Posted in

AKU MEMBAWAKAN BEKAL UNTUK SUAMIKU DI PEGUNUNGAN SIERRA MADRE, TAPI SAAT AKU MEMBUKA TENDA, WANITA YANG BERSEMBUNYI DI BALIK SELIMUTNYA ADALAH ADIKKU SENDIRI—DAN SAAT ITULAH AKU TAHU MEREKA BUKAN HANYA MERENCANAKAN UNTUK MENGHANCURKAN HATIKU, TAPI SELURUH HIDUPKU*

*AKU MEMBAWAKAN BEKAL UNTUK SUAMIKU DI PEGUNUNGAN SIERRA MADRE, TAPI SAAT AKU MEMBUKA TENDA, WANITA YANG BERSEMBUNYI DI BALIK SELIMUTNYA ADALAH ADIKKU SENDIRI—DAN SAAT ITULAH AKU TAHU MEREKA BUKAN HANYA MERENCANAKAN UNTUK MENGHANCURKAN HATIKU, TAPI SELURUH HIDUPKU**

Aku tidak langsung cemburu ketika mendengar suara seorang wanita dari dalam tenda.

Tubuhku gemetar karena aku mengenali suara itu.

Dan bahkan sebelum aku membuka ritsleting tenda, aku sudah tahu bahwa ada bagian dari hidupku yang akan mati di gunung itu.

Namaku Lianne Mercado. Saat itu aku berusia tiga puluh empat tahun dan telah menikah selama sembilan tahun dengan Marco Villarama.

Kami tinggal di sebuah kompleks perumahan yang tenang di pinggiran Tagaytay. Di lingkungan kami, sudah biasa para pria meminta izin setiap akhir pekan untuk berkemah, berburu, atau latihan menembak di pegunungan Tanay.

Dan sudah biasa pula para istri tersenyum, menyiapkan bekal, melambaikan tangan dari gerbang, lalu berpura-pura tidak mengerti bahwa terkadang “liburan para pria” sebenarnya tidak selalu tentang para pria.

Marco berangkat pada hari Sabtu sebelum pukul enam pagi.

Bersamanya ada Joel, Ramil, dan Anton, teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri baginya.

Mereka memasukkan tas, kotak pendingin, kursi lipat, kotak senapan, dan dua peti besar bir ke dalam pickup merah.

Sebelum pergi, Marco mencium keningku.

“Menjelang makan malam nanti, pasti aku sudah merindukanmu,” candanya.

Aku tersenyum.

Aku mempercayainya.

Keesokan paginya, saat sedang minum kopi di dapur, aku menyadari tanganku bergerak sendiri.

Aku memasak sandwich beef tapa favoritnya dengan roti hangat, membungkus keripik, acar, dan pai calamansi kecil yang selalu dia bilang lebih enak daripada yang dijual di kafe-kafe mahal Tagaytay.

Aku memasukkan semuanya ke dalam kotak pendingin berwarna biru.

Saat menutupnya, aku tertawa pada diriku sendiri.

Kenapa tidak memberinya kejutan?

Aku mengirim pesan:

**“Aku akan membawakan makan siang ke tempat camping. Jangan sembunyi, ya.”**

Tidak ada balasan.

Kupikir mungkin tidak ada sinyal.

Perjalanan menuju Tanay memakan waktu dua jam.

Jalannya menanjak, berlumpur, sempit, dan dipenuhi pepohonan tinggi.

Semakin jauh aku masuk ke kawasan Sierra Madre, semakin menghilang suara dunia.

Aku mengikuti petunjuk yang ditulis Marco sendiri di belakang struk pom bensin:

**“Lewati jembatan kayu, belok kanan ke jalan tanah, lalu terus sampai menemukan area terbuka.”**

Saat tiba di sana, aku hanya melihat dua kendaraan.

Ada bekas api unggun yang sudah padam.

Beberapa kursi terbuka.

Botol-botol berserakan di tanah.

Dan sebuah tenda besar berdiri di tengah area itu dengan ritsleting yang sedikit terbuka.

Tapi suasananya sangat sunyi.

Tidak ada tawa.

Tidak ada suara tembakan.

Tidak ada obrolan para pria.

Hanya suara angin yang berhembus di antara pepohonan dan langkah kakiku di atas dedaunan basah.

“Marco?” panggilku.

Tidak ada jawaban.

Aku mengangkat kotak pendingin dan berjalan mendekati tenda.

Kupikir mungkin dia sedang tidur.

Namun tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita.

Lembut.

Manja.

Dan sangat familiar.

Aku membeku.

Hanya satu detik.

Tapi rasanya seperti seumur hidup.

Perlahan aku meletakkan kotak pendingin.

Tanganku meraih ritsleting.

Lalu kubuka tenda itu.

Marco ada di sana.

Dia tidak terlihat seperti orang yang baru selesai berburu.

Dia tidak sedang tidur.

Dan dia tidak sendirian.

Dia duduk di atas ranjang lipat, tanpa mengenakan baju, memegang selimut seperti anak kecil yang tertangkap mencuri.

Di sampingnya, terbungkus selimut dan tampak sangat terkejut…

adalah adik perempuanku sendiri.

**Bianca.**

Kotak pendingin terlepas dari tanganku.

Keripik berhamburan.

Acar berguling di tanah.

Sudut pai calamansi hancur terkena lumpur.

Bianca menjerit.

Marco langsung pucat.

“Lianne…” katanya. “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku menatapnya.

Aku tidak menangis.

Aku tidak berteriak.

Rasanya seperti ada bongkahan es yang dituangkan ke dalam dadaku.

Dari belakangku terdengar suara pelan dari dekat bekas api unggun.

Itu Joel.

“Aku sudah bilang padamu… dia seharusnya tidak datang sebelum besok.”

**Sebelum besok?**

Napas ku melambat.

Saat itulah aku mengerti.

Ini bukan kecelakaan.

Ini bukan godaan sesaat.

Ini bukan kesalahan yang terjadi begitu saja.

Ada rencana di balik semua ini.

Tiga hari berkemah.

Jauh dari keramaian.

Tanpa sinyal.

Tempat yang tidak mungkin didatangi seorang istri kecuali jika punya alasan kuat.

Saat aku menatap Marco dan Bianca, aku melihat sebuah amplop cokelat di atas meja lipat di dalam tenda.

Amplop itu terbuka.

Di dalamnya terdapat fotokopi sertifikat tanah warisan ayahku di Tagaytay.

Tanah yang sudah lama ingin dijual oleh Marco.

Tanah yang selalu kutolak untuk dijual karena itulah satu-satunya peninggalan ayahku.

Aku melangkah mendekati meja.

“Lianne, jangan,” kata Marco cepat.

Tapi sudah terlambat.

Aku melihat namaku di dokumen itu.

Aku melihat tanda tanganku.

Namun itu bukan tanda tanganku.

Dan di bawah salinan sertifikat tanah warisan ayahku itu, ada satu dokumen lain yang terselip.

Jari-jariku gemetar saat membaca baris pertama..

Jari-jariku gemetar saat membaca baris pertama: Surat Kuasa Penuh atas Kepemilikan Aset dan Persetujuan Hibah Hak Milik. Di bawahnya tertera tanda tangan palsu atas namaku, disaksikan oleh tanda tangan Joel dan Ramil.

Dan yang membuat duniaku benar-benar runtuh adalah dokumen kedua di bawahnya—sebuah polis asuransi jiwa atas namaku senilai lima miliar peso, yang baru dibuat sebulan lalu. Penerima manfaat tunggalnya jika aku meninggal akibat “kecelakaan” adalah Marco Villarama.

Aku menatap Bianca. Adik kandungku yang kubesarkan setelah orang tua kami tiada. Di lehernya, berkilau kalung emas milik mendiang ibu kami yang katanya hilang minggu lalu.

“Kalian…” Suaraku nyaris berbisik, namun terdengar begitu dingin di kesunyian Sierra Madre. “Kalian tidak hanya ingin berselingkuh. Kalian merencanakan kematianku.”

Keheningan yang mencekam pecah. Wajah Marco berubah, dari pucat ketakutan menjadi topeng keputusasaan yang kejam. Dia bertukar pandang dengan Joel yang berdiri di luar tenda. Aku bisa melihat Joel perlahan meraba pinggangnya, tempat sarung pistol berburu berada.

Mereka tidak berniat membiarkanku pulang dari gunung ini hidup-hidup. Rencana awal mereka mungkin membuatku “mengalami kecelakaan” dalam beberapa minggu ke depan setelah semua dokumen ini beres. Tapi kedatanganku yang tiba-tiba hari ini telah memaksa mereka memajukan jadwal.

“Lianne, maafkan aku,” isak Bianca, tapi dia tidak bergerak untuk melindungiku. Dia justru bergeser mendekat ke belakang punggung Marco. “Kami saling mencintai. Dan tanah ayah… kami membutuhkannya untuk memulai hidup baru.”

“Diam, Bianca!” bentak Marco. Dia berdiri, perlahan melangkah keluar dari tenda, mengikis jarak di antara kami. “Lianne, dengar. Jalur pendakian ini berbahaya. Jalanan berlumpur, jurangnya dalam. Jika mobilmu tergelincir dalam perjalanan pulang… tidak akan ada yang heran.”

Logika bertahan hidupku mengambil alih. Ketakutanku menguap, digantikan oleh kemarahan yang membakar. Aku tahu jika aku berlari ke mobil, mereka akan menembakku atau mengejarku dengan pickup merah itu. Aku kalah jumlah.

Tapi Marco melupakan satu hal. Aku adalah putri dari seorang rimbawan yang menghabiskan masa kecilnya menjelajahi hutan Tanay. Aku tahu medan ini lebih baik daripada mereka semua.

“Begitu ya?” kataku, sengaja menurunkan intonasi suaraku, berpura-pura pasrah. Aku mundur satu langkah, mendekati kotak pendingin yang tumpah di tanah. Di samping kotak itu, tergeletak pisau pemotong daging yang kubawa untuk memotong pai.

Saat Marco maju satu langkah lagi dengan tangan terulur untuk mencengkeramku, aku bergerak secepat kilat.

SRAK!

Aku tidak menyerang Marco. Aku mengayunkan pisau itu ke tali pancang utama tenda besar mereka, lalu beralih ke tali penahan di sebelahnya dalam satu gerakan mulus. Tenda dome besar itu langsung ambruk, menimpa Bianca yang menjerit di dalam dan menjerat kaki Marco yang sedang melangkah.

“Joel! Tangkap dia!” teriak Marco, suaranya teredam kain tenda saat dia terjatuh.

Joel menarik pistolnya, tapi aku tidak lari ke arah jalan setapak tempat mobilku diparkir. Aku berbalik dan melompat langsung ke dalam semak-semak lebat, menuruni lereng curam Sierra Madre yang dipenuhi kabut.

Sebuah tembakan meletus di belakangku, merobek dedaunan di atas kepalaku.

“Sialan! Dia masuk ke hutan! Cari dia!” terdengar teriakan Marco dari kejauhan.

Aku terus berlari, mengabaikan ranting-ranting yang menggores wajah dan lenganku. Aku tahu ke mana harus pergi. Satu kilometer di bawah lereng ini ada pos penjagaan polisi hutan dan pangkalan militer setempat—tempat di mana teman-teman mendiang ayahku bertugas.

Sambil berlari, tanganku meraba kantong celana. Ponselku ada di sana. Di atas gunung ini memang tidak ada sinyal seluler biasa, tapi sebelum berangkat, aku sempat mengaktifkan fitur pelacakan satelit darurat yang terhubung dengan akun komputerkasir di rumah kami, yang juga bisa diakses oleh pengacaraku. Dan yang paling penting: sejak aku membuka pintu tenda, fitur perekam suara di ponselku sudah menyala. Semua pengakuan mereka, rencana pembunuhan itu, dan suara tembakan Joel, telah terekam sempurna.

Dua jam kemudian, napas memburup dan pakaianku dipenuhi lumpur, aku berhasil mencapai jalan raya utama tepat di depan pos polisi hutan.

Satu minggu kemudian.

Kompleks perumahan kami di Tagaytay tidak lagi tenang. Mobil-mobil polisi terparkir di depan rumahku.

Marco, Joel, dan Ramil digiring keluar dengan tangan terborgol, menghadapi dakwaan berlapis: percobaan pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen, dan kepemilikan senjata ilegal. Rekaman suara dari ponselku dan dokumen yang berhasil disita polisi dari tempat perkemahan menjadi bukti mutlak yang tidak bisa mereka bantah.

Sementara Bianca duduk di dalam mobil polisi yang lain, menangis histeris, menatapku dari balik kaca. Aku berdiri di gerbang rumah, tidak lagi melambaikan tangan dengan senyuman bodoh seperti istri-istri lainnya.

Aku menatap pai calamansi yang tersisa di meja teras, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Mereka mengira mereka bisa menghancurkan seluruh hidupku di atas gunung itu. Namun di bawah bayang-bayang Sierra Madre, aku tidak mati. Justru di sanalah, Lianne yang lemah dan naif telah tiada, dan aku terlahir kembali sebagai wanita yang tidak akan pernah bisa mereka hancurkan lagi.