Posted in

SEBELUM AKU MELAHIRKAN, FOTO-FOTO SELINGKUHAN SUAMIKU JATUH DARI LEMARI—TAPI DIA TIDAK TAHU, PADA MALAM SAAT DIA MENINGGALKANKU DI RUANG BERSALIN, KEHANCURANNYA JUGA DIMULAI

SEBELUM AKU MELAHIRKAN, FOTO-FOTO SELINGKUHAN SUAMIKU JATUH DARI LEMARI—TAPI DIA TIDAK TAHU, PADA MALAM SAAT DIA MENINGGALKANKU DI RUANG BERSALIN, KEHANCURANNYA JUGA DIMULAI

Dua minggu sebelum tanggal persalinanku, aku menemukan kenyataan yang menghancurkan seluruh duniaku.

Saat sedang menyiapkan tas untuk rumah sakit, sesuatu jatuh dari atas lemari—sebuah amplop, beberapa rekam medis, dan tiga foto yang seolah sengaja disembunyikan tetapi tanpa sengaja terlupakan.

Di foto pertama, seorang gadis muda bersandar erat di dada suamiku.

Di foto kedua, dia tersenyum sementara Adrian merangkul pinggangnya.

Di foto ketiga, mereka berdiri bersama di depan sebuah hotel di Bonifacio Global City.

Dan yang paling menyakitkan?

Di balik foto itu ada tulisan tangan Adrian:

“Untuk Lea, tempatku beristirahat saat dunia terasa kacau.”

Aku menatap kalimat itu lama sekali.

Rasanya seperti disiram air es, sementara bayi dalam kandunganku bergerak pelan tanpa tahu bahwa ayahnya telah membangun kehidupan lain di balik semua kelelahan, air mata, muntah-muntah, dan malam-malam tanpa tidur yang kulalui.

“Apa ini?” tanyaku ketika Adrian masuk ke kamar.

Dia tidak langsung menjawab.

Dia hanya terdiam sesaat, tetapi itu bukan ekspresi takut ataupun menyesal. Justru terlihat kesal karena aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kutemukan.

Dia mengambil rekam medis dari tanganku lalu menepuk-nepuknya perlahan seolah dokumen itu adalah bukti yang cukup untuk membuatku diam.

“Jangan berlebihan, Mika,” katanya. “Lea hanya menemaniku selama kamu hamil. Dia sehat. Masih mahasiswi. Rekam medisnya bersih. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.”

Aku sampai tidak bisa bernapas.

Seolah pria di depanku bukan lagi suamiku, melainkan orang asing yang memakai wajah pria yang kucintai hampir sepuluh tahun.

“Hanya menemanimu?” ulangku dengan suara gemetar. “Saat aku tidak bisa bangun karena mual? Saat aku mengandung anak kita? Saat aku terus bertanya-tanya apakah aku bisa menjadi ibu yang baik? Saat itulah kamu punya wanita lain yang kamu sebut tempat beristirahat?”

Dia menghela napas panjang seolah akulah yang merepotkan.

“Mika, aku laki-laki. Aku juga punya kebutuhan. Itu tidak berarti aku tidak mencintaimu.”

Aku tertawa.

Tidak ada suara yang keluar.

Hanya air mata.

“Kamu punya kebutuhan,” bisikku. “Lalu aku ini apa? Inkubator? Istri di atas kertas? Pengasuh anakmu?”

Dia melangkah mendekat, tetapi aku mundur.

“Jangan bikin drama,” katanya dingin. “Aku tidak membawanya ke rumah ini. Aku tidak tinggal bersamanya. Dia juga tidak mengambil posisimu.”

Saat itulah aku benar-benar runtuh.

Karena ternyata begitulah standar kesetiaannya.

Selama wanita itu tidak dibawa pulang, maka bukan kesalahan.

Selama dia tidak mengambil nama belakangku, maka bukan luka.

Selama istrinya tidak tahu, maka bukan kejahatan.

Tiba-tiba rasa sakit menjalar dari bawah perutku.

Aku memegang perutku.

“Adrian…” panggilku pelan.

Dia tidak langsung menoleh.

Dia malah mengambil korek api di meja dan hendak menyalakan rokok. Baru setelah melihat wajahku, dia menghentikannya.

“Ada apa lagi?”

Rasa sakit itu datang lagi.

Lebih kuat.

Lebih dalam.

Lalu cairan hangat mengalir di antara kedua pahaku.

Aku menatap lantai.

Air ketubanku pecah.

Wajah Adrian langsung pucat.

“Mika!”

Dalam hitungan detik dia bergerak cepat seperti suami yang dulu kukenal.

Dia mengangkatku, mengambil tas rumah sakit, dan hampir berlari keluar dari apartemen kami di Mandaluyong.

Di dalam lift dia menggenggam tanganku.

“Jangan takut,” bisiknya. “Aku di sini. Kita ke St. Gabriel Medical Center. Sudah dekat. Kamu pasti bisa.”

Aku ingin percaya.

Aku ingin berpegang pada suara itu.

Pada tangan itu.

Pada kenangan tentang pria yang pernah terbang ke Cebu hanya karena aku demam saat perjalanan dinas.

Pria yang pernah menungguku di depan kantor pukul sepuluh malam sambil membawa makanan hangat karena tahu aku belum makan.

Tetapi sebelum kami sampai ke parkiran, ponselnya berdering.

Aku melihat nama yang muncul di layar.

Lea.

Tanpa ragu dia menjawab.

“Halo, Sayang? Jangan menangis. Kami sedang menuju rumah sakit. Ya, Mika. Air ketubannya sudah pecah.”

Aku memejamkan mata.

Sayang.

Pada malam aku akan melahirkan, ada wanita lain yang dia panggil “sayang”.

Saat kami tiba di rumah sakit, aku langsung dibawa ke ruang bersalin.

Di depan pintu, Adrian menggenggam tanganku.

“Mika, aku tidak akan pergi. Aku akan menunggu kalian berdua di sini.”

Aku tidak menjawab.

Aku tidak sanggup menatap wajahnya.

Namun saat pintu hampir ditutup, ponselnya kembali berdering.

Lea.

Aku mendengar suaranya sebelum pintu tertutup sepenuhnya.

“Kamu tersesat? Di mana sekarang? Jangan pergi ke mana-mana. Aku akan menjemputmu.”

Dan setelah itu, aku melihatnya berlari menjauh.

Bukan menuju ruang tunggu.

Bukan menuju ruang bayi.

Melainkan keluar dari rumah sakit.

Sementara aku berjuang melahirkan anak kami.

Tujuh jam kemudian, saat tangisan pertama bayiku terdengar, aku membuka aplikasi lokasi yang dulu kami gunakan sebagai simbol kepercayaan.

Titik lokasi Adrian tidak berada di rumah sakit.

Tidak di jalan.

Tidak di gereja.

Melainkan di sebuah hotel mewah di Makati.

Aku memeluk anakku yang baru lahir.

“Mulai hari ini,” bisikku, “untuk sementara hanya ada kita berdua.”

Keesokan harinya, saat aku masih kesulitan berdiri dan mengganti pakaian sendiri, pintu kamar rumah sakit terbuka.

Adrian masuk.

Dan di sampingnya ada Lea.

Dia duduk di sofa kamar rumah sakitku seperti tamu hotel, sementara Adrian membentangkan jaketnya agar Lea tidak kedinginan.

Padahal jaket itu adalah hadiah pertamaku untuknya.

Tiga bulan aku menabung untuk membelinya.

Kini dipakai untuk melindungi selingkuhannya.

Lea memandangku dari atas sampai bawah lalu tersenyum.

“Kak Mika,” katanya manis namun penuh racun, “tenang saja. Aku tidak merebut suamimu. Aku bahkan tidak ingin menikah. Kamu tetap istri sahnya, kamu rumahnya. Aku hanya tempat dia beristirahat.”

Pada saat itu, sesuatu dalam diriku benar-benar putus.

Bukan cinta.

Bukan kesabaran.

Melainkan sisa ketakutan terakhir.

Aku mengambil ponselku, membuka kamera, dan mulai merekam.

Lalu di depan suamiku, selingkuhannya, dan bayi kami yang sedang tertidur, aku berkata:

“Adrian Reyes, mulai hari ini, kamu bukan hanya meninggalkanku sebagai istri. Kamu juga meninggalkan anakmu sebagai seorang ayah. Dan aku akan memastikan kamu menyesali keputusan itu.”

Mereka belum tahu—

pengacara yang sudah lama kuhubungi…

…pengacara yang sudah lama kuhubungi sebenarnya telah memegang seluruh kendali atas hidup Adrian sejak tiga bulan lalu.

Mereka pikir aku adalah istri naif yang baru tahu segalanya dua minggu lalu? Tidak. Amplop di atas lemari itu sengaja kuletakkan di sana agar Adrian mengira aku baru mengetahuinya secara tidak sengaja. Aku sengaja memancing reaksinya, dan malam saat dia meninggalkanku di ruang bersalin demi Lea adalah puncak jebakan yang dia gali sendiri.

Aku menurunkan ponselku, berhenti merekam, lalu tersenyum tipis—senyuman pertama yang membuat wajah Adrian tiba-tiba menegang.

“Mika, apa-apaan ini? Jangan kekanak-kanakan,” kata Adrian, mencoba merebut ponselku, tetapi aku dengan tenang menaruhnya di bawah bantal.

“Lea,” panggilku, menatap wanita muda yang kini tampak sedikit gelisah. “Kamu bilang kamu tidak ingin menikah dan hanya ingin menjadi tempatnya beristirahat, kan? Terima kasih. Karena berkat video barusan, rekam medis yang kutemukan, dan bukti check-in kalian di Makati semalam saat aku bertaruh nyawa… pengacaraku baru saja mengirimkan gugatan cerai sekaligus tuntutan pidana perzinaan ke kantor pusat perusahaanmu.”

Wajah Adrian memucat seketika. “Mika, jangan gila! Kamu tahu apa akibatnya kalau reputasiku hancur di perusahaan?!”

“Aku tahu jelas, Adrian. Sangat tahu,” ujarku datar. “Oh, dan satu hal lagi. Ingat apartemen di Mandaluyong yang kita tinggali? Mobil yang kamu pakai? Serta 70% saham di agensi logistik yang kamu kelola? Semua itu dibeli atas nama perusahaan mendiang ayahku. Dalam perjanjian pranikah yang kamu tanda tangani sepuluh tahun lalu karena terlalu bucin, ada klausul perselingkuhan. Kamu akan keluar dari pernikahan ini hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhmu.”

Lea langsung berdiri, jaket hadiahku merosot ke lantai rumah sakit yang dingin. “Adrian… apa maksudnya ini? Kamu bilang semua aset itu milikmu!”

“Diam kamu, Lea!” bentak Adrian, frustrasi. Pria yang tadi malam berlagak seperti pahlawan pelindung itu kini tampak kerdil dan gemetar. Dia berlutut di samping ranjangku, mencoba meraih tanganku. “Mika, tolong… demi anak kita. Aku khilaf. Aku bersumpah akan memutuskan Lea sekarang juga! Tolong jangan hancurkan karirku!”

Aku menarik tanganku menjauh dengan rasa jijik yang amat sangat.

“Anak kita?” Aku menunjuk ke arah boks bayi di sudut ruangan. “Anak ini tidak butuh ayah yang menganggap ibunya sebagai inkubator. Mulai detik ini, hak asuh penuh jatuh ke tanganku, dan namamu tidak akan pernah tercantum di akta kelahirannya.”

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Dua orang pria berjas rapi masuk—pengacaraku, lengkap dengan dua petugas keamanan rumah sakit.

“Pak Adrian Reyes, ini surat gugatan cerai dan panggilan dari kepolisian terkait tuntutan perzinaan serta penelantaran istri sah. Silakan ikut kami keluar, Anda sudah tidak memiliki hak untuk berada di fasilitas yang dibiayai oleh Ibu Mika,” ucap sang pengacara tegas.

Adrian menatapku dengan mata membelalak penuh kehancuran, menyadari bahwa karir, harta, dan reputasi yang dia agung-agungkan runtuh dalam satu malam. Sementara Lea, menyadari pria di hadapannya kini tidak lebih dari seorang gelandangan tanpa masa depan, langsung melangkah mundur, meninggalkan Adrian tanpa menoleh lagi.

Saat petugas keamanan menyeret Adrian yang terus memohon berlutut keluar dari kamar, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.

Aku menarik napas dalam-dalam. Udara rumah sakit yang tadinya terasa menyesakkan, kini terasa begitu bersih. Aku menoleh ke arah boks bayi, melihat malaikat kecilku yang menggeliat pelan dalam tidurnya.

Kehancuran Adrian baru saja dimulai, tetapi bagiku dan anakku, ini adalah hari pertama dari kehidupan kami yang baru. Sebuah kehidupan yang dibangun di atas fondasi kemandirian, tanpa ruang untuk pengkhianatan.