Aku Hamil, Tapi Suamiku Meninggalkanku di Tengah Jalan Demi Mendatangi Wanita yang Selalu Dicintainya—Dia Tidak Tahu, Itu Adalah Terakhir Kalinya Aku Menyebutnya Milikku**
Setelah pulang dari St. Luke’s BGC, Isabela Alcantara segera menyembunyikan hasil pemeriksaannya di bawah kotak perhiasan lama.
Rafael Villareal belum tahu bahwa ia sedang hamil.
Dan yang lebih tidak diketahuinya lagi, sebelum perut Isabela mulai membesar, Isabela sudah akan meninggalkan rumah itu—membawa anak yang tidak akan lagi ia perjuangkan di hadapan pria yang hatinya telah dimiliki orang lain.
Dengan tenang ia membuka walk-in closet. Satu per satu ia mengeluarkan pakaian, tas, dan dokumen yang harus dibawanya. Blus longgar, sepatu datar, rekam medis, paspor, dokumen bank—semuanya ia susun ke dalam koper-koper kecil.
Ia harus pergi selagi masih bisa bergerak tanpa menimbulkan kecurigaan.
Saat sedang melipat pakaian, pintu terbuka.
Rafael masuk, masih mengenakan setelan abu-abu gelap dari kantor. Ia berhenti ketika melihat pakaian yang berserakan di atas tempat tidur.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya dingin.
Isabela bahkan tidak menoleh.
“Pergantian musim. Aku hanya sedang merapikan pakaian yang akan kupakai.”
Rafael menatapnya. Ada kecurigaan di matanya.
“Aku perhatikan,” katanya, “akhir-akhir ini kamu selalu memakai pakaian longgar.”
Tangan Isabela yang memegang blus sedikit menegang. Namun ia segera tersenyum.
“Gaya santai sedang tren sekarang. Kamu tidak tahu?”
Sebelum Rafael sempat menjawab, kepala pelayan datang membawa sebuah kotak besar.
“Tuan, gaun edisi terbatas yang Anda pesan dari Paris sudah tiba.”
Kotak itu dibuka.
Sebuah gaun mermaid berwarna perak muncul, penuh kristal kecil yang berkilau seperti bintang. Indah. Mahal. Eksklusif.
Rafael memberikannya kepada Isabela.
“Itu untukmu. Besok ada gala bisnis di Makati. Kamu ikut denganku.”
Isabela memandang gaun itu.
Kalau dulu, mungkin hatinya sudah berdebar bahagia. Mungkin ia akan menulis di buku hariannya bahwa akhirnya suaminya mengingat dirinya.
Tetapi sekarang, ia tidak merasakan apa-apa.
Gaun itu tidak lagi cocok untuknya.
Bukan karena ukurannya tidak muat.
Melainkan karena ia sudah tidak cocok lagi dengan dunia itu.
Tiba-tiba pintu kembali terbuka.
Masuklah Celine Fajardo, wanita yang selama bertahun-tahun tinggal di antara dirinya dan suaminya meskipun tidak pernah duduk semeja dengan mereka.
Begitu melihat gaun itu, matanya langsung berbinar.
“Ya Tuhan, Rafael… ini Starfall Collection? Aku sudah lama menginginkannya, tapi katanya sudah habis terjual di seluruh Asia.”
Rafael tidak mengatakan apa pun.
Maka Isabela yang menyerahkan kotak itu.
“Kalau kamu suka, ambillah.”
Celine terkejut, tetapi langsung memeluk gaun itu.
“Benarkah? Tapi ini hadiah Rafa untukmu. Rasanya tidak pantas…”
Namun tangannya justru semakin erat memegang kotak tersebut.
Isabela hanya tersenyum.
“Tidak masalah.”
Karena bahkan Rafael pun akan ia serahkan.
Apalagi hanya sebuah gaun.
Kemudian ia menoleh kepada Rafael.
“Aku tidak bisa datang besok. Ada urusan yang harus kuurus. Ajak saja Celine.”
Rafael menatapnya tajam.
Seolah baru kali ini ia menyadari bahwa Isabela tidak lagi marah, tidak lagi bertanya, dan tidak lagi cemburu.
Dan terkadang, wanita yang diam jauh lebih menakutkan daripada wanita yang menangis.
Malam berikutnya, Isabela tetap berada di kamar. Namun karena wanita hamil mudah lapar, ketika semua pelayan sudah tidur, ia turun ke dapur untuk membuat semangkuk mi hangat.
Baru saja ia meletakkan mangkuk di atas meja ketika mendengar suara mesin mobil di luar.
Rafael dan Celine telah pulang.
Melalui dinding kaca besar, ia melihat semuanya dengan jelas.
Pintu Maybach hitam terbuka.
Celine membantu Rafael yang mabuk keluar dari mobil. Ia mengenakan gaun yang seharusnya menjadi milik Isabela.
Baru beberapa langkah berjalan, Celine terpeleset di atas batu. Tubuh mereka berdua hampir jatuh. Wajah Celine berada sangat dekat dengan bibir Rafael.
Hanya berjarak sekitar dua sentimeter.
Wajah Celine memerah. Ia mengalihkan pandangan.
Isabela mengira mereka akan saling berciuman.
Namun Rafael justru mendorong Celine menjauh.
Ia masuk ke gerbang, tetapi tiba-tiba Celine memeluknya dari belakang.
“Rafa…” suaranya bergetar. “Aku hanya ingin tahu… selama bertahun-tahun aku pergi, apakah kamu pernah mengingatku?”
Hening cukup lama.
Lalu hanya satu kata yang keluar dari mulut Rafael.
“Tidak.”
Wajah Celine langsung runtuh.
“Maaf. Rupanya hanya aku yang berkhayal.”
Ia hendak pergi ketika Rafael tiba-tiba menariknya kembali ke dalam pelukan.
“Bukan hanya sesaat,” bisiknya serak.
“Melainkan setiap detik.”
“Di mana pun aku berada… bersama siapa pun aku berada… kamulah yang selalu ada di pikiranku.”
Di dalam rumah, Isabela tertawa sampai air matanya mengalir.
Jadi itulah alasannya.
Meski sudah menjadi istrinya, ia tetap hanya seorang tamu di hati Rafael.
Tak lama kemudian, ia naik ke kamar.
Saat Rafael masuk, ia mendapati Isabela sedang duduk di depan wadah api kecil, membakar sebuah buku harian berwarna merah muda.
Rafael mengenalinya.
Itu adalah buku harian pernikahan mereka.
Dulu ia pernah membacanya tanpa sengaja.
“Aku pikir tidak ada cinta dalam pernikahan yang dijodohkan. Tapi kenapa aku selalu berdebar saat melihatnya tersenyum?”
“Hari ini dia memanggilku Bella. Rasanya begitu manis.”
“Aku mencintai Rafael Villareal. Sangat mencintainya.”
Sekarang semua halaman itu dilahap api satu per satu.
“Mengapa kamu membakarnya?” tanya Rafael.
Isabela tersenyum tanpa emosi.
“Sudah berjamur. Hanya membuang tempat.”
Malam itu, Rafael mencoba memeluknya seperti biasa.
Namun Isabela diam-diam menjauh.
Dan untuk pertama kalinya, mereka tidur berdampingan seperti dua orang asing.
Hari Minggu tiba—jamuan makan siang bulanan keluarga Villareal di mansion lama mereka di Forbes Park.
Isabela duduk diam di kursi penumpang.
Ia tidak lagi cerewet. Tidak lagi bertanya apakah lipstiknya cocok. Tidak lagi menggenggam tangan Rafael.
Mereka hampir tiba di mansion ketika ponsel Rafael berdering.
Celine menangis di seberang telepon.
“Rafa… sepertinya kakiku terkilir. Sakit sekali…”
Wajah Rafael langsung berubah.
“Jangan bergerak. Aku akan datang.”
Ia menghentikan mobil.
Lalu menoleh kepada Isabela.
“Kita sudah dekat. Tinggal beberapa kilometer lagi. Jalan saja sendiri.”
Isabela menatapnya.
“Kamu tahu ini hari yang penting. Seluruh keluargamu ada di sana. Walaupun kamu tidak mencintaiku, setidaknya hari ini hormatilah aku.”
Rafael mengerutkan kening.
“Kami hanya teman.”
“Kalau itu hanya kaki terkilir, yang dia butuhkan adalah dokter. Bukan kamu.”
Suara Rafael menjadi dingin.
“Turun.”
Ia membuka pintu di sisi Isabela.

Saat menarik tas Isabela, sebuah amplop putih jatuh ke lantai mobil.
Sebuah foto USG kecil meluncur hingga ke bawah sepatu Rafael.
Dan di sana tertulis dengan jelas:
**Hamil enam minggu.**
Rafael membeku. Matanya terpaku pada kertas termal hitam-putih yang tergeletak di dekat sepatunya. Bayangan kecil berbentuk kacang di dalam lingkaran rahim itu seolah menampar kesadarannya.
Ia mengambil foto itu dengan tangan yang mendadak bergetar. “Bella… ini…?”
Ponsel di genggamannya masih menyala, suara isakan Celine terdengar memanggil-manggil namanya dari seberang saluran, namun Rafael tidak lagi mendengarnya. Dunianya mendadak menyempit hanya pada kertas di tangannya dan wanita yang duduk di sampingnya.
Isabela tidak merebut foto itu kembali. Ia hanya menatap lurus ke depan, ke hamparan aspal jalanan Forbes Park yang sepi dan gersang di bawah terik matahari.
“Ya, aku hamil,” kata Isabela, suaranya seringan angin lalu. “Tapi itu tidak ada hubungannya denganmu lagi.”
“Apa maksudmu tidak ada hubungannya denganku?!” Suara Rafael meninggi, bercampur antara keterkejutan, rasa bersalah, dan kepanikan yang tiba-tiba menyerang dadanya. “Aku ayahnya, Bella! Mengapa kamu menyembunyikan ini dariku? Mengapa kamu membakar buku harian itu? Mengapa—”
“Mengapa?” Isabela akhirnya menoleh, menatap Rafael dengan sepasang mata yang benar-benar kosong. Tidak ada kemarahan, tidak ada dendam. Dan bagi Rafael, kekosongan itu jauh lebih menyakitkan daripada makian. “Karena anak ini milikku. Hanya milikku. Sejak malam di dapur, saat kamu mengatakan kepada Celine bahwa dia ada di pikiranmu setiap detik, bersamamu siapa pun kamu berada… saat itulah aku tahu, anak ini tidak punya ayah.”
Wajah Rafael memucat. Rahangnya mengeras saat menyadari bahwa kata-katanya malam itu telah didengar oleh istrinya.
“Bella, aku… malam itu aku mabuk. Celine hanya masa lalu, aku—”
Bzzz… Bzzz… Ponsel Rafael kembali bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama Celine yang melakukan panggilan ulang.
Isabela melirik ponsel itu, lalu tersenyum tipis. “Dia membutuhkanmu, Rafael. Pergilah. Temui wanita yang selalu kamu cintai setiap detik dalam hidupmu.”
“Bella, dengar dulu—”
“Aku bilang turunkan aku, Rafael Villareal.” Nada suara Isabela mendingin, penuh penekanan yang tak terbantahkan.
Sebelum Rafael sempat mengunci pintu otomatis, Isabela sudah membuka pintu mobil. Ia meraih tasnya, mengambil amplop foto USG dari tangan Rafael yang masih mematung, lalu melangkah keluar ke pinggir jalan.
Rafael ikut turun dari mobil, mencoba mengejarnya. “Isabela! Masuk ke mobil! Kita bicarakan ini di rumah. Aku tidak akan pergi menemui Celine, kita ke rumah Ibu sekarang!”
Isabela berbalik, mengangkat satu tangannya untuk menghentikan langkah Rafael. Jarak mereka hanya dua meter, namun rasanya seperti terpisahkan oleh jurang yang tak berdasar.
“Jangan melangkah lebih dekat,” ancam Isabela dengan suara tenang namun tajam. “Jika kamu mengejarku, aku bersumpah demi nyawa anak ini, kamu tidak akan pernah melihat wajah kami lagi seumur hidupmu.”
Rafael menghentikan langkahnya. Pria yang biasanya selalu berkuasa dan ditakuti di dunia bisnis itu kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya di pinggir jalan tol.
“Hari ini, di jalan ini,” kata Isabela sambil menatap Rafael untuk terakhir kalinya, “adalah akhir dari pernikahan kita. Aku melepaskanmu, Rafael. Sepenuhnya. Kembalilah pada Celine, atau pergilah ke mana pun hatimu berada. Tapi jangan pernah cari aku lagi.”
Sebuah taksi kosong kebetulan melintas. Isabela mengangkat tangannya, menghentikan taksi tersebut, dan masuk ke kursi belakang tanpa menoleh lagi.
Rafael hanya bisa berdiri terpaku di samping mobil Maybach-nya, memandangi taksi yang membawa istrinya—dan anaknya—pergi menjauh hingga menghilang di tikungan jalan. Ponsel di sakunya masih terus berdering, namun panggilan dari Celine itu kini terdengar seperti lonceng kematian bagi masa depannya.
Tiga tahun kemudian.
Bandara Internasional Ninoy Aquino riuh rendah oleh para penumpang. Rafael Villareal berjalan membelah kerumunan dengan langkah tergesa, bersiap untuk penerbangan bisnisnya ke Singapura.
Tiga tahun ini mengubahnya. Wajahnya tampak lebih tua, matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam. Pernikahannya dengan Isabela telah resmi berakhir dua tahun lalu secara hukum, setelah Isabela mengirimkan dokumen perceraian melalui pengacara tanpa pernah menampakkan batang hidungnya. Rafael tidak pernah menikahi Celine. Faktanya, setelah kepergian Isabela, Rafael menyadari satu hal yang terlambat: rasa bersalah dan obsesinya pada Celine di masa lalu bukanlah cinta. Cinta yang sesungguhnya adalah kehangatan yang selalu menunggunya di rumah, yang kini telah ia buang dengan tangannya sendiri.
Saat melewati area ruang tunggu keberangkatan domestik, langkah Rafael mendadak terhenti. Jantungnya bergemuruh hebat.
Di dekat jendela besar yang menghadap ke landasan pacu, seorang wanita berambut sebahu sedang duduk sambil membaca buku. Ia mengenakan blus linen sederhana namun memancarkan keanggunan yang sangat ia kenali.
Isabela.
Dan di sampingnya, seorang anak perempuan berusia sekitar dua setengah tahun dengan gaun merah muda sedang asyik bermain dengan boneka beruang. Anak itu memiliki mata bulat yang besar—persis seperti mata Isabela—namun bentuk bibir dan garis rahangnya… adalah tiruan sempurna dari milik Rafael sendiri.
Napas Rafael tercekat. Air mata yang sudah tiga tahun ini ia tahan mendadak merebak di pelupuk matanya. Tanpa sadar, kakinya melangkah mendekat.
“Bella…” bisiknya serak saat jarak mereka tinggal beberapa langkah.
Isabela mendongak. Ketika matanya bertemu dengan mata Rafael, tidak ada riak kepanikan atau kemarahan di wajahnya. Ia hanya menatap Rafael seperti menatap seorang kenalan lama yang tidak sengaja berpapasan di pasar.
Anak perempuan kecil itu ikut mendongak, menatap Rafael dengan polos. “Mommy, siapa paman ini?”
Rafael berlutut di depan anak kecil itu, tangannya yang gemetar terulur perlahan, ingin sekali menyentuh pipi mungilnya. “Halo, Sayang… namamu siapa? Aku…”
Sebelum tangan Rafael menyentuh anaknya, Isabela dengan lembut menarik tubuh putrinya ke dalam pangkuannya, memotong jarak di antara mereka.
“Mari pergi, Rosie. Pesawat kita sudah siap,” kata Isabela lembut kepada anaknya. Ia berdiri, merapikan tas kecilnya, dan menuntun gadis kecil itu pergi.
“Bella, tolong…” Rafael berdiri, suaranya parau menahan tangis yang pecah. “Beri aku satu kesempatan. Biarkan aku mengenal putriku. Aku merindukanmu… aku menyesal, Bella. Demi Tuhan, aku menyesal.”
Isabela menghentikan langkahnya sejenak. Ia tidak berbalik. Dari belakang, ia hanya berkata dengan nada suara yang sama tenangnya dengan siang hari di jalanan Forbes Park tiga tahun lalu.
“Penyesalanmu adalah urusanmu dengan masa lalumu, Rafael. Bukan urusanku, apa lagi urusan putriku.”
Isabela melanjutkan langkahnya, menuntun Rosie kecil masuk ke dalam gerbang keberangkatan. Rosie sempat menoleh ke belakang, melambaikan tangan mungilnya dengan ceria kepada Rafael yang kini berlutut di lantai bandara, menangis dalam diam di tengah hiruk-pikuk manusia.
Hari itu, Rafael akhirnya benar-benar mengerti. Di tengah jalan tol tiga tahun lalu, saat ia memilih untuk memutar balik mobilnya demi wanita lain, ia tidak hanya meninggalkan seorang istri yang terluka. Ia telah membuang seluruh masa depannya. Dan itu adalah terakhir kalinya, ia bisa menyebut Isabela dan anaknya sebagai miliknya.