Berbulan-Bulan Sepupuku yang Kaya Raya Membayarku Rp30 Juta per Bulan untuk Mengasuh Putrinya yang Katanya “Sangat Nakal”—Namun Saat Ia Datang Menjemputnya, Sebuah Rahasia Menghancurkan Keluarga Mereka**
Setiap bulan, sepupuku yang seorang miliarder membayarku **Rp30 juta** untuk mengasuh putrinya yang berusia enam tahun.
Katanya, anak itu dingin, kasar, dan mustahil diajak akur.
Namun baru sebulan berlalu, ketika mereka datang menjemputnya, gadis kecil itu memelukku erat sambil menangis tersedu-sedu.
*”Tante Mara… tolong jangan kembalikan aku ke rumah itu.”*
Sebelum sempat kutanya apa maksudnya, aku melihat memar-memar di balik lengan bajunya.
Saat sepupuku, **Vanessa Alcantara**, meneleponku, aku sedang berbaring di lantai apartemen studio kontrakanku di **Jakarta Timur**.
Bukan karena aku ingin tidur di sana.
Aku memang sudah tidak punya ranjang.
Dua minggu sebelumnya ranjang itu terpaksa kujual untuk membayar listrik, internet, dan setengah uang sewa.
Aku menatap retakan di langit-langit sambil berpikir, lebih enak mana tidur di ruang tunggu terminal bus atau melamar kerja sebagai resepsionis shift malam demi bisa menikmati AC gratis.
Jadi ketika ponselku berdering dan nama Vanessa muncul di layar, aku langsung duduk.
Sudah tiga tahun sejak ia menikah dengan pengusaha sukses **Eduardo Alcantara**. Sejak saat itu, bahkan ucapan selamat ulang tahun pun tak pernah lagi kuterima darinya.
Karena itu aku tahu…
Pasti ada maunya.
*”Mara,”* sapanya dengan suara manis. *”Aku punya pekerjaan untukmu. Gajinya Rp30 juta per bulan.”*
Aku melirik kipas angin tua di sudut kamar.
*”Vanessa, jangan bercanda. Kalau kamu mau menyuruhku menguburkan sesuatu, setidaknya bilang dulu itu manusia atau bukan.”*
*”Sudahlah.”*
Aku mendengar suara kukunya mengetuk meja.
*”Kamu masih ingat putriku, Sofia?”*
Tentu saja.
Aku hanya pernah melihat Sofia sekali, saat reuni keluarga dua tahun lalu. Gadis kecil itu duduk diam di bawah meja sementara para orang dewasa bertengkar soal bisnis.
*”Sekarang usianya enam tahun,”* kata Vanessa. *”Dia makin parah. Tidak mau bicara, suka merusak barang, bahkan katanya memukul adiknya. Tiga pengasuh sudah kabur gara-gara dia.”*
*”Tunggu. ‘Katanya’?”*
Ia tidak menjawab.
*”Aku ingin dia tinggal sementara di rumahmu. Ajari dia disiplin. Biar dia tahu bagaimana susahnya hidup di luar rumah kami.”*
Aku langsung teringat film-film tentang anak orang kaya yang dikirim ke desa supaya belajar bekerja keras.
Dalam kasusku…
Tak perlu sampai ke desa.
Apartemenku saja sudah cukup.
Keran bocor, dua kursi plastik, dan kulkas yang suaranya lebih berisik daripada sepeda motor.
*”Rp30 juta setiap bulan?”* ulangku.
*”Hari ini aku transfer uang muka Rp15 juta.”*
Aku langsung berdiri.
*”Sepupu, dengan bayaran sebesar itu, sekalipun yang kau titipkan bayi Godzilla, akan kuajari dia cium tangan kepada orang tua.”*
Ia mengirim kontraknya.
Aku bertanggung jawab atas makanan, sekolah, keselamatan, dan pendidikan Sofia. Mereka bebas datang berkunjung kapan saja.
Begitu kutandatangani, uang muka **Rp15 juta** langsung masuk ke rekeningku.
Sore itu juga aku membeli helm sepeda dan pelindung lutut.
Kalau benar anak itu sampai membuat tiga pengasuh menyerah, lebih baik aku bersiap.
Aku juga sengaja tidak membersihkan apartemen.
Kardus-kardus kutumpuk di ruang tamu, piring kotor kubiarkan di wastafel, dan dua bungkus mi instan kutaruh di atas meja.
Rencanaku sederhana.
Aku ingin membuatnya takut pada kehidupan sederhana.
Begitu melihat tak ada kolam renang, tak ada koki pribadi, bahkan AC pun tidak ada, pasti sehari saja dia sudah merengek ingin pulang.
Keesokan harinya, tepat pukul sepuluh pagi, bel apartemen berbunyi.
Aku memakai helm sebelum membuka pintu.
Di depan berdiri seorang gadis kecil.
Gaun putihnya rapi, sepatu hitamnya mengilap, rambutnya diikat dengan sempurna.
Cantik seperti boneka.
Tapi aku tetap waspada.
*”Tante Mara?”*
*”Iya. Kamu Sofia?”*
Ia mengangguk.
Matanya menatap helm yang kupakai.
*”Di dalam sedang ada renovasi ya?”*
*”Tidak. Ini perlindungan pribadi.”*

Ia tidak tersenyum.
Dengan tenang ia menarik koper kecilnya masuk lalu berhenti di tengah ruang tamu.
Aku memperhatikan wajahnya saat melihat kardus-kardus, tempat sampah, pakaian berserakan, dan botol-botol kosong.
Ekspresinya berubah.
Dari hati-hati…
Menjadi benar-benar kecewa.
*”Maaf ya,”* kataku sambil pura-pura batuk. *”Beginilah kehidupan orang miskin. Tidak ada yang sempat bersih-bersih. Kadang makan malam cuma roti.”*
Aku berharap ia sedih.
Atau teringat rumah mewah mereka dan kamar tidurnya yang mungkin lebih besar daripada seluruh apartemenku.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Ia meletakkan kopernya.
Masuk ke dapur.
Mencari sarung tangan.
Lalu mulai mencuci piring.
Aku hanya bisa berdiri terpaku.
*”Sofia?”*
*”Nanti kecoak datang kalau dibiarkan.”*
Setelah selesai mencuci piring, ia membuang makanan basi, merapikan kardus, mengelap meja, lalu menyapu lantai.
Satu jam kemudian…
Apartemenku bahkan lebih bersih dibanding hari pertama aku pindah.
Ia membuka kulkas.
*”Tante… kentangnya sudah bertunas.”*
*”Memang tidak mau kumakan.”*
*”Kalau begitu kenapa masih disimpan?”*
*”Buat dekorasi.”*
Ia menatapku perlahan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku merasa sedang dihakimi oleh anak berusia enam tahun.
Ia mengambil telur, tomat, kubis, dan sosis yang tersisa.
Lima belas menit kemudian, dua lauk dan semangkuk sup hangat sudah tersaji di meja.
*”Silakan makan, Tante.”*
Aku langsung duduk.
Masakannya enak.
Asinnya pas.
Telurnya lembut.
Kuahnya hangat.
Saat aku makan dengan lahap, ia hanya duduk diam memperhatikanku.
*”Kamu tidak makan?”* tanyaku.
*”Aku makan setelah semua orang selesai.”*
Sendokku langsung berhenti.
*”Siapa yang mengajarimu begitu?”*
*”Di rumah.”*
Hari-hari berikutnya justru membuatku semakin bingung.
Ia tidak pernah merusak barang.
Tidak pernah berteriak.
Tidak pernah memukul siapa pun.
Setiap pagi bangun pukul lima, merapikan tempat tidur, lalu menunggu dengan tenang apa yang harus dikerjakan.
Kalau sendokku jatuh, ia segera memungutnya.
Kalau nada suaraku sedikit meninggi, tubuhnya langsung menegang dan kedua tangannya disatukan di belakang punggung.
Seolah…
Ia sedang menunggu hukuman.
Akhirnya aku mengubah caraku.
Kalau keluarganya ingin aku membuat hidupnya lebih berat…
Aku justru akan memberinya kebahagiaan.
Aku mengajaknya ke **Monas**.
Kami naik **TransJakarta**.
Makan bakso keliling dan es krim di pinggir jalan.
Awalnya ia takut memegang es krim karena khawatir bajunya kotor.
*”Itu cuma baju,”* kataku. *”Bisa dicuci. Tapi masa kecil tidak akan terulang.”*
Di situlah…
Untuk pertama kalinya…
Ia tersenyum.
Kecil.
Namun sungguh tulus.
Perlahan ia belajar tertawa, berlari, dan meminta sesuatu.
Ia meminta sosis goreng berbentuk gurita.
Ia meminta aku menemaninya tidur saat hujan.
Ia memintaku memanggilnya **Fia**, karena katanya nama Sofia hanya dipakai saat seseorang sedang marah padanya.
Suatu malam, saat aku mengeringkan rambutnya, ia tiba-tiba bertanya,
*”Tante Mara… apakah aku anak yang jahat?”*
*”Tidak.”*
*”Tapi kata Mama, aku penyebab dia selalu marah.”*
Aku meletakkan handuk.
*”Kemarahan orang dewasa bukan kesalahan seorang anak.”*
Ia menatapku…
Seolah baru pertama kali mendengar jawaban seperti itu.
Tepat sebulan setelah ia datang, Vanessa kembali bersama suaminya, Eduardo, dan putra bungsu mereka, Nico.
Vanessa mengenakan pakaian mahal dan kacamata hitam.
Ia bahkan tidak menyapaku.
*”Sofia, ambil barangmu. Kita pulang.”*
Tubuh gadis kecil di sampingku langsung kaku.
Ia tidak bergerak.
Vanessa mendekat dan menarik lengannya.
Saat itulah Sofia berteriak.
*”Tidak! Aku tidak mau!”*
Ia memeluk pinggangku erat-erat.
*”Tante Mara… tolong! Aku akan bersih-bersih setiap hari! Aku tidak akan nakal lagi! Tolong jangan kembalikan aku ke sana!”*
Wajah Eduardo langsung pucat.
Vanessa mengerutkan dahi.
*”Berhenti berpura-pura.”*
Saat Vanessa kembali menarik lengan Sofia, ujung lengan bajunya tersingkap.
Saat itulah aku melihat…
Memar-memar gelap bertumpuk di lengan kecilnya.
Itu bukan memar karena bermain.
Bekasnya jelas menyerupai genggaman jari seseorang.
Dan di tengah keheningan…
Nico menunjuk kakaknya sambil berkata polos,
*”Mama… kenapa Mama tidak bilang sama Tante Mara kalau Mama sendiri yang mendorong Kakak dari
Kata-kata Nico melesat seperti anak panah yang membelah keheningan apartemenku.
Detik itu juga, napas Vanessa tertahan. Wajahnya yang semula angkuh mendadak pias, kehilangan seluruh warna darahnya. Di sampingnya, Eduardo menatap istrinya dengan tatapan mata yang belum pernah kulihat sebelumnya—campuran antara syok, jijik, dan amarah yang meledak-ledak.
“Vanessa…” suara Eduardo bergetar, rendah namun menakutkan. “Apa maksud Nico? Apa yang kamu lakukan pada Sofia?”
“Ed, jangan dengarkan anak kecil! Nico hanya asal bicara!” Vanessa mencoba tertawa, namun suaranya melengking panik. Ia segera berbalik menatapku dengan tatapan mengancam. “Mara, kembalikan anakku sekarang! Kamu tidak berhak mencampuri urusan keluarga kami!”
Namun, aku tidak melepaskan pelukan Sofia. Aku justru menarik gaun putihnya sedikit ke atas, menyingkap bagian bahu dan punggungnya yang selama sebulan ini selalu ia sembunyikan dengan rapat.
Di sana, terpampang jelas bekas luka goresan panjang yang sudah mengering dan lebam kebiruan yang amat parah. Hatiku mencelos. Pantas saja anak ini selalu menegang ketakutan setiap kali aku menaikkan nada suaraku. Selama ini, ia bukan dikirim kepadaku karena “nakal”, melainkan disembunyikan agar bekas-bekas penganiayaan ini tidak terendus oleh publik atau bahkan oleh suaminya sendiri yang sibuk bekerja.
“Kamu bilang dia nakal, Vanessa?” suaraku bergetar menahan amarah. “Dia anak paling penurut yang pernah kutemui! Kamu membayarku tiga puluh juta sebulan bukan untuk mendidiknya, tapi untuk menutupi kebusukanmu!”
Eduardo melangkah maju, mencengkeram pergelangan tangan Vanessa dengan kasar. “Selama ini kamu bilang Sofia jatuh di sekolah! Kamu bilang pengasuh-pengasuh itu keluar karena Sofia nakal! Ternyata mereka semua kabur karena tidak tahan melihat kelakuanmu, hah?!”
“Ed, aku stres! Aku depresi! Dia selalu mengingatkanku pada…” Vanessa mendadak menghentikan kalimatnya. Matanya membelalak, menyadari bahwa ia baru saja menyentuh sebuah rahasia yang jauh lebih besar.
“Mengingatkanmu pada siapa?” tanya Eduardo, suaranya kini terdengar luar biasa dingin.
Nico, yang masih memegang mainannya, kembali mendongak dan menatap ayahnya dengan polos. “Kata Mama, Kak Fia bukan anak Papa. Jadi Mama boleh pukul Kak Fia.”
JDUARRR!
Apartemen setiupku seolah dihantam badai petir. Rahasia terdalam yang menghancurkan pondasi keluarga miliarder itu akhirnya runtuh seutuhnya di atas lantai kontrakan kasur tipismu.
Eduardo mematung. Kebenaran pahit itu menghantamnya telak. Selama ini, Sofia adalah hasil dari perselingkuhan Vanessa di awal pernikahan mereka. Dan untuk menutupi rasa bersalah sekaligus kebenciannya pada kesalahan masa lalunya, Vanessa melampiaskan seluruh kegilaannya pada tubuh kecil Sofia yang tidak berdosa.
“Kita cerai,” ucap Eduardo pelan, namun mutlak. Ia melepaskan cengkeramannya dari Vanessa seolah wanita itu adalah seonggok sampah yang menjijikkan. “Aku akan membawa Nico. Dan semua aset atas namamu… akan kuhabisi.”
Vanessa berlutut, menangis histeris di lantai apartemenku, memohon ampunan yang tidak akan pernah datang lagi. Ia kehilangan segalanya dalam hitungan detik—kekayaannya, suaminya, dan status sosialnya.
Eduardo kemudian berlutut di hadapan Sofia. Air mata pria tegap itu menetes. Ia mengusap rambut putrinya dengan lembut, meski kini ia tahu gadis kecil itu bukan darah dagingnya. “Fia… Papa minta maaf karena tidak pernah ada untukmu.”
Eduardo lalu menatapku. “Mara… tolong jaga Sofia untuk sementara waktu. Aku akan mengurus proses hukum jalang ini dan menyiapkan hak asuh serta rumah yang layak untuk Sofia bersamamu. Aku akan membiayai seluruh hidupnya—dan hidupmu—berapapun yang kamu minta.”
Aku tidak memedulikan soal uang lagi. Aku hanya mengeratkan pelukanku pada Sofia. Gadis kecil itu akhirnya berhenti menangis. Ia mendongak menatapku, memamerkan senyum gurita kecil yang pernah kami pelajari bersama di Monas.
“Tante Mara… malam ini kita makan sosis gurita lagi, kan?” bisiknya lirih.
Aku mengangguk kuat-kuat sambil menghapus air mataku. “Iya, Fia. Malam ini, dan malam-malam seterusnya, tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu.”
tangga?”*
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.