BARU SAJA AKU KELUAR DARI RUMAH SAKIT, TAPI MERTUAKU SUDAH MENGKLAIM KONDOMINIUMKU SAMBIL MEMAKAI BAJU TIDURKU — MEREKA TAK TAHU, MEMBUKA SATU LACI TERKUNCI AKAN MENGUNGKAP KEJAHATAN MENGERIKAN MEREKA!
Dua bulan. Selama dua bulan aku terbaring di rumah sakit akibat penyakit misterius yang merusak hatiku dan membuat tubuhku lumpuh tak berdaya. Aku hampir kehilangan nyawa, tetapi berkat rahmat Tuhan, aku berhasil bertahan.
Namaku Valerie, seorang arsitek sukses. Sebelum jatuh sakit, kehidupan rumah tanggaku dengan suamiku, Martin, berjalan baik-baik saja. Kami tinggal di sebuah penthouse mewah di kawasan elit Jakarta yang kubeli dengan tabunganku sendiri jauh sebelum kami menikah.
Pada hari aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit, aku merasa heran karena Martin tidak datang menjemputku.
“Ada rapat darurat di kantor,” begitu alasannya lewat pesan singkat.
Karena itu aku pulang sendirian naik taksi sambil menyeret dua koper besar. Aku sangat lelah dan hanya ingin berbaring di tempat tidurku sendiri.
Namun ketika aku membuka pintu penthouse dengan kode akses pribadiku, pemandangan di depanku membuat pikiranku kacau.
Televisi menyala dengan volume sangat keras.
Bungkus makanan ringan dan gelas-gelas anggur berserakan di atas karpet mahal milikku.
Dan di tengah ruang tamu, duduklah ibu mertuaku, Carmela.
Yang membuat darahku semakin mendidih?
Dia mengenakan gaun tidur sutra favoritku yang sangat mahal, yang kubeli saat berlibur ke Paris.
“Bu? Apa yang Ibu lakukan di sini? Kenapa rumah berantakan seperti ini… dan kenapa Ibu memakai pakaian saya?” tanyaku dengan terkejut sambil menurunkan koper.
Carmela menoleh.
Alih-alih terkejut atau merasa malu, dia hanya mengangkat alis dan menyunggingkan senyum penuh penghinaan.
“Oh, ternyata kamu masih hidup? Sayang sekali,” jawabnya dingin sambil menyesap anggur lalu berdiri dengan tangan bertolak pinggang di hadapanku. “Kenapa kamu kembali ke sini? Seharusnya kamu langsung pulang ke rumah orang tuamu.”
“Permisi? Ini rumah saya, Bu. Saya yang membelinya,” jawabku tegas.
Mertuaku tertawa keras.
“Rumahmu? Itu dulu, Valerie. Perusahaanmu sudah hancur karena kamu terlalu lama menghilang, dan penthouse ini bukan milikmu lagi! Martin sudah menjualnya kepadaku bulan lalu! Jadi ambil koper-kopermu dan pergi dari sini karena malam ini aku akan mengadakan pesta!”
Rasanya seperti ada palu besar menghantam kepalaku.
Dijual oleh Martin?
Mustahil!
Sertifikat properti itu atas namaku sebagai pemilik tunggal, dan dia tidak punya hak untuk menjualnya tanpa tanda tanganku.
Aku tidak menangis.
Alih-alih mengamuk seperti yang dia harapkan, aku tetap tenang meski mataku menyala penuh amarah.
Aku mengambil ponselku dan segera menelepon Pak Torres, Manajer Gedung kondominium kami, serta Kepala Keamanan.
“Pak Torres, saya butuh Anda datang ke unit saya sekarang juga. Ada penyusup yang mengklaim properti saya,” kataku dengan nada tegas.
Sambil menunggu mereka datang, aku berjalan menuju ruang kerjaku di rumah.
Carmela mengikuti di belakang sambil berteriak dan mengancam.
“Kamu tidak berhak masuk ke sana! Aku akan mengusirmu!”
Saat tiba di ruang kerja, aku memperhatikan meja kerja antik dari kayu mahoni milikku.
Laci paling bawah, tempat aku menyimpan dokumen-dokumen penting, kini memiliki gembok baru.
Itu bukan kunci asli milikku.

Aku mengambil paperweight besi yang berat dan menghantam gembok itu sekuat tenaga.
“Hei! Apa yang kamu lakukan?! Kamu akan merusak barang anakku!” jerit Carmela sambil mencoba menarikku, tetapi aku mendorongnya menjauh.
KRAK!
Gembok itu pecah.
Aku menarik laci tersebut hingga terbuka lebar. Di dalamnya, tidak ada sertifikat rumah atau dokumen penjualan yang digembar-gemborkan oleh Carmela.
Sebaliknya, mataku tertuju pada sebuah kotak kayu kecil dan beberapa botol obat tanpa label yang tersembunyi di balik tumpukan kertas. Di samping botol-botol itu, terdapat sebuah buku catatan kecil bersampul hitam milik Martin, lengkap dengan sebuah alat perekam suara digital kecil.
“Jangan sentuh itu!” jerit Carmela, wajahnya yang tadinya angkuh mendadak pucat pasi seperti mayat. Dia mencoba merebut kotak itu, tetapi aku bergerak lebih cepat.
Aku membuka buku catatan tersebut. Di dalamnya tertulis jadwal terperinci, dosis, dan efek samping dari sebuah zat kimia beracun bernama Thallium—racun tanpa rasa dan bau yang menyerang saraf serta organ dalam secara perlahan. Gejalanya? Persis seperti penyakit misterius yang membuat hatiku rusak dan tubuhku lumpuh selama dua bulan terakhir.
Di halaman terakhir, tertulis sebuah catatan tangan Martin yang mengerikan:
“Dosis terakhir sebelum masuk rumah sakit. Jika dia tidak bertahan dalam dua bulan, seluruh aset akan jatuh ke tanganku secara otomatis melalui surat kuasa palsu.”
“Jadi… ini kelakuan kalian?” bisikku, suaraku bergetar bukan karena takut, melainkan karena amarah yang meledak-ledak. “Kalian tidak hanya ingin merampas hartaku, kalian mencoba membunuhku!”
Tepat saat itu, pintu ruang kerja terbuka. Pak Torres bersama tiga petugas keamanan berbadan tegap masuk, diikuti oleh Martin yang baru saja tiba dengan wajah panik setelah mendapat peringatan dari ibunya lewat pesan singkat.
“Valerie! Apa yang kamu lakukan? Ibu, ada apa ini?!” Martin mencoba berlagak bingung, namun matanya langsung tertuju pada laci yang hancur dan botol obat di tanganku. Seketika, runtuhlah topeng kepura-puraannya.
“Martin, syukurlah kamu datang! Usir wanita sialan ini! Dia merusak barang-barang kita!” teriak Carmela histeris.
“Cukup, Carmela. Cukup, Martin,” kataku dengan sangat tenang, namun tajam bagai pisau. Aku menekan tombol play pada alat perekam digital yang kutemukan di laci.
Suara rekaman yang jernih menggema di seluruh ruangan. Itu adalah percakapan antara Martin dan Carmela sebulan lalu di ruangan ini:
“Martin, pastikan dosisnya pas di makanan rumah sakitnya. Perempuan itu kuat sekali, kenapa dia belum mati juga? Aku sudah bosan menunggunya mati agar kita bisa menguasai penthouse dan seluruh sisa uang asuransinya.” “Sabar, Ibu. Pengacara kita sedang mengurus pemalsuan tanda tangan untuk pengalihan aset. Begitu dia tiada, semuanya milik kita.”
Mendengar rekaman itu, Martin jatuh terduduk di lantai. Wajahnya seketika basah oleh keringat dingin. Carmela membeku, tangannya gemetar hebat hingga gelas anggur yang dipegangnya jatuh dan pecah di atas lantai, menodai gaun tidur sutra milikku dengan warna merah pekat seperti darah.
Pak Torres dan para petugas keamanan terkesiap mendengar bukti kejahatan yang begitu benderang di depan telinga mereka.
“Pak Torres,” panggilku tanpa mengalihkan pandangan dari dua manusia iblis di hadapanku. “Tolong panggil polisi sekarang juga. Katakan pada mereka ini bukan sekadar kasus penyusupan atau perebutan properti. Ini adalah kasus percobaan pembunuhan berencana.”
“Baik, Ibu Valerie. Segera,” jawab Pak Torres dengan tegas, memberi isyarat kepada petugas keamanan untuk mengunci pergerakan Martin dan ibunya agar tidak melarikan diri.
Aku berjalan mendekati Carmela, menatapnya lurus-lurus ke dalam matanya yang kini dipenuhi ketakutan.
“Pesta yang Ibu rencanakan malam ini tampaknya harus dibatalkan,” bisikku dingin. “Satu-satunya tempat yang akan Ibu dan anak Ibu datangi malam ini… adalah sel penjara.”
Dua puluh menit kemudian, sirine polisi meraung-raung di bawah gedung penthouse mewahku. Martin dan Carmela digiring keluar dengan tangan terborgol, disaksikan oleh para tetangga yang memandang mereka dengan tatapan jijik. Carmela menangis histeris, sementara Martin hanya bisa menunduk pasrah, menyadari bahwa keserakahan telah menghancurkan hidup mereka selamanya.
Saat pintu penthouse kembali tertutup dan keheningan menyelimuti ruangan, aku menghela napas panjang. Tubuhku mungkin sempat dilemahkan oleh racun mereka, tetapi jiwaku tidak akan pernah bisa mereka hancurkan.
Mulai hari ini, aku akan mengambil kembali seluruh kehidupanku, dan memastikan mereka membusuk di balik jeruji besi atas setiap tetes penderitaan yang telah mereka torehkan.