Posted in

BARU KEMARIN MENIKAH, HARI INI AKU DITAMPAR — TAPI YANG LEBIH PARAH, TERNYATA DIA SUDAH PUNYA ISTRI LAIN

BARU KEMARIN MENIKAH, HARI INI AKU DITAMPAR — TAPI YANG LEBIH PARAH, TERNYATA DIA SUDAH PUNYA ISTRI LAIN

Baru hari kedua setelah pernikahan kami, ibu mertuaku sudah membangunkanku bahkan sebelum matahari terbit.

— Maria, bangun. Sebentar lagi ada kerabat suamimu yang datang. Mulailah memasak.

Aku perlahan membuka mata.

Baru pukul 05.40 pagi.

Di sampingku, Arvin Santos masih tidur pulas dengan selimut menutupi kepalanya, sama sekali tidak peduli dengan keributan di luar.

Tadi malam, pesta minum dan karaoke keluarganya baru selesai hampir pukul dua dini hari, dan akulah yang membersihkan semuanya sampai tanganku gemetar karena kelelahan.

Aku menepuk bahunya pelan.

— Sayang… Ibumu memanggilku. Katanya aku harus memasak.

Keningnya berkerut, tetapi ia bahkan tidak membuka mata.

— Ya sudah, pergi saja. Itu memang tugasmu.

Jawaban sederhana.

Namun rasanya seperti tamparan.

Aku tidak berkata apa-apa lagi dan diam-diam bangkit dari tempat tidur.

Saat membuka pintu, aku melihat Lilia Santos berdiri dengan tangan di pinggang dan wajah kesal.

— Lama sekali! Sebentar lagi tamu datang. Ada sepuluh orang. Apa lagi yang kamu tunggu?

Aku langsung menuju dapur.

Di sana aku hampir putus asa.

Tumpukan piring kotor menggunung.

Lemak menempel di mana-mana.

Bau amis memenuhi ruangan.

Tak seorang pun mencuci.

Tak seorang pun membantu.

Semuanya ditinggalkan untukku.

Aku menghampiri ibu mertuaku.

— Bu, semuanya masih kotor.

Ia menjawab tanpa ragu.

— Ya cuci saja! Setelah itu masak!

— Kamu kan menantu baru di rumah ini. Masa tidak bisa?

Aku terdiam sejenak sebelum kembali ke dapur.

Baiklah.

Aku akan melakukannya.

Bukan karena aku seorang pembantu.

Tetapi karena aku ingin melihat sejauh mana mereka akan bertindak.

Tiga jam berlalu.

Punggungku basah oleh keringat.

Tanganku memerah karena terlalu lama mencuci.

Dapur begitu panas dan minyak berkali-kali memercik ke kulitku.

Tetapi akhirnya aku menyelesaikan sepuluh hidangan.

Adobo.

Sinigang.

Pancit.

Ikan goreng.

Babi panggang.

Dan berbagai menu lainnya.

Saat aku keluar, meja makan sudah siap.

Sementara itu, seluruh keluarga sedang asyik mengobrol di ruang tamu.

Jason Santos berbaring di sofa dengan kaki di atas meja sambil bermain ponsel.

Ia bahkan tidak melirik ke arahku.

— Aku lapar.

Katanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

— Kak, tolong ambilkan nasi untukku.

Aku berhenti.

Masih memegang semangkuk sup panas yang mengepul.

Aku menatapnya.

Usianya dua puluh empat tahun.

Tidak bekerja.

Masih bergantung pada keluarganya.

Tetapi ia merasa wajar menyuruhku.

Aku mengusap tanganku dan berkata dengan tenang.

— Berdiri sendiri. Ambil sendiri.

Ruang tamu langsung sunyi.

Ibu mertuaku berdiri.

— Apa yang kamu katakan?

Rica Santos menyeringai.

— Wah, baru datang sudah berani melawan ya.

Jason akhirnya menoleh dengan wajah kesal.

— Apa masalahmu?

— Aku cuma minta ambilkan nasi.

Aku menatapnya lurus.

— Aku memasak selama tiga jam.

— Kamu tidak bisa bangun sendiri?

Ibu mertuaku langsung berteriak marah.

— Sebagai kakak iparnya, sudah tugasmu melayaninya!

Untuk pertama kalinya aku tertawa.

Karena semuanya benar-benar terasa konyol.

— Tugas?

Tiba-tiba terdengar suara keras.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di wajahku.

Aku terhuyung ke belakang dan hampir menjatuhkan sup panas yang kubawa.

Telingaku berdenging.

Pipiku terasa panas.

Perlahan aku mengangkat kepala.

Arvin berdiri di depanku dengan tatapan dingin.

— Kamu tidak punya rasa hormat.

Katanya perlahan.

— Keluargaku sedang menasihatimu, tapi kamu malah membantah.

— Memangnya kamu pikir siapa dirimu?

Semua orang diam.

Tak seorang pun membelaku.

Tak satu kata pun.

Jason bahkan tersenyum puas.

— Nah begitu. Ajari dia.

Aku tidak menangis.

Aku juga tidak berbicara.

Aku hanya menatap sup panas di tanganku.

Sup yang menjadi simbol tiga jam kerja keras dan kesabaranku.

Lalu aku sadar.

Jika hari ini aku tidak melawan…

Aku akan diinjak seumur hidup.

Aku menatap Arvin.

Pria yang baru kemarin berjanji di altar.

Dan hari ini menamparku di depan seluruh keluarganya.

Aku tersenyum.

Perlahan.

Dingin.

Lalu—

Byur!

Aku menyiramkan seluruh sup panas itu ke kepalanya.

— AAAAHHH!!

Arvin menjerit kesakitan dan jatuh berlutut.

Semua orang membeku.

Ibu mertuaku berteriak histeris.

Ponsel Jason terjatuh dari tangannya.

Rica hanya bisa melongo seolah dunia berhenti berputar.

Aku meletakkan mangkuk kosong itu.

Mengusap kedua tanganku.

Lalu menatap mereka satu per satu.

Suaraku pelan.

Tetapi setiap kata terasa tajam.

— Jika ada yang berani menyakitiku lagi…

Aku berhenti sejenak dan menatap Arvin yang menggeliat kesakitan di lantai.

— …lain kali bukan sup yang akan kugunakan.

Tak seorang pun bergerak.

Tak seorang pun berbicara.

Mereka semua terdiam.

Saat itulah ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

Aku membukanya.

Dan kata-kata di layar membuat jantungku hampir berhenti berdetak.

“Selamat atas pernikahanmu. Tapi tahukah kamu bahwa suamimu sudah memiliki istri?”

Pesan kedua langsung menyusul.

Berisi foto sebuah akta nikah.

Nama: Arvin Santos

Pasangan: Clara Reyes

Tanggal pernikahan:

Tiga bulan sebelum ia menikah denganku.

Di belakangku, keluarganya masih panik.

Ibu mertuaku berteriak.

Arvin mengaduh kesakitan.

Namun aku hanya berdiri diam.

Menatap layar ponsel.

Dan untuk pertama kalinya aku memahami semuanya.

Pernikahan ini bukan sekadar kesalahan.

Ini adalah penipuan besar.

Aku perlahan tersenyum.

Dan kali ini, aku tidak akan hanya mengajukan perceraian.

Seseorang harus membayar atas semua ini.

Aku menghapus sisa air sup yang memercik ke lenganku dengan tenang, lalu melangkah mundur menjauh dari kegaduhan di ruang tamu. Arvin masih mengerang di lantai sementara ibunya sibuk menyiramkan air dingin ke kepalanya, memaki-makiku dengan sumpah serapah yang sudah tidak kudengar lagi.

Aku menatap layar ponselku sekali lagi. Foto akta nikah itu sangat jelas. Stempel resminya, tanda tangan Arvin, dan nama wanita itu: Clara Reyes.

Aku langsung menekan nomor tak dikenal itu dan meneleponnya balik. Hanya dalam dua dering, suara seorang wanita yang terdengar lelah namun tegas menyahut di ujung telepon.

— Halo?

— Saya Maria, kata ku langsung pada inti persoalan. — Siapa kamu sebenarnya?

Wanita di seberang sana menghela napas panjang, terdengar suara isak tangis yang tertahan.

— Aku Clara. Istri sah Arvin. Kami menikah tiga bulan lalu di kota asalku. Dia meninggalkanku setelah menghabiskan seluruh tabunganku untuk membayar utang-utang judi keluarganya. Aku baru tahu kemarin dari media sosial kalau dia menikahimu… demi uang mahar dan aset keluargamu, Maria. Mereka merencanakan ini semua.

Darahku mendidih, tetapi otakku mendadak bekerja dengan sangat jernih. Jadi ini alasan mengapa bajingan ini begitu terburu-buru mengajakku menikah, dan mengapa keluarganya memperlakukanku seperti pembantu yang tidak berharga. Baginya, aku hanyalah mesin uang baru untuk menutupi borok keluarga mereka.

Aku melirik ke arah ruang tamu. Arvin sudah berdiri dengan wajah memerah akibat kulit yang melepuh, matanya menyalang penuh amarah menatapku.

— Kamu wanita gila! Kamu akan membusuk di penjara karena menyerangku! teriak Arvin sambil melangkah pincang ke arahku, tangannya bersiap untuk memukulku lagi.

— Maju satu langkah lagi, Arvin, dan aku pastikan kamu tidak akan hanya kehilangan kulit wajahmu, tetapi juga kebebasanmu, kataku dengan nada yang begitu dingin hingga membuatnya tertegun di tempat.

Aku menyalakan pengeras suara ponselku agar seluruh isi rumah bisa mendengar suara Clara.

Kebohongan yang Terbongkar

— Clara, katakan sekali lagi di depan pria ini dan ibunya, kapan kalian menikah? tanyaku lantang.

Dari pengeras suara, suara Clara menggema memenuhi ruangan, tegas tanpa ragu.

“Kami menikah secara sah pada tanggal 12 Maret tahun ini di Kantor Catatan Sipil Bulacan. Arvin Santos, kamu melakukan poliandri dan pemalsuan dokumen status lajang untuk menikahi Maria! Aku sudah melaporkanmu ke pihak kepolisian pagi ini!”

Mendengar suara Clara, wajah Arvin yang tadinya merah padam langsung berubah pucat pasi seketika. Ibu mertuaku, Lilia, yang tadinya sibuk memaki, mendadak membeku dengan mulut teranga. Jason dan Rica saling berpandangan dengan wajah ketakutan.

Mereka mengira rahasia ini akan tersimpan rapat sampai mereka berhasil menguras seluruh hartaku. Mereka tidak menyangka bahwa bom waktu ini akan meledak di hari kedua pernikahan.

— M-Maria… itu tidak benar! Itu wanita gila yang terobsesi padaku! Arvin mencoba gagap membela diri, namun keringat dingin yang mengucur di dahinya tidak bisa berbohong.

— Oh ya? Aku membalikkan layar ponselku, memperlihatkan foto akta nikah mereka yang terpampang jelas. — Lalu ini apa? Apakah tanda tangan dan sidik jarimu di dokumen resmi ini juga palsu?

Pembalasan yang Sempurna

Aku tidak membuang waktu untuk menangis atau meratapi nasibku. Aku adalah seorang wanita yang mandiri, dan mereka telah salah memilih lawan. Aku berjalan ke kamar, mengambil tas genggamku yang berisi dokumen penting dan pasporku, lalu kembali ke ruang tamu.

Aku menatap mereka satu per satu dengan senyuman meremehkan.

  • Untuk Ibu Mertuaku dan Jason: “Kalian ingin pelayan yang memasak dan mencuci untuk sepuluh orang? Silakan lakukan sendiri mulai hari ini. Dan nikmatilah rumah ini selagi bisa, karena uang muka apartemen ini berasal dari rekeningku, dan aku akan menariknya kembali hari ini juga.”
  • Untuk Arvin: “Pernikahan kita batal demi hukum. Kamu bukan hanya seorang pengecut yang hobi memukul wanita, tetapi kamu adalah seorang kriminal.”

Tepat setelah aku menyelesaikan kalimatku, terdengar suara sirine mobil polisi yang berhenti tepat di depan halaman rumah. Pintu depan diketuk dengan keras oleh beberapa petugas berseragam.

Clara tidak berbohong. Dia benar-benar telah mengirim polisi bersama tim kuasa hukumku yang sudah kuhubungi lewat pesan singkat sejak lima menit lalu.

Langkah Menuju Kebebasan

Petugas polisi masuk dan langsung memborgol kedua tangan Arvin atas tuduhan penipuan berat, pemalsuan dokumen publik, dan tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) berdasarkan luka memar di pipiku serta bekas sup panas di tubuhnya.

Lilia Santos menangis histeris, berlutut di lantai memohon agar aku mencabut laporan, sementara Jason dan Rica hanya bisa mematung meratapi kehancuran instan keluarga mereka.

Aku berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun. Di luar, matahari pagi mulai bersinar terang. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar yang bebas. Hari kedua pernikahan ini tidak berakhir dengan kehancuranku, melainkan menjadi hari di mana aku menghancurkan kawanan parasit yang mencoba memanfaatkan hidupku.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.