Posted in

Tiga Tahun Aku Membesarkan Anak Kami Sendirian

Tiga Tahun Aku Membesarkan Anak Kami Sendirian

Ketika Mantan Suamiku Kembali di Puncak Kesuksesannya

Satu Dokumen Rahasia Membuat Wajahnya Pucat di Depan Seluruh Kota…

Tiga tahun yang lalu, suamiku meninggalkan kami untuk bergabung dalam sebuah proyek rahasia di luar negeri yang akan berlangsung selama bertahun-tahun.

Saat itu aku sedang hamil tujuh bulan.

Dia tidak memelukku.

Dia tidak bertanya apakah aku takut.

Dia juga tidak bertanya apakah anak kami di dalam kandunganku baik-baik saja.

Sebelum naik ke mobil, hanya satu kalimat yang ia tinggalkan.

— Tunggu aku pulang dengan membawa kesuksesan.

Aku menunggu.

Aku menunggu sambil menahan sakit saat badai menerjang.

Aku menunggu sambil menandatangani sendiri semua dokumen persalinan.

Aku menunggu sambil menggendong anak kami yang demam dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain.

Aku menunggu sampai air mataku habis.

Dan pada akhirnya…

Aku berhenti menunggu.

Tiga tahun berlalu.

Namanya muncul di seluruh berita.

Pria yang dulu menjadi kebanggaan industri itu memimpin sebuah tim riset yang memenangkan penghargaan internasional tertinggi.

Wajahnya terus muncul di televisi.

Dia disebut jenius.

Kebanggaan bangsa.

Pria paling sukses di generasinya.

Pada hari kepulangannya.

Dia berhenti di depan rumah kecilku.

Bersamanya ada seorang asisten wanita muda yang selama beberapa tahun terakhir selalu terlihat di sisinya.

Seluruh jalan dipenuhi kamera.

Sorak-sorai dan tepuk tangan terdengar di mana-mana.

Sementara aku hanya sedang menyiram tanaman di halaman.

Bersama anakku yang berusia dua tahun.

Anakku melihat kerumunan orang itu.

Lalu menunjuk pria yang berdiri di tengah kilatan kamera.

— Mama…

— Siapa pria itu?

Seketika seluruh jalan menjadi sunyi.

Senyum di wajah pria itu membeku.

Dia langsung menatap anak itu.

Wajah mereka sangat mirip.

Mata.

Hidung.

Bahkan cara berdiri mereka.

Namun kenyataan yang paling menyakitkan adalah…

Anaknya sendiri tidak mengenalinya.

Seorang wartawan segera mendekat.

— Pak, apakah itu anak Anda?

— Mengapa dia tidak mengenali Anda?

Wajahnya langsung berubah pucat.

Asisten wanitanya buru-buru maju.

Ia tersenyum tenang.

— Pak Adrian sudah lama pergi.

— Wajar kalau anak itu tidak langsung mengenalinya.

Setelah berbicara.

Ia berdiri di samping Adrian dengan sangat alami.

Sangat dekat.

Seolah merekalah keluarga yang sebenarnya.

Aku melihat tatapan penasaran orang-orang.

Aku juga melihat tangannya yang perlahan memegang lengan baju Adrian.

Gerakan itu terasa begitu akrab.

Aku tidak tahu sejak kapan semuanya dimulai.

Tetapi wanita yang berdiri di sampingnya sekarang bukan lagi aku.

Adrian Santos akhirnya mendapatkan kembali sedikit kepercayaan dirinya.

Dia menatapku.

Ada nada menyalahkan di matanya.

— Mari kita bicara di dalam.

— Jangan membuat ini menjadi bahan malu di depan media.

Aku tertawa kecil.

Malu?

Dia pria yang meninggalkan istrinya saat sedang hamil.

Dia pria yang tidak bisa dihubungi saat anaknya sakit.

Dia pria yang kembali bersama wanita lain.

Dan aku yang dianggap memalukan?

Aku mengangkat anakku.

Lalu menjawab dengan tenang.

— Rumahku tidak menerima tamu.

Wajahnya langsung mengeras.

— Apa sebenarnya yang masih kamu sesalkan?

— Semua yang kulakukan ini demi masa depan keluarga kita.

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Aku tidak lagi merasakan sakit.

Yang tersisa hanya rasa asing.

Seolah dia adalah orang yang tidak pernah kukenal.

Tiba-tiba anakku memeluk leherku.

Lalu bertanya dengan polos.

— Mama…

— Apakah dia pria yang ada di foto lama yang Mama simpan di laci?

Semua orang terdiam.

Termasuk Adrian.

Namun kalimat berikutnya dari anak itu membuat seluruh suasana benar-benar membeku.

Anak itu menatapnya lama.

Lalu bertanya perlahan.

— Apakah dia pria yang selalu membuat Mama menangis?

Udara seakan berhenti bergerak.

Wajah Adrian memucat.

Bahkan asistennya, Vanessa, tidak mampu berkata apa-apa.

Orang-orang mulai berbisik.

Dan tepat pada saat itu…

Sebuah mobil hitam mewah perlahan berhenti di depan rumah.

Pintunya terbuka.

Seorang gadis kecil berusia sekitar empat tahun turun lebih dulu.

Begitu melihatku.

Ia langsung berlari menghampiri.

— Mama!

Suaranya menggema di tengah keheningan.

Semua orang tercengang.

Termasuk aku.

Karena…

Aku belum pernah melihat anak itu sebelumnya.

Ia memeluk kakiku erat-erat.

Matanya sembab karena menangis.

— Mama…

— Akhirnya aku menemukan Mama…

Di belakangnya.

Seorang wanita tua perlahan turun dari mobil.

Di tangannya terdapat sebuah map tebal.

Begitu melihat Adrian.

Matanya langsung memerah.

Dengan tangan gemetar ia membuka map tersebut.

— Kau tidak perlu mencari istrimu lagi.

— Sebelum kita membicarakan soal keluarga…

— Mungkin lebih baik kau menjelaskan kepada semua orang mengapa tiga tahun yang lalu kau menandatangani dokumen yang menolak keberadaan anakmu yang lain.

Tempat itu seakan meledak oleh keterkejutan.

Dan Adrian Santos…

Dalam sekejap.

Seluruh warna di wajahnya lenyap…

Bagian selanjutnya dari cerita ini ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca kisah lengkapnya…

Wajah Adrian yang tadinya memucat kini berubah menjadi seputih kertas. Map tebal di tangan wanita tua itu—yang tak lain adalah Ibu sekertaris komite riset nasional yang mendanai proyek Adrian—terbuka lebar di hadapan kilatan kamera wartawan yang mendadak menggila.

“D-Dokumen apa itu?!” Adrian terbata, mencoba merebut map tersebut, namun asistennya, Vanessa, menahan lengannya dengan panik. Media tidak boleh melihat noda sekecil apa pun pada sang pahlawan nasional.

Namun, wanita tua itu justru membalikkan halaman dokumen tersebut ke arah kerumunan jurnalis. Sebuah surat pernyataan bermeterai dengan tanda tangan Adrian terpampang jelas.

“Tiga tahun lalu, demi mendapatkan beasiswa penuh dan status lajang yang disyaratkan oleh sponsor utama proyek elit di luar negeri, Adrian Santos secara resmi menandatangani dokumen ini,” suara wanita tua itu menggema, memotong keheningan. “Dia menyatakan tidak memiliki ikatan pernikahan yang sah dan melepaskan hak asuh atas anak kandung dari pernikahan sebelumnya—gadis kecil ini, yang sengaja dia sembunyikan di panti asuhan luar kota agar tidak merusak reputasinya!”

Bisik-bisik massal langsung pecah. Gadis kecil berusia empat tahun yang memeluk kakiku itu mendongak, air matanya berlinang. “Tante… Papa bilang, ibuku sudah meninggal. Tapi sebelum Nenek ini membawaku ke sini, aku menemukan foto Tante di laci Papa. Papa bilang Tante adalah Mama baruku yang menolak menerimaku… tapi aku tahu Papa bohong! Papa yang membuangku!”

Hatiku mencelos. Aku menatap gadis kecil itu, lalu beralih pada Adrian dengan rasa muak yang tak terbendung. Adrian tidak hanya meninggalkanku saat hamil demi karier. Jauh sebelum menikahiku, dia ternyata sudah memiliki anak dari hubungan masa lalunya, membuang darah dagingnya sendiri, dan mengambinghitamkanku atas semua kekejamannya.

“Adrian…” suara Vanessa bergetar, dia melangkah mundur, perlahan melepaskan pegangannya dari lengan Adrian. Sebagai asisten yang ambisius, dia tahu kapal yang ditumpanginya ini baru saja menabrak gunung es.

“Itu fitnah! Dokumen itu palsu!” teriak Adrian histeris, menunjuk wanita tua itu. “Aku melakukan semua riset ini untuk negara! Kalian tidak bisa menghancurkanku hanya karena masalah domestik!”

“Masalah domestik?” Aku melangkah maju, menggandeng anak laki-lakiku di tangan kanan, dan menuntun gadis kecil yang malang itu di tangan kiriku. Aku menatap lurus ke mata pria yang pernah kucintai itu.

“Tiga tahun lalu, kamu pergi dengan kalimat ‘tunggu aku membawa kesuksesan’. Hari ini kamu pulang membawa kesuksesan itu di atas penderitaan dua anak tak berdosa,” kataku, suaraku tenang namun tajam menghujam. “Kamu takut rahasiamu terbongkar jika masuk ke rumahku, bukan? Kamu takut media tahu bahwa kejeniusan yang mereka agungkan dibangun di atas kebohongan besar.”

Aku menoleh ke arah para wartawan yang kameranya kini terus membidik wajah Adrian yang dipenuhi keringat dingin.

“Ambil foto ini dengan jelas,” kataku pada media. “Pria di depan kalian bukan kebanggaan bangsa. Dia hanya seorang pengecut yang menukar darah dagingnya demi piala berlapis emas.”

Hari itu, di depan seluruh kota, kejayaan Adrian Santos runtuh dalam hitungan menit. Sponsor mencabut seluruh dana risetnya, penghargaan internasionalnya ditinjau ulang, dan Vanessa langsung mengundurkan diri demi menyelamatkan kariernya sendiri.

Adrian berlutut di aspal, dikerumuni wartawan yang kini mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan tajam, ditinggalkan sendirian di puncak kejatuhannya.

Aku berbalik, membawa kedua anak itu masuk ke dalam rumah kecilku yang damai, dan menutup pintu rapat-rapat. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tahu badai telah benar-benar berlalu, dan kami siap memulai hidup yang baru.