Aku Membawa Tunanganku Menemui Ayahku yang Duduk di Kursi Roda, Tapi Begitu Masuk Ia Langsung Menutup Hidungnya—Dan Saat Itulah Aku Sadar, Yang Kubutuhkan Bukan Pernikahan, Melainkan Keberanian untuk Pergi**
Baru saja Marco melangkahkan kaki ke rumah kecil kami di Caloocan, ia langsung menutup hidungnya.
Ia bahkan belum sempat menyapa Ayah.
Ia belum melihat wajah pria yang pernah menyelamatkan nyawa orang yang paling berarti baginya.
Namun hal pertama yang terlihat di matanya adalah rasa jijik.
Ayah berbaring miring di tempat tidur. Tangannya gemetar saat berusaha menarik selimut untuk menutupi bagian seprai yang basah.
“Marco… maafkan saya, Nak,” katanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Saya tidak bisa menahannya.”
Aku menggigit bibir.
Ayahku, Renato Dela Cruz, mantan sopir jeepney yang dikenal di seluruh lingkungan sebagai orang yang tak pernah menolak membantu siapa pun, kini hanya bisa terbaring. Setengah tubuhnya hampir tak bisa digerakkan sejak kecelakaan tiga tahun lalu.
Dan pria yang seharusnya menjadi suamiku, Marco Salazar, malah mundur ke arah pintu untuk menarik napas dalam-dalam, seolah-olah ia baru masuk ke tempat pembuangan sampah, bukan ke rumah calon mertuanya.
Aku memaksakan senyum.
“Ayah, tidak apa-apa. Biar aku yang urus.”
Aku menggulung lengan blusku, mengambil baskom, lalu perlahan memiringkan tubuh Ayah agar pinggulnya tidak sakit. Tubuhnya memang berat, tetapi kesedihan di dadaku jauh lebih berat.
Setelah melepaskan seprai yang basah, aku membawanya ke halaman belakang dan merendamnya dalam air sabun yang dingin.
Marco mengikutiku ke sana.
Bukan untuk membantu.
Ia bahkan tidak bertanya apakah aku membutuhkan bantuan.
Ia hanya berdiri di belakangku dengan tangan terlipat, lalu berkata dingin,
“Mara, kamu serius? Kamu mau memikul beban seperti ini seumur hidup?”
Rasanya seperti ada ember berisi es yang disiramkan ke punggungku.
Tanganku memang terendam air, tetapi hatikulah yang membeku.
Aku terdiam cukup lama.
Namun ketika kembali mendengar Ayah batuk dari dalam rumah, aku tak sanggup menahannya lagi.
“Jangan lupa, Marco,” kataku tanpa menoleh, “siapa yang membuat Ayah jadi seperti ini.”
Ia terdiam beberapa detik.
Lalu menghela napas seolah-olah akulah yang merepotkan.
“Bisa tidak kamu berhenti mengungkit masa lalu? Sudah bertahun-tahun aku membayar terapinya. Aku juga sudah mengirim perawat. Apa lagi yang kamu inginkan?”
Aku perlahan menoleh.
“Apa yang kuinginkan? Aku ingin kamu melihatnya sebagai manusia. Bukan sebagai pengeluaran.”
Keningnya berkerut.
“Kamu sudah dewasa, Mara. Kita akan menikah. Kamu harus memikirkan masa depan kita. Tidak semua hal bisa terus berputar di sekitar ayahmu.”
Suara pertengkaran kami terdengar sampai ke dalam rumah.
Lalu terdengar bunyi keras.
“Ayah!”
Aku berlari masuk dan melihat Ayah terjatuh di lantai. Tubuhnya gemetar saat berusaha meraih sisi tempat tidur.
Marco hanya melongok dari pintu.
Satu tatapan.
Tatapan yang dingin.
Lalu ia memalingkan wajah.
Aku mengangkat Ayah kembali ke tempat tidur. Suaranya bergetar saat menggenggam tanganku.
“Anakku… aku ini hanya menjadi beban bagimu.”
Saat itulah aku benar-benar hancur.
Aku menyandarkan dahiku di bahunya.
“Ayah,” bisikku, “aku tidak ingin menikah dengan Marco lagi.”
Tangan Ayah gemetar saat mengusap rambutku.
Lama ia tak berkata apa-apa.
Hingga akhirnya ia berbisik,
“Kalau itu yang membuat hatimu lebih tenang… jangan menikah dengannya.”
Aku segera menghapus air mata.
“Aku sudah berbicara dengan dokter di pusat rehabilitasi di Cebu. Katanya kakimu masih punya harapan untuk pulih. Tiga hari lagi kita berangkat.”
Mata Ayah berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat secercah harapan di wajahnya.
Namun sebelum aku sempat berbicara lagi, Marco mengetuk pintu dengan keras.
“Mara, ayo. Kita sudah terlambat.”
“Terlambat ke mana?” tanyaku meski aku sudah tahu jawabannya.
Ia memutar mata.
“Kelulusan Camille. Dia sudah menunggu. Aku tidak punya waktu seharian untuk ini.”
Camille.
Camille Rivera.
Adik perempuan dari sahabatku, Liana, yang meninggal karena leukemia tiga tahun lalu. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia menggenggam tanganku dan memohon,
“Mara, tolong jaga Camille. Dia tidak punya siapa-siapa lagi.”
Sambil menangis aku berjanji.
Saat itu Marco ada di sampingku.
Bahkan dia yang berkata,
“Aku dan Mara akan menjadi keluarganya.”
Dan ia memang menepatinya.
Bahkan terlalu jauh.
Setiap kali Camille pergi ke mana pun, Marco selalu ada.
Pendaftaran sekolah, ulang tahun, pemeriksaan kesehatan, belanja, acara sekolah.
Namun pada malam ketika Ayah mengalami kecelakaan saat menjemput Camille di Tagaytay, Ayah tergeletak di jalan bersimbah darah dan tak sadarkan diri.
Sementara Camille, yang hanya mengalami lecet ringan di lengan, dipeluk erat oleh Marco sambil menangis.
Marco bahkan tidak mendekati Ayah.
Sejak saat itu, aku mulai memahami.
Apa yang ia maksud dengan “menjaga” sudah tidak lagi seperti hubungan kakak dan adik.
Aku menarik napas panjang.
“Pergilah duluan,” kataku.
Matanya membelalak.
“Apa?”
“Waktuku untuk Ayah.”
“Dia punya perawat.”
“Aku adalah anaknya, bukan perawatnya.”
“Ini hari kelulusan Camille. Sekali seumur hidup.”
Aku menatapnya lurus.
“Bukan kewajibanku untuk menghapus setiap air mata Camille.”
Wajah Marco langsung dingin.
“Jangan lupakan pesan terakhir Liana.”
Aku tertawa kecil.
“Aku tidak melupakan Liana. Kamulah yang lupa di mana batasnya.”
Ia terdiam sejenak.
Lalu pergi dengan wajah kesal dan tergesa-gesa.
Malam harinya, setelah menitipkan Ayah kepada tetangga kami, Pak Lito, aku keluar dari kompleks perumahan.
Mobil Marco berhenti tepat di depanku.
Aku membuka pintu kursi penumpang.
Tiba-tiba Camille yang sedang menunduk langsung duduk tegak sambil tertawa.
“Boo! Kak Mara, kaget ya?”
Tangannya melingkar erat di lengan Marco.
Marco tersenyum lalu mencubit hidungnya dengan gemas.
“Kamu memang nakal.”
Namun saat ia menoleh kepadaku, kelembutan di wajahnya langsung menghilang.
“Mara, duduk di belakang saja.”
Aku tidak bergerak.
Camille mendekat, mengendus-endus udara, lalu menutup hidungnya.
“Ih, Kak Mara, kamu bau sekali. Bau pipis. Memangnya kamu tidak ganti baju sebelum naik mobil Kak Marco?”
Marco menatapku dari atas sampai bawah.
“Kamu belum ganti baju?”
“Belum.”
Padahal aku tahu tidak ada bau aneh di pakaianku.

Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, Camille tertawa lalu menarik kalung yang tersembunyi di balik blusnya.
Dan saat itulah aku melihat sebuah cincin kecil tergantung di lehernya.
Cincin yang seharusnya berada di dalam kotak pernikahanku.
Cincin itu. Cincin emas putih dengan berlian kecil di tengahnya yang telah kupilih bersama Marco enam bulan lalu. Cincin yang katanya sedang dititipkan di toko perhiasan untuk disesuaikan ukurannya.
Ternyata, ukurannya sudah pas. Di leher Camille.
“Bagus, kan, Kak?” Camille tersenyum polos, memamerkan cincin itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Kak Marco yang memberikannya tadi siang sebagai hadiah kelulusanku. Katanya, aku berhak mendapatkan yang terbaik.”
Aku tidak berteriak. Aku tidak menjambak rambut Camille, juga tidak menampar wajah Marco. Di dalam mobil yang sejuk oleh AC itu, hatiku mendadak terasa begitu ringan. Beban berat yang selama ini menghimpit dadaku runtuh, digantikan oleh kepastian yang mutlak.
Aku melangkah mundur, menutup kembali pintu mobil penumpang dengan perlahan, lalu berjalan memutari kap mobil menuju ke jendela pengemudi. Aku mengetuk kaca.
Marco menurunkan kaca mobilnya dengan kening berkerut kesal. “Ada apa lagi, Mara? Cepat naik, kita bisa telat ke restoran.”
Aku melepaskan cincin pertunangan murah yang melingkar di jari manisku—cincin perak polos yang diberikan Marco padaku dengan alasan “kita harus berhemat demi masa depan”—lalu menjatuhkannya begitu saja ke dalam tempat cangkir di samping kemudi melalui jendela yang terbuka.
“Pernikahan kita batal, Marco,” kataku, suaraku terdengar begitu jernih dan tenang di tengah deru mesin mobil.
Marco tertegun, matanya membelalak. “Kamu gila, Mara? Hanya karena cincin? Aku bisa membelikanmu yang lain! Camille hanya meminjamnya karena dia suka—”
“Ini bukan tentang cincin,” potongku, menatap lurus ke dalam matanya yang kini memancarkan kepanikan. “Ini tentang rasa hormat. Kamu tidak punya rasa hormat pada ayahku yang menumpahkan darahnya demi gadis di sampingmu itu. Dan kamu tidak punya rasa hormat pada hubungan kita.”
Aku menoleh ke arah Camille yang mendadak terdiam, wajahnya pucat kehilangan tawa manjanya. “Ambil saja dia, Camille. Ambil semua sisa hidupnya. Aku tidak akan lagi menjadi pembatas di antara kalian berdua.”
“Mara, tunggu!” Marco mencoba membuka pintu mobilnya, tetapi aku langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan mereka.
Dia berteriak memanggil namaku, namun aku terus melangkah tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di bawah lampu jalan Caloocan yang temaram, aku merasa udara malam ini begitu bersih. Tidak ada bau cuka, tidak ada bau obat, dan yang terpenting: tidak ada lagi bau kemunafikan yang menyesakkan dada.
Tiga hari kemudian.
Matahari pagi baru saja terbit di Pelabuhan Manila saat aku mendorong kursi roda Ayah menuju kapal firi yang akan membawa kami ke Cebu. Semua barang kami telah dikemas dalam dua koper besar. Rumah kecil kami di Caloocan sudah resmi kujual untuk biaya pengobatan Ayah di pusat rehabilitasi yang baru.
Ponselku bergetar di dalam saku. Ada puluhan pesan singkat dan panggilan tak terjawab dari Marco, memohon maaf, mengatakan bahwa dia memutuskan hubungan dengan Camille, dan berjanji akan membiayai seluruh pengobatan Ayah jika aku kembali.
Aku tersenyum kecil, lalu mengeluarkan kartu SIM dari ponselku dan melemparkannya ke dalam air laut yang bergolak di bawah dermaga.
“Mara,” Ayah mendongak, menatapku dengan mata tuanya yang berkaca-kaca. “Apakah kamu menyesal? Kamu melepaskan pernikahanmu demi orang tua yang lumpuh ini.”
Aku berlutut di depan kursi rodanya, menggenggam kedua tangannya yang gemetar, lalu mengecupnya dengan takzim.
“Ayah,” bisikku, “menikah dengan pria yang salah adalah penjara seumur hidup. Tapi merawat pria yang memberiku seluruh hidupnya adalah sebuah kehormatan. Kita tidak sedang melarikan diri. Kita sedang menjemput kesembuhan Ayah.”
Ayah tersenyum, dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun kecelakaan tragis itu, aku melihat binar kehidupan yang seutuhnya kembali ke matanya. Saat kapal firi membunyikan klaksonnya, menandakan perjalanan baru kami dimulai, aku tahu bahwa yang kubutuhkan malam itu memang bukanlah sebuah pernikahan mewah.
Aku hanya membutuhkan keberanian untuk pergi, demi menyelamatkan diriku sendiri, dan demi menjaga kehormatan satu-satunya pria yang benar-benar mencintaiku tanpa syarat: Ayahku.