*AKU HAMIL DELAPAN BULAN SAAT SUAMIKU MENDORONGKU KE MEJA KASIR HANYA KARENA SELIMUT BAYI—TAPI KETIKA MANAJER TOKO DATANG, TERBONGKAR RAHASIA YANG JAUH LEBIH MENJIJIKKAN**
Aku tidak terjatuh karena terpeleset.
Aku tidak berpura-pura agar dikasihani.
Suamiku sendiri yang mendorong tubuhku hingga membentur meja kasir saat aku sedang hamil delapan bulan.
Hanya karena sebuah selimut bayi seharga **Rp240.000**.
Dan yang paling menyakitkan?
Saat aku tergeletak di lantai supermarket, memegangi perutku dan hampir tidak bisa bernapas, dia malah tersenyum.
“Dasar lebay, Mika,” bentak Carlo, suamiku. “Cuma selimut saja, sok seperti orang kaya. Itu uangku!”
Aku merasakan dinginnya lantai keramik di pipiku.
Aku mencium aroma disinfektan, kantong plastik, buah-buahan, dan darah dari bibirku yang robek saat wajahku membentur sudut meja kasir.
Kami berada di sebuah supermarket besar di Quezon City.
Sabtu sore.
Banyak orang.
Ada ibu-ibu yang membawa anak.
Ada mahasiswa yang membeli camilan.
Ada kasir yang terdiam dengan alat pemindai barcode masih di tangannya.
Tapi tidak ada yang bergerak.
Semua hanya menonton.
Aku meringkuk di lantai.
Satu tangan memegangi perutku.
Satu tangan menutupi mulutku.
Di dalam rahimku, bayiku bergerak pelan.
Seolah dia juga terkejut dengan apa yang dilakukan ayahnya sendiri.
“Carlo…” bisikku. “Perutku… sakit…”
Tapi yang kulihat di wajahnya bukan belas kasihan.
Melainkan kejengkelan.
Kejengkelan yang menjijikkan.
Dia mengenakan kemeja mahal, jam tangan yang nilainya setara hampir satu tahun biaya sewa rumah kami, dan sepatu yang selalu dia suruh aku bersihkan sebelum dia berangkat kerja.
Dia adalah direktur penjualan regional di sebuah perusahaan farmasi.
Di gereja, orang-orang memanggilnya “Brother Carlo”.
Pria yang murah hati.
Baik hati.
Suami sempurna.
Andai saja mereka tahu.
Andai mereka tahu berapa kali dia membuatku hidup dalam ketakutan.
Berapa kali dia mengatakan aku tidak berguna karena tidak bekerja selama kehamilan.
Berapa kali dia mengambil kartu ATM-ku, ponselku, bahkan struk belanjaku hanya untuk memastikan aku tidak menghabiskan uang tanpa izinnya.
“Berdiri,” perintahnya.
Aku tidak bisa bergerak.
Dia menarik lenganku.
“Berdiri, kubilang!”
Aku meringis saat rasa sakit di perutku semakin kuat.
Ketakutan yang panas menjalar hingga ke tenggorokanku.
“Tolong… panggil ambulans…” kataku kepada kasir.
Kasir itu menatap Carlo dengan tangan gemetar.
“Pak… Ibu sedang hamil…”
“Jangan ikut campur,” potong Carlo. “Dia istriku.”
Seolah kata itu cukup untuk membungkam semua orang.
**Istri.**
Seolah jika pelakunya adalah suami sendiri, maka kekerasan bukan lagi kejahatan.
Seolah jika terjadi dalam pernikahan, maka itu hanya urusan pribadi.
Carlo mencengkeram daguku dan memaksaku menatapnya.
“Dengar baik-baik,” bisiknya, tetapi cukup keras hingga semua orang mendengar. “Kamu tidak berhak mempermalukanku. Kita tidak akan membeli barang-barang bayi yang tidak penting. Kita bahkan belum tahu apakah bayi itu laki-laki.”
Rasanya seperti pisau menusuk dadaku.
Saat itulah aku mengerti.
Itulah sebabnya dia bersikap dingin sejak kami mengetahui bayi kami perempuan.
Itulah sebabnya dia tidak pernah mau menyiapkan kamar bayi.
Itulah sebabnya dia menolak membeli perlengkapan bayi berwarna merah muda atau kuning.
Di matanya, semua itu hanya pemborosan.
Karena bayi kami bukan laki-laki.
Aku terisak.
Tangan Carlo kembali terangkat.
Aku memejamkan mata.
Tapi pukulan itu tidak pernah datang.
Sebuah suara berat dan dalam memecah keheningan.
“Lepaskan dia.”
Udara di sekelilingku terasa mendadak dingin.
Seolah bahkan angin pun berhenti bergerak.
Saat aku membuka mata, ada seorang pria berdiri di belakang Carlo.
Pak Rodel.
Manajer toko.
Namun saat itu dia tidak terlihat seperti manajer biasa.
Tubuhnya besar.
Tinggi.
Berjanggut tebal.
Lengannya penuh bekas luka yang menunjukkan kehidupan keras yang pernah dijalaninya.
Dia mengenakan kemeja putih dengan tanda nama, tetapi matanya…
keras.
gelap.
marah.
“Pergi dari sini,” kata Carlo. “Kau tidak tahu siapa aku.”
“Aku tahu persis kau ini siapa,” jawab Pak Rodel. “Pria yang menyakiti wanita hamil.”
Wajah Carlo memerah.
“Panggil satpam! Aku akan menghubungi kantor pusat kalian! Besok kau akan dipecat!”
Pak Rodel tidak bergerak.
Sebaliknya, dia berlutut di sampingku.
“Bu, apakah Anda bisa mendengar saya? Bagaimana keadaan bayinya?”
Air mata mengalir di pipiku.
“Sakit…” kataku. “Sangat sakit…”
Dia langsung menoleh ke arah kasir.
“Panggil ambulans. Sekarang juga. Hubungi polisi. Amankan rekaman CCTV. Tidak boleh ada yang menghapusnya.”
Untuk pertama kalinya, wajah Carlo berubah.
Bukan karena aku.
Melainkan karena satu kata:
**CCTV.**
“Kita tidak perlu polisi,” katanya cepat sambil berusaha terdengar tenang. “Ini urusan keluarga.”
Pak Rodel berdiri.
“Bukan. Ini penganiayaan.”
Carlo mencoba mendorongnya.
Namun sebelum sempat melakukannya, Pak Rodel mencengkeram kerah bajunya dan mendorongnya menjauh dariku.
Tidak cukup keras untuk melukainya.
Tapi cukup kuat hingga Carlo terjatuh ke rak popok bayi.
Puluhan bungkus popok berjatuhan ke lantai.
Orang-orang terkejut.
Namun yang tidak pernah kulupakan adalah ekspresi ketakutan di wajah Carlo.
Dia bukan takut pada Pak Rodel.
Dia takut pada ponselnya sendiri.
Saat masih berlutut di tengah tumpukan popok, dia dengan tangan gemetar mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelepon seseorang.
Bukan polisi.
Bukan ambulans.
Bukan layanan darurat.
Dia berbisik pelan.
Tapi karena seluruh supermarket begitu sunyi, aku mendengar satu kalimat yang membuat napasku berhenti.
“Lorna, hapus semuanya. Transfer bank, catatan klinik, bahkan rencana persalinannya. Cepat. Aku tertangkap CCTV.”
Aku langsung menatapnya.
**Lorna?**
**Catatan klinik?**
**Rencana persalinan?**
Sebelum sempat memahami semuanya, ponsel Pak Rodel berdering.
Dia mengangkat telepon itu, mendengarkan beberapa saat, lalu perlahan menoleh ke arah Carlo.
Apa yang dia katakan berikutnya terdengar seperti petir yang menyambar seluruh supermarket.
“Carlo Villanueva… ternyata polisi memang sedang mencarimu. Dan bukan hanya karena apa yang kau lakukan pada istrimu.”
Carlo membeku.
Aku juga.
Pak Rodel melangkah mendekatinya sambil memegang ponsel dalam mode pengeras suara.

Dari seberang sana terdengar suara seorang wanita yang menangis.
“Pak Rodel… tolong katakan pada Mika… dia bukan wanita hamil pertama yang diperlakukan seperti ini olehnya.”
Dan pada saat itu, seluruh tubuhku terasa membeku.
Suara di seberang telepon itu terdengar serak, dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan yang mendalam. Aku mengenali nama itu. Lorna. Dia adalah sekretaris pribadi Carlo di perusahaan farmasi tempatnya bekerja. Wanita paruh baya yang selalu bersikap terlalu ramah—hampir seperti menyembunyikan sesuatu—setiap kali aku menelepon kantor untuk menanyakan apakah Carlo akan pulang larut malam.
“Lorna… apa maksudmu?” bisikku dari lantai dingin, mengabaikan rasa sakit di perutku demi mendengar kebenaran yang mulai tersingkap.
“Mika, maafkan aku…” isak Lorna dari pengeras suara ponsel Pak Rodel. “Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Carlo… dia menggunakan jabatannya di perusahaan farmasi untuk memalsukan data medis. Bukan hanya satu kali.”
Pak Rodel menatap Carlo yang kini berusaha bangkit, wajah suamiku itu tidak lagi merah karena marah, melainkan pucat pasi seperti mayat.
“Jelaskan secara detail, Lorna. Polisi sudah berada di jalur komunikasi ini,” kata Pak Rodel dengan nada dingin yang berwibawa. Di luar supermarket, samar-samar terdengar suara sirine ambulans dan polisi yang mendekat.
“Carlo memiliki ‘bisnis’ sampingan,” lanjut Lorna, suaranya bergetar. “Dia bekerja sama dengan klinik-klinik ilegal untuk memalsukan dokumen adopsi. Selama dua tahun terakhir, dia mencari wanita-wanita hamil dari keluarga miskin atau yang tidak menginginkan bayinya, membiayai persalinan mereka dengan uang perusahaan, lalu menjual bayi-bayi itu kepada pembeli kaya di luar negeri.”
Duniaku serasa berputar. Kepalaku berdenyut hebat.
“Lalu… apa hubungannya denganku?” tanyaku, air mata menetes deras bukan lagi karena rasa sakit fisik, melainkan karena kengerian yang teramat sangat.
“Mika… Carlo tidak pernah menginginkan bayi perempuan, itu benar. Tapi alasan sebenarnya dia menolak membelikan perlengkapan bayi dan menolak merencanakan persalinanmu di rumah sakit resmi adalah… karena bayimu sudah masuk dalam daftar pesanan,” tangis Lorna pecah. “Dia sudah menerima uang muka dari sebuah keluarga di Eropa. Rencananya, begitu kamu melahirkan di klinik swasta kecil pilihannya, dia akan memalsukan dokumen bahwa bayimu meninggal saat lahir. Padahal, bayi itu akan diambil dan diserahkan kepada orang lain!”
Mendengar itu, jeritan histeris keluar dari tenggorokanku. Logika dan naluri keibuanku menolak mempercayai kekejian ini, namun segalanya mendadak masuk akal. Akun ATM-ku yang disita, ponselku yang diperiksa, isolasi total yang dilakukannya terhadapku dari keluarga dan teman-teman—semua itu bukan sekadar sikap posesif atau pelit. Itu adalah kurungan. Aku bukan istrinya; aku adalah komoditas. Aku hanyalah wadah untuk bisnis menjijikkannya.
“Kau iblis, Carlo! IBLIS!” teriakku, mengumpulkan sisa tenagaku untuk melempar selimut bayi seharga Rp240.000 yang menjadi awal keributan ini tepat ke wajahnya.
Carlo mencoba menerobos kerumunan orang untuk melarikan diri, namun Pak Rodel dengan sigap menjegal kakinya. Carlo tersungkur keras di atas lantai, tepat ketika pintu kaca supermarket terbuka lebar dan empat petugas polisi bersenjata masuk bersama tim medis.
“Carlo Villanueva, Anda ditahan atas dugaan perdagangan anak, penipuan korporasi, dan penganiayaan berat,” tegas petugas polisi sambil langsung memiting tangan Carlo ke belakang dan memasangkan borgol besi.
Carlo berteriak, memaki, dan mencoba melawan, namun petugas menariknya dengan kasar keluar dari supermarket di hadapan puluhan pasang mata yang kini menatapnya dengan pandangan jijik. Tidak ada lagi “Brother Carlo” yang suci. Yang tersisa hanyalah seorang monster yang kedoknya telah dikuliti habis.
Tim medis segera berlutut di sekelilingku, memasang masker oksigen dan dengan hati-hati memindahkan tubuhku ke atas tandu. Saat tandu itu diangkat, Pak Rodel berjalan di sampingku, memegang selimut bayi merah muda yang sempat kulempar tadi. Dia menyelipkannya di samping tubuhku.
“Anak Anda akan aman, Bu Mika. Kami sudah menyerahkan semua rekaman CCTV dan data Lorna kepada pihak berwenang. Anda berdua selamat,” bisiknya menenangkan.
Di dalam ambulans yang melaju membelah jalanan Quezon City, aku memeluk erat selimut bayi itu ke perutku. Rasa sakit kontraksi akibat benturan itu mulai terasa, namun ketakutanku telah hilang. Di dalam rahimku, putri kecilku menendang dengan kuat, seolah meyakinkanku bahwa dia juga siap berjuang.
Carlo mengira dia bisa mengendalikan jalannya takdir dan menjual darah dagingnya sendiri demi tumpukan uang. Namun di sore yang bersimbah darah dan air mata itu, di atas lantai supermarket yang dingin, rencana busuknya runtuh bersama harga dirinya. Aku mungkin terluka, tetapi aku bersumpah, demi detak jantung di dalam perutku ini, Carlo Villanueva tidak akan pernah melihat matahari sebagai orang bebas lagi, dan dia tidak akan pernah menyentuh putriku seujung kuku pun.