Posted in

Ketika Rekan Kerjaku Memerintahkanku Mengantar Seluruh Keluarganya ke Kampung Halaman dengan Porsche Milikku, Bahkan Bensin, Tol, dan Starbucks Pun Ingin Aku yang Bayar—Tetapi Dia Tidak Tahu Siapa Pemilik Sebenarnya Perusahaan Itu

Ketika Rekan Kerjaku Memerintahkanku Mengantar Seluruh Keluarganya ke Kampung Halaman dengan Porsche Milikku, Bahkan Bensin, Tol, dan Starbucks Pun Ingin Aku yang Bayar—Tetapi Dia Tidak Tahu Siapa Pemilik Sebenarnya Perusahaan Itu

Tiga hari sebelum libur Natal dimulai, tiba-tiba muncul sebuah “peraturan” baru di grup carpool kantor.

Itu bukan permintaan.

Itu lebih mirip perintah dari seorang ratu.

Dan aku sendiri dipilih menjadi sopir gratis, pengasuh anak, sekaligus pihak yang harus membayar seluruh kebutuhan keluarganya.

Aku sedang berada di lantai empat kantor kami di kawasan bisnis Jakarta ketika notifikasi grup carpool perusahaan berbunyi tanpa henti.

Lebih dari dua ratus karyawan tergabung di sana.

Biasanya grup itu hanya digunakan untuk mencari teman seperjalanan saat pulang ke Bandung, Bogor, Cirebon, Semarang, atau Surabaya ketika libur panjang.

Namun sore itu, Bianca Manalo dari bagian akuntansi mengirim pesan panjang.

“Karena saya akan membawa dua anak saya pulang ke kampung, saya harap pemilik mobil membersihkan kendaraan secara menyeluruh sebelum berangkat. Anak-anak saya sensitif terhadap parfum dan debu.”

Lalu muncul pesan berikutnya.

“Tolong siapkan juga minuman Starbucks, biskuit impor, air mineral kemasan, dan tisu basah. Anak-anak mudah lapar dan saya tidak ingin mereka menangis di perjalanan.”

Aku mengernyit.

Tetapi ternyata itu belum yang terburuk.

“Sebaiknya biaya bensin dan tol juga ditanggung pemilik mobil karena rutenya sama. Dan tolong antar kami sampai ke rumah di desa karena repot naik ojek kalau membawa banyak barang.”

Aku menatap layar beberapa detik.

Aku tidak tahu harus tertawa atau kesal.

Sudah meminta tumpangan gratis, masih ingin mobil dibersihkan, anak-anaknya disediakan makanan impor, bahkan bensin dan tol dibayarkan.

Ini bukan carpool.

Ini jasa sopir pribadi dengan layanan hotel bintang lima.

Kupikir drama sudah selesai.

Namun satu menit kemudian aku menerima permintaan pertemanan dari Bianca.

Begitu kuterima, ia langsung mengirim pesan.

“Alyssa, aku dengar Porsche Panamera-mu masih baru. Kabinnya luas, kan? Pas sekali untuk kami berempat. Jemput kami ke Pampanga hari Jumat. Tolong sediakan juga kasur kecil di belakang supaya anak bungsuku bisa tidur.”

Aku tertawa kecil.

Dia tidak bertanya apakah aku punya rencana.

Tidak bertanya apakah aku sudah membawa penumpang lain.

Bahkan tidak mempertimbangkan bahwa itu mobil pribadiku, bukan bus antar jemput perusahaan.

Jadi aku menjawab langsung.

“Aku tidak punya kasur untuk anak-anak yang dibesarkan seperti pangeran dan putri. Tapi aku punya kontak rumah duka kalau kalian ingin diantar sekaligus tanpa perlu mengeluh soal tol.”

Kurang dari dua menit kemudian, grup utama perusahaan meledak.

Ternyata Bianca mengambil tangkapan layar jawabanku lalu mengunggahnya ke grup bersama keluhan panjang.

“Teman-teman, silakan nilai sendiri. Saya hanya seorang ibu pekerja dengan dua anak. Sangat sulit bepergian saat musim liburan. Saya hanya meminta tumpangan, tapi Alyssa Reyes memperlakukan saya seperti ini.”

“Dia punya mobil mewah, tapi tidak punya hati. Dia bukan hanya menolak saya, dia juga menghina keluarga saya.”

Grup sempat hening beberapa detik.

Lalu para pendukungnya mulai bermunculan.

“Kasihan juga sih, cuma minta bantuan sedikit.”

“Kalau searah, kenapa tidak sekalian mengantar?”

“Baru punya mobil mewah, sudah sombong.”

Bahkan Ramon Villanueva dari HR ikut berkomentar.

“Alyssa, cara bicaramu kurang baik. Kita rekan kerja. Lebih baik kamu minta maaf saja kepada Bianca supaya masalah selesai.”

Aku tersenyum melihat layar.

Bukan karena senang.

Tetapi karena terlihat jelas betapa terbiasanya mereka memaksa orang lain demi menyenangkan Bianca.

Aku pun mulai mengetik.

“Pertama, mobil itu saya beli dengan uang saya sendiri. Itu bukan aset perusahaan. Saya berhak menentukan siapa yang boleh naik.”

“Kedua, carpool adalah saling membantu. Bukan layanan sopir gratis. Anda meminta saya membayar bensin, tol, membersihkan mobil secara menyeluruh, membeli Starbucks, camilan impor, dan mengantar sampai rumah?”

“Ketiga, kalau ingin kendaraan keluarga lengkap dengan kasur dan makanan ringan, silakan sewa transportasi pribadi. Jangan menekan rekan kerja.”

“Dan Pak Ramon, karena Anda sangat baik hati, mungkin Anda bisa meminjamkan Toyota Fortuner Anda kepada Bianca. Sekalian saja Anda yang membayar bensin dan tol. Bukankah rutenya sama?”

Grup langsung sunyi.

Beberapa saat kemudian Bianca membalas.

“Pembohong! Aku tidak pernah bilang kamu harus membayar semuanya! Itu cuma saran!”

Aku langsung mengunggah tangkapan layar pesan aslinya.

Semua ada di sana.

Starbucks.

Biskuit impor.

Kasur.

Pembersihan menyeluruh.

Dan kalimat: “Sebaiknya biaya bensin dan tol ditanggung pemilik mobil.”

Arah angin langsung berubah.

“Oh… ternyata memang berlebihan.”

“Ini carpool atau paket wisata keluarga?”

“Aku saja jarang beli Starbucks untuk diri sendiri.”

“Bianca, yang kamu cari itu sopir pribadi.”

Beberapa menit kemudian Bianca berjalan cepat menuju mejaku.

“Alyssa! Apa masalahmu sebenarnya?” teriaknya.

“Aku cuma memikirkan anak-anakku! Kamu tidak punya rasa empati!”

Aku bersandar di kursi.

“Kalau memang untuk anak-anakmu, sewa mobil. Jangan jadikan gaya hidupmu sebagai tanggung jawab orang lain.”

Wajahnya memerah.

“Kamu baru bekerja di sini kurang dari setahun! Kamu tidak menghormati orang yang lebih tua!”

“Jangan bicara soal hormat saat kamu meminta uang dan fasilitas milik orang lain.”

“Aku akan melaporkanmu ke manajemen!”

Aku menunjuk koridor.

“Kantor General Manager ada di ujung sana. Silakan.”

Dia tidak bisa menjawab.

Sebaliknya, dia tiba-tiba duduk di lantai dan mulai menangis keras.

“Aku dibully! Seorang ibu sedang ditindas!”

Aku mengambil ponsel dan membuka kamera.

“Menangislah lebih keras. Sekalian kita siarkan langsung. Siapa tahu dapat uang transportasi.”

Tangisnya langsung berhenti.

Ia berdiri, merapikan rok, lalu menatapku penuh kebencian.

“Tunggu saja, Alyssa.”

Keesokan harinya, bagian administrasi membagikan paket Natal: ham premium, keju impor, cokelat impor, dan voucher belanja senilai Rp850.000.

Saat aku datang ke meja administrasi, petugas bernama Lea menghindari tatapanku.

“Bu Alyssa… ada masalah.”

“Apa?”

“Paket Natal Ibu sudah diambil Bianca.”

Aku berkedip.

“Kenapa diberikan kepadanya?”

“Dia bilang Ibu punya Porsche, jadi tidak membutuhkan hadiah kecil seperti ini. Katanya anak-anaknya lebih membutuhkan.”

“Lalu voucher belanjanya?”

“Dia juga mengambilnya. Pak Ramon bilang sebaiknya dibiarkan saja supaya tidak terjadi keributan.”

Aku langsung berjalan ke bagian akuntansi.

Di sana Bianca sedang duduk bersama tiga temannya.

Kotak cokelat milikku sudah terbuka.

Voucher belanja ada di tangannya.

Aku menutup kotak itu dengan keras.

“Kembalikan paketku.”

Dia mengangkat alis.

“Berlebihan sekali. Ini cuma ham dan cokelat. Kamu kaya, kan? Kurang makanan?”

“Itu bukan uangmu. Kembalikan voucher itu.”

“Sudah kupakai,” jawabnya sambil tersenyum sinis. “Makanannya juga sudah kami buka. Mau kami muntahkan kembali?”

Saat itu Ramon datang membawa tumbler.

“Ada masalah apa lagi?”

Wajah Bianca langsung berubah menjadi penuh kepolosan.

“Pak, Alyssa mempermalukan saya lagi. Dia menagih uang kepada saya. Padahal dia tahu saya membesarkan dua anak.”

Ramon menatapku seolah aku yang bersalah.

“Alyssa, ini masalah kecil. Belajarlah bertoleransi. Tidak semua hal perlu dibesar-besarkan.”

Aku membuka aplikasi dompet digital lalu menunjukkan kode QR pembayaran.

“Kalau memang masalah kecil, silakan Bapak yang bayar.”

“Rp850.000 untuk voucher belanja.”

“Rp700.000 untuk paket Natal.”

“Total Rp1.550.000.”

“Silakan dipindai, Pak.”

Tangannya tidak bergerak.

Dan sebelum sempat menjawab, pintu departemen akuntansi terbuka.

General Manager masuk bersama penasihat hukum perusahaan dan dua anggota dewan direksi.

Mereka berhenti tepat di belakangku.

Lalu General Manager berkata dengan suara dingin.

“Pak Ramon, jangan sungkan. Silakan bayar kode QR milik Bu Reyes.”

“Karena setelah itu, kita akan membahas kenapa Anda menggunakan jabatan untuk membagikan hak milik karyawan lain.”

Kemudian ia menoleh kepadaku.

“Bu Reyes, ruang rapat sudah siap. Dewan direksi sedang menunggu laporan kepatuhan pertama Anda sebagai Executive Director baru.”

Wajah Bianca langsung pucat.

Tumbler di tangan Ramon terjatuh ke lantai.

Dan untuk pertama kalinya mereka menyadari bahwa aku bukan sekadar karyawan baru biasa.

Suasana di dalam ruangan akuntansi mendadak senyap, seolah-olah seluruh oksigen telah tersedot keluar. Bunyi dentang tumbler Ramon yang menggelinding di lantai terdengar begitu nyaring di tengah keheningan yang mencekam.

Wajah Bianca yang tadinya penuh senyum sinis seketika berubah pucat pasi, persis seperti kertas semen. Tangannya yang memegang voucher belanja milikku mulai gemetar hebat. Di sampingnya, Ramon menelan ludah dengan susah payah, matanya bergerak panik antara aku dan jajaran direksi yang berdiri tegap di belakangku.

“Ex… Executive Director?” bisik Bianca dengan suara yang hampir habis.

Aku merapikan blazerku tenang, lalu menatap General Manager. “Terima kasih, Pak Hendra. Tolong minta tim legal untuk mengamankan seluruh bukti rekaman CCTV di ruangan ini, termasuk tangkapan layar dari grup carpool dan grup utama perusahaan kemarin.”

“Baik, Bu Reyes. Semuanya sudah diproses oleh tim hukum,” jawab Pak Hendra tegas tanpa ragu.

Aku kembali menoleh ke arah Ramon dan Bianca.

“Pak Ramon, sepertinya Anda lupa esensi dari divisi HR. Tugas Anda adalah menegakkan keadilan dan kenyamanan karyawan, bukan menjadi pelindung bagi tindakan egois dan manipulatif,” kataku datar. “Mengizinkan seseorang mengambil hak karyawan lain dengan alasan ‘toleransi’ adalah pelanggaran kode etik berat. Surat penonaktifan Anda akan dikirimkan ke meja Anda sore ini juga, sembari tim audit memeriksa apakah ada penyalahgunaan wewenang lain yang pernah Anda lakukan selama ini.”

“Bu Alyssa, tolong… saya tidak bermaksud—” Ramon mencoba memohon, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

“Penjelasan Anda bisa disampaikan saat sidang komite etik besok,” potongku tanpa emosi.

Pandanganku kemudian beralih kepada Bianca, yang kini tampak seolah ingin ambruk ke lantai. Teman-teman di sekelilingnya yang tadi ikut menertawakanku langsung bergeser menjauh, seolah takut tertular sial.

“Dan untuk Anda, Bianca Manalo,” aku melangkah satu kaki lebih dekat ke mejanya. “Sejak awal, saya tidak pernah mempermasalahkan status Anda sebagai ibu bekerja. Yang saya permasalahkan adalah mentalitas Anda yang merasa dunia berutang pada Anda hanya karena Anda memiliki anak. Anda menyalahgunakan simpati orang lain untuk memeras rekan kerja.”

“Bu Alyssa… saya minta maaf,” isak Bianca, air mata yang kali ini benar-benar murni karena rasa takut mulai mengalir. “Anak-anak saya… saya hanya ingin mereka nyaman…”

“Anak-anak Anda berhak mendapatkan kenyamanan, tetapi bukan dari hasil merampok hak orang lain,” jawabku dingin. “Paket Natal dan voucher itu adalah hak saya sebagai pekerja di perusahaan ini. Anda mengambilnya tanpa izin. Di luar hukum perusahaan, itu sudah masuk ranah tindak pidana pencurian.”

Aku mengambil kembali voucher belanja yang bergetar di tangannya, lalu menunjuk kotak cokelat yang sudah terbuka di meja.

“Karena makanannya sudah Anda sentuh, saya tidak sudi mengambilnya kembali. Sesuai hitungan tadi, Anda berutang Rp1.550.000 kepada saya. Saya beri waktu sampai jam 5 sore ini untuk mentransfernya ke rekening saya. Jika tidak, tim legal perusahaan yang akan mengurus pelaporan pasal pencurian ke kepolisian.”

Bianca hanya bisa mengangguk pasrah sambil terus menangis sesenggukan. Tidak ada lagi drama duduk di lantai atau siaran langsung gratis seperti kemarin.

Aku berbalik, menatap jajaran direksi dan Pak Hendra yang menungguku. “Mari kita ke ruang rapat. Saya tidak ingin drama kekanak-kanakan ini menunda laporan penting kita.”

Sembari berjalan menuju ruang rapat di lantai paling atas, aku mengecek ponselku. Grup utama perusahaan kembali meledak—bukan karena keluhan Bianca, melainkan karena pengumuman resmi dari sekretariat perusahaan mengenai pengangkatanku sebagai Executive Director baru, sekaligus pemilik saham mayoritas yang baru saja mengambil alih kendali perusahaan bulan lalu.

Kolom komentar dipenuhi dengan emoji terkejut dan ucapan selamat. Beberapa pendukung Bianca yang kemarin ikut merundungku di grup berbondong-bondong menghapus pesan mereka, namun sayang bagi mereka, aku sudah menyimpan semua tangkapan layarnya.

Ketika aku melirik ke luar jendela kaca besar dan melihat Porsche Panamera-ku terparkir dengan anggun di area eksekutif, aku tersenyum kecil. Libur Natal kali ini akan terasa sangat tenang. Tanpa kasur di kabin belakang, tanpa biskuit impor, dan yang pasti—tanpa penumpang parasit di dalam perjalananku.