menulis pesan singkat: “Mika, keluar dari sana SEKARANG. Tapi jangan lewat tangga darurat! Dan JANGAN PERCAYA ADRIAN!”
Aku membuka tautan itu dengan tangan gemetar. Judul artikelnya membuat duniaku runtuh berkeping-keping:
“Sindikat Perdagangan Manusia Internasional Berkedok Resort Mewah: Skandal Keluarga Reyes dan Lelang ‘Kamar Berwarna’ di Situs Gelap.”
Di dalam artikel itu terdapat bagan organisasi. Pemilik saham terbesar dari resort ini adalah keluarga besar Adrian Reyes. Dan fungsi dari gelang-gelang kertas berwarna itu?
Merah untuk organ dalam.
Kuning untuk kerja paksa.
Hijau… untuk adopsi ilegal anak-anak tanpa jejak.
Adrian tidak sedang melakukan “perjalanan bisnis” selama tiga bulan terakhir. Dia sedang mempersiapkan katalog. Dia sengaja membawaku dan Miguel ke sini bukan untuk berdamai, melainkan untuk menyerahkan Miguel sebagai komoditas utama dalam lelang malam ini. Gelang hijau yang diberikan Jenny, foto yang kukirimkan pada Adrian—itu semua adalah konfirmasi bahwa “barang dagangan” telah siap di posisinya.
Tiba-tiba, suara gesekan di dalam ventilasi semakin keras. Jeruji besi penutupnya mulai berderit, seolah ada tangan yang mencoba membukanya dari dalam.
“Mama… takut…” Miguel terbangun, matanya berkaca-kaca melihatku menangis dalam diam.
“Sstt… Miguel, main petak umpet sama Mama, yuk? Jangan bersuara ya, Sayang,” bisikku sambil menghapus air mataku. Kebingungan dan ketakutan berganti menjadi kemarahan yang membakar. Mereka mengira aku adalah domba pasrah yang bisa mereka mangsa dengan mudah. Mereka salah.
Aku tidak keluar menuju tangga darurat seperti instruksi Adrian. Aku tahu itu adalah jebakan di mana mereka sudah bersiap menangkap Miguel.
Sebaliknya, aku mengambil botol losion tubuh berukuran besar dari wastafel, menumpahkannya di seluruh lantai kamar mandi tepat di bawah lubang ventilasi. Kemudian, aku menyalakan keran air panas di bathtub hingga penuh, membiarkan uap tebal memenuhi ruangan untuk mengaburkan pandangan kamera tersembunyi.
Sambil menggendong Miguel erat-erat, aku keluar ke area tempat tidur yang gelap. Aku mengambil setrika pakaian yang disediakan resort, mencolokkannya ke listrik, dan menunggu di balik pintu kamar mandi dengan jantung yang berdegup kencang.
Benar saja, beberapa saat kemudian, jeruji ventilasi terbuka. Seseorang bertopeng hitam melompat turun ke lantai kamar mandi—dan langsung terpeleset dengan keras karena cairan losion yang licin. Pria itu mengerang kesakitan saat kepalanya membentur kloset.
Sebelum dia sempat berdiri, aku menerobos masuk dan menghantamkan setrika panas tepat ke wajahnya, lalu mengunci pintu kamar mandi dari luar, menjebaknya di dalam. Pria itu berteriak histeris, memukul-mukul pintu.
Aku tidak membuang waktu. Aku mengambil ponsel pria itu yang terjatuh di lantai luar. Layarnya masih menampilkan aplikasi siaran langsung situs gelap. Ribuan komentar panik bermunculan:
[Apa yang terjadi?] [Target melawan!] [Green Room gagal!]
Aku mengarahkan kamera ponsel itu ke wajahku sendiri. Dengan suara bergetar namun penuh penekanan, aku berbicara ke arah siaran langsung yang ditonton oleh para monster di seluruh dunia:
“Kalian menyiarkan ini secara langsung, kan? Bagus. Karena sahabatku adalah seorang jurnalis, dan detektif kepolisian dari Manila saat ini sedang menuju ke sini bersama tim taktis. Wajah-wajah kalian, transaksi kalian, dan seluruh resort ini… akan hancur malam ini.”
Aku membanting ponsel itu hingga hancur, mengambil tas, dan berlari keluar kamar melalui pintu depan—bukan tangga darurat. Di lorong, alarm kebakaran yang sengaja kuaktifkan dengan membakar selembar tisu di depan detektor asap mulai menjerit keras, membuat seluruh sistem pengunci otomatis resort terbuka.
Kami berlari menuruni tangga utama yang ramai oleh tamu-tamu lain yang panik karena alarm kebakaran. Saat kami berhasil mencapai halaman depan, aku melihat Adrian berdiri di dekat mobilnya dengan wajah pucat pasi. Begitu melihatku menggendong Miguel di antara kerumunan tamu, dia mencoba mendekat.
“Mika! Syukurlah kamu selamat, ayo masuk ke mobil—”
Wiuuuu… Wiuuuu…
Suara sirene polisi membelah malam. Lima mobil polisi dan satu van tim investigasi langsung mengepung resort. Camille keluar dari salah satu mobil bersama seorang perwira tinggi polisi yang langsung menunjuk ke arah Adrian.
“Adrian Reyes, Anda ditahan atas tuduhan keterlibatan dalam jaringan perdagangan manusia dan prostitusi daring ilegal,” ujar polisi tersebut sambil memborgol tangan Adrian di depan matanya sendiri.
Adrian menatapku dengan tatapan kosong, hancur seketika saat menyadari bahwa seluruh kekayaan, kedok terhormat, dan bisnis rahasia keluarganya telah runtuh dalam waktu satu malam. Jenny, sang resepsionis, juga digiring keluar dengan tangan terikat.
Camille berlari memelukku dan Miguel. “Kamu aman sekarang, Mika. Semuanya sudah berakhir.”
Aku menatap resort megah di belakangku yang kini dipenuhi garis polisi. Tempat yang awalnya kupikir sebagai simbol cinta, ternyata adalah sarang monster. Namun malam ini, siaran langsung mereka telah selesai, dan aku memastikan bahwa tirai penutupnya adalah kehancuran mereka sendiri.