ROOMMATE-KU MEMINUM SAMPEL TESISKU SEHARI SEBELUM SIDANG—DIA MENGIRA BEASISWAKU AKAN HILANG, TAPI DIA TIDAK TAHU APA YANG SEBENARNYA ADA DI DALAM BOTOL ITU
Malam sebelum sidang tesis, teman sekamarku meminum hasil sampel penelitian yang kukerjakan selama empat belas bulan.
Dia bahkan mengirim video ke grup chat asrama sambil mengangkat botol yang sudah kosong.
“Selamat, Andrea. Beasiswa pascasarjana itu sekarang jadi milikku.”
Aku tidak berteriak.
Aku tidak menangis.
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutku justru:
“Berapa banyak yang kamu minum?”
Seluruh grup chat langsung hening.
Bianca Villareal, teman sekamarku yang selalu tersenyum di depan orang lain tetapi gemar menusuk dari belakang saat tidak ada saksi, berkedip ke arah kamera. Mungkin dia mengira aku akan memohon-mohon. Mungkin dia mengira aku akan berlutut karena semua sampel yang kukumpulkan selama lebih dari setahun telah lenyap.
Namun ada satu hal yang tidak dia ketahui.
Isi botol-botol itu bukan yogurt biasa.
Aku adalah mahasiswa magister di Fakultas Ilmu Pangan sebuah universitas besar di Los Baños. Tesisku membahas fermentasi terkontrol kultur probiotik berbasis susu menggunakan susu kerbau lokal. Selama empat belas bulan aku menjaga sampel-sampel itu: batch A5, C9, dan M2.
Setiap hari aku memeriksa suhunya.
Setiap hari aku mencatat perubahan tekstur, tingkat keasaman, dan aktivitas mikroba.
Bagi kebanyakan orang, itu hanya terlihat seperti yogurt biasa.
Bagiku, itulah tesis, beasiswa, dan satu-satunya jalan untuk mengangkat ekonomi keluargaku.
Bianca adalah putri seorang kontraktor kaya di Quezon City.
Cantik, pandai berbicara, dan menjadi favorit beberapa dosen karena selalu tampak meyakinkan meskipun hasil kerjanya biasa saja.
Kami berdua adalah kandidat terakhir untuk satu beasiswa pascasarjana penuh yang mencakup tunjangan bulanan, biaya kuliah, dan dana penelitian.
Hanya satu orang yang akan dipilih.
Dan kami sama-sama tahu bahwa hanya kami berdua yang tersisa dalam seleksi akhir.
Dalam video itu, Bianca mengguncang botol terakhir. Beberapa tetes cairan putih menetes ke meja.
“Lihat, Andrea,” katanya sambil tertawa. “A5, C9, M2. Semuanya sudah masuk ke perutku. Semoga beruntung besok.”
Tiga penghuni asrama lain langsung membalas.
“Bianca, kamu serius?”
“Di mana Andrea?”
“Jangan dibesar-besarkan, besok sidang, kan?”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku menyimpan videonya.
Aku mengambil tangkapan layar label botol, wajah Bianca, dan waktu pengiriman pesan.
Lalu aku membuka buku catatan laboratorium dan menulis:
11:18 malam. Bianca Villareal menghancurkan sampel tesis yang disimpan. Tujuh botol. Pengakuan dalam bentuk video dikirim ke grup asrama.
Bianca tertawa saat melihatku menulis.
“Tulis saja terus. Besok bawa catatan itu sambil menangis di depan panel penguji.”
Aku berdiri dan mengambil tutup botol yang tergeletak di lantai.
Di bagian dalamnya terdapat lapisan tipis kristal berwarna kuning.
Aku memasukkannya ke dalam kantong plastik kecil.
Bianca memperhatikannya.
“Berlebihan sekali. Itu cuma sampel. Rasanya bahkan sudah asam. Anjing pun tidak mau meminumnya.”
Aku menatapnya.
“Sebaiknya kamu ingat kata-katamu itu.”
Untuk pertama kalinya, senyumnya memudar.
Aku keluar dari asrama dan menuju ruang penyimpanan dingin di institut.
Di sanalah seluruh sampel penelitian kami disimpan.
Setiap peneliti memiliki kartu akses sendiri.
Namun untuk freezer yang kugunakan, hanya tiga orang yang memiliki izin:
Aku.
Pembimbingku, Dr. Renato Salazar.
Dan petugas peralatan laboratorium.
Nama Bianca tidak ada dalam daftar.
Tetapi dia mengambil sampel yang tepat.
Dia tidak salah mengambil satu botol pun.
Artinya, ada seseorang yang membuka pintu untuknya.
Ketika aku tiba di ruang penyimpanan, aku menempelkan kartu identitasku.
Sebuah pesan merah muncul di layar kecil:
AKSES SEMENTARA DITANGGUHKAN
Dari belakang, aku mendengar tawa dingin Bianca.
“Tidak bisa masuk?”
Aku tidak menoleh.
Aku langsung menuju kantor petugas peralatan.
Di sana ada Pak Lando, penjaga laboratorium tua yang terkenal galak terhadap mahasiswa yang meminta bantuan di tengah malam.
Begitu melihat kantong plastik di tanganku, dia segera mematikan rokoknya.
“Ada apa lagi?”
“Saya butuh log akses ruang penyimpanan dingin.”
Keningnya berkerut.
“Itu butuh persetujuan dosen.”
“Sampel tesis saya dihancurkan.”
Aku meletakkan tujuh tutup botol di atas meja.
Pak Lando terdiam beberapa saat.
“Siapa?”
“Bianca.”
Sebelum dia menjawab, suara Bianca terdengar dari pintu.
“Silakan dicek. Tidak ada yang hilang. Saya hanya diminta Dr. Salazar mengambil sampel untuk proyek khusus.”
Tangan Pak Lando berhenti di atas keyboard.
“Dr. Salazar?”
Bianca tersenyum, tetapi sudut bibirnya mulai gemetar.
“Iya. Katanya ada keadaan darurat penelitian.”
Aku menutup pintu tepat di depan wajahnya.
Di komputer tua milik Pak Lando muncul catatan akses.
10:47 malam — Akses sementara diberikan kepada Bianca Villareal. Otorisasi: Renato Salazar.
Baris berikutnya:
11:06 malam — Percobaan penghapusan riwayat akses gagal. Akun: rsalazar.
Pak Lando tidak bergerak.
Aku mengeluarkan tiga alat pencatat suhu kecil dari tasku.
Alat murah yang kubeli secara daring beberapa bulan lalu.
Awalnya kupasang karena khawatir terjadi pemadaman listrik.
Tak kusangka ternyata manusia yang harus kuwaspadai.
Saat kami menghubungkannya ke komputer, grafik langsung muncul.
Freezer dibuka tiga kali.
Pembukaan terakhir berlangsung hampir delapan belas menit.
Persis pada waktu Bianca merekam videonya.
Ketika kami membuka pintu kantor, Bianca sudah tidak lagi terlihat percaya diri.
Dia memegang ponselnya erat-erat dan wajahnya pucat.
“Dr. Salazar memanggilmu ke kantornya,” katanya.
Aku mengangguk.
“Kebetulan sekali.”
Kami berjalan menyusuri lorong yang sunyi.
Saat tiba di kantor fakultas, lampu masih menyala.
Dr. Salazar duduk di belakang meja.
Di sana juga ada Ms. Maribel Cruz, koordinator program pascasarjana.
Dr. Salazar bahkan tidak mempersilahkanku duduk.
Dia mendorong selembar dokumen ke hadapanku.
“Tandatangani.”
Aku membaca baris pertama.
Saya, Andrea Molina, mengakui bahwa karena kelalaian saya dalam menangani sampel tesis, seluruh bahan penelitian saya mengalami kerusakan.
Di bawahnya tertulis:
Penundaan sidang tesis.
Evaluasi ulang kelayakan beasiswa.
Diskualifikasi dari nominasi mahasiswa pascasarjana berprestasi.
Aku menoleh ke Bianca.
Dia menatap dokumen itu seolah sedang melihat hadiah kemenangan.
“Andrea,” kata Dr. Salazar, “jangan memperkeruh keadaan. Kita masih bisa menyelesaikannya.”
“Maksud Anda, saya yang harus menanggung semuanya?”
Wajahnya langsung dingin.
“Ini soal disiplin penelitian.”
“Kalau begitu, kenapa Anda memberi akses kepada Bianca?”
Dia tidak menjawab.
Ms. Cruz yang akhirnya berbicara.
“Kita fokus pada solusi praktis dulu. Sidang besok. Departemen tidak menginginkan skandal.”
Saat itulah aku mengerti.
Ini bukan hanya soal beasiswa.
Di belakang Dr. Salazar, pintu lemari arsip sedikit terbuka.
Aku melihat sebuah map proyek.
Kemitraan Penelitian Industri — San Isidro Dairy Corporation.
Di bawahnya tertulis nilai kontrak:
Rp1,5 miliar.
Dr. Salazar mengikuti arah pandanganku lalu buru-buru menutup lemari itu.
“Kamu tidak seharusnya membawa proyek industri ke dalam konflik pribadi kalian.”
“Konflik pribadi?” tanyaku. “Dia meminum sampel penelitian saya.”
Tiba-tiba Bianca menyela terlalu cepat.
“Itu cuma yogurt!”
Aku menatapnya.
“Yakin itu cuma yogurt?”
Dia menelan ludah.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajahnya.
Sebelum Dr. Salazar sempat berbicara, ponselku berbunyi.
Tiga email otomatis baru saja terkirim.
Satu ke Dewan Etika Penelitian Universitas.
Satu ke Kantor Pascasarjana.
Dan satu lagi ke layanan dokumentasi hukum eksternal.
Aku mengangkat layar ponselku.
“Anda terlambat.”
Wajah Dr. Salazar memerah.
“Apa yang sudah kamu lakukan?”

Aku menarik napas panjang.
“Pertanyaan yang seharusnya Anda ajukan, Dok, adalah…”
“Apa sebenarnya yang diminum Bianca?”
Pada saat itu, Bianca langsung memegangi perutnya.
…Wajah Bianca yang semula pucat kini mulai memancarkan keringat dingin. Dia menatapku dengan mata membelalak, menyadari bahwa ketenanganku sejak awal bukan karena keputusasaan, melainkan karena kendali penuh atas situasi ini.
“An-Andrea… apa maksudmu?” suara Bianca bergetar, tangannya meremas kemejanya sendiri. “Itu cuma susu kerbau fermentasi! Aku tahu baunya agak aneh, tapi…”
“Batch M2,” potongku datar, beralih menatap Dr. Salazar yang kini ikut menegang di kursinya. “Dokter pasti tahu betul apa yang sedang kita kembangkan di Batch M2 untuk proyek San Isidro Dairy Corporation, bukan?”
Dr. Salazar berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang. “Andrea! Jangan berani-berani kamu—”
“Batch M2 adalah kultur murni Lactobacillus yang diisolasi dari saluran pencernaan ternak yang terinfeksi akut, yang sedang kita rekayasa genetika untuk fase uji ketahanan asam ekstrem,” jelasku, menatap Bianca yang mulai gemetar hebat. “Cairan di botol itu belum melalui proses pasteurisasi akhir. Itu adalah konsentrat bakteri hidup dalam fase logaritmik, dicampur dengan senyawa indikator kuning metallo-beta-lactamase.”
Aku menunjuk kantong plastik berisi tutup botol di tanganku. “Kristal kuning di tutup botol ini adalah residu zat penanda biologis. Zat itu bersifat toksik jika tertelan dalam dosis murni sebelum dinetralisir. Dan kamu, Bianca… kamu meminum tiga botol penuh dari Batch M2.”
“Kam-kamu bohong! Kamu cuma menakut-nakuti aku agar aku mengaku!” teriak Bianca, namun suaranya melengking panik. Detik itu juga, suara gemuruh terdengar dari dalam perutnya, diikuti oleh rasa mulas yang luar biasa hingga dia terpaksa membungkuk, mencengkeram tepi meja Dr. Salazar.
“Aku tidak perlu berbohong. Data laboratorium tidak pernah berbohong,” ujarku tenang. “Dalam waktu dua jam setelah tertelan, bakteri itu akan berkolonisasi secara agresif di lambungmu. Efek pertamanya adalah kram perut hebat, diikuti muntah dan diare akut yang tidak akan mempan dihambat oleh antibiotik biasa, karena strain itu sengaja kita buat resisten terhadap amoksisilin.”
“Dokter! Tolong aku!” Bianca beralih pada Dr. Salazar, air mata ketakutan kini benar-benar tumpah di pipinya.
Namun, Dr. Salazar tidak lagi memedulikan Bianca. Pria itu menatap layar laptopnya yang terus berbunyi—notifikasi dari Dewan Etika Penelitian Universitas dan Kantor Pascasarjana telah masuk. Email otomatis yang kukirimkan tidak hanya berisi video pengakuan Bianca, tetapi juga log akses ilegal yang melibatkan akun Dr. Salazar, serta grafik manipulasi suhu dari alat perekam independen yang kupasang.
“Andrea,” suara Dr. Salazar mendadak melunak, terdengar putus asa. “Kita bisa bicarakan ini. Beasiswa itu… beasiswa itu pasti milikmu. Saya akan menandatangani rekomendasi tertinggimu malam ini juga. Tolong tarik kembali laporan etika itu. Proyek San Isidro ini… reputasi fakultas taruhannya.”
Aku menatap dosen pembimbingku itu dengan rasa kecewa yang mendalam. Pria yang selama ini kuhormati, ternyata rela menjual integritas akademis demi dana segar Rp1,5 miliar dari industri, dan menggunakan Bianca yang kaya sebagai pion untuk menyingkirkan aku, mahasiswa beasiswa yang dianggap tidak punya kuasa.
“Maaf, Dok. Pintu gerbang etika sudah diketuk, dan sistem universitas tidak bisa membatalkan investigasi yang sudah berjalan,” kataku dingin. “Karier Anda dan masa depan Bianca di universitas ini sudah selesai.”
Tepat setelah kalimat itu terucap, Bianca tidak bisa menahannya lagi. Dia mengerang kesakitan, jatuh terduduk di lantai sambil memegangi perutnya yang kram luar biasa, sebelum akhirnya muntah-muntah di karpet kantor Dr. Salazar. Ms. Cruz yang panik segera berteriak memanggil ambulans.
Di tengah kekacauan itu, aku melangkah mundur, mengambil tas ranselku, dan berjalan menuju pintu.
Keesokan paginya, sidang tesis tetap berjalan. Namun, bukan aku yang diadili, melainkan komite penguji yang mendengarkan presentasiku dengan penuh takjub. Menggunakan sisa sampel cadangan yang kusimpan dengan aman di loker pribadi—sebuah langkah antisipasi yang tidak pernah diketahui Bianca—aku berhasil mempertahankan tesisku dengan predikat Summa Cum Laude.
Saat aku berjalan keluar dari aula sidang dengan surat kelulusan dan kontrak beasiswa penuh pascasarjana di tanganku, aku melihat ambulans dan mobil polisi terparkir di depan gedung rektorat.
Bianca masih di rumah sakit, menghadapi infeksi pencernaan parah sekaligus ancaman Drop Out dan tuntutan hukum atas perusakan properti riset negara. Sementara Dr. Salazar terlihat digiring keluar oleh tim investigasi universitas, wajahnya tertunduk layu.
Mereka mengira bisa mencuri masa depanku dengan segelas susu fermentasi. Mereka tidak pernah tahu, bahwa di dalam laboratorium, ilmu pengetahuan selalu memiliki cara tersendiri untuk menghukum para pencuri.