Posted in

KAMU MEMBATALKAN PERNIKAHAN KITA DI DEPAN SEMUA ORANG KARENA AKU MENAMPAR WANITA SIMPANANMU. LALU KAMU MENGASINGKANKU KE PEDALAMAN PAPUA AGAR AKU “BELAJAR MENURUT”.**

KAMU MEMBATALKAN PERNIKAHAN KITA DI DEPAN SEMUA ORANG KARENA AKU MENAMPAR WANITA SIMPANANMU. LALU KAMU MENGASINGKANKU KE PEDALAMAN PAPUA AGAR AKU “BELAJAR MENURUT”.**

Lima tahun yang lalu.

Tepat di hari pernikahan kami.

Di depan altar dan seluruh kalangan elite Jakarta, aku menampar wanita yang selalu menempel pada calon suamiku.

Tunangan yang seharusnya membelaku justru murka.

Ia membatalkan pernikahan kami di hadapan semua tamu.

Malam itu juga…

Ia mengasingkanku ke sebuah daerah terpencil di Papua.

Sebelum aku naik pesawat, ia berdiri di depanku seperti seorang raja yang sedang menjatuhkan hukuman.

“Kalau kamu masih ingin menginjakkan kaki di rumah keluarga Valderama dan menjadi istriku, ubahlah sifatmu itu, Ysabelle.”

“Kalau kamu sudah belajar patuh dan tahu bagaimana menjadi perempuan yang baik, barulah aku akan menjemputmu pulang.”

Ia ingin menghancurkanku.

Ia ingin mematahkan harga diriku agar seumur hidup bergantung padanya.

Namun ia tidak pernah tahu…

Burung yang ia kurung telah lama belajar terbang jauh lebih tinggi daripada yang mampu ia raih.

Dan bunga yang ia buang ke tanah tandus…

Setelah bertahan melewati badai dan merasakan kebebasan…

Tak akan pernah lagi kembali ke dalam sangkar.

Saat duduk di pesawat menuju Jakarta, aku membuka ponselku.

Sebuah pesan WhatsApp muncul.

**Tristan Valderama:**

*”Ysabelle, tanpa izinku, bagaimana kamu bisa berani pulang ke Indonesia?”*

Meski tidak melihat wajahnya, aku bisa membayangkan ekspresi dingin dan penuh amarah itu.

Tristan selalu terbiasa mengendalikan setiap langkah hidupku.

Selama tiga tahun pertama di Papua…

Setiap gerak-gerikku diawasi orang-orang suruhannya.

Ia memaksaku belajar menjahit.

Membaca buku-buku lama.

Menjalani hidup yang sunyi.

Semua demi menjadikanku istri yang “sempurna” dan penurut.

Namun pada tahun ketiga…

Karena aku membuat Chloe—sahabat perempuan yang selalu dibelanya—kesal…

Ia menghukumku.

Semua pengawalnya ditarik.

Seluruh akses uangku diputus.

Ia membiarkanku bertahan hidup sendirian di daerah yang penuh konflik.

Ia mengira aku akan menyerah.

Mengira aku akan berlutut memohon ampun.

Padahal…

Ysabelle yang ia buang lima tahun lalu sudah lama mati.

Yang berhasil bertahan hidup hanyalah seorang perempuan yang siap menagih semua utang masa lalu.

Begitu keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, ponselku kembali berdering.

Nama Tristan muncul di layar.

Aku mengangkatnya tanpa emosi.

“Lima tahun berlalu, tapi kamu malah semakin kurang ajar.”

Suara Tristan terdengar dingin.

“Kenapa?”

“Kangen padaku sampai akhirnya pulang sendiri?”

“Sudah tidak sabar ingin menikah denganku lagi?”

Aku tetap diam.

Dari seberang telepon terdengar helaan napas panjang.

“Sudahlah.”

“Karena kamu sudah kembali…”

“Aku tahu kamu tidak mungkin bisa hidup tanpaku.”

“Ysa…”

“Aku juga merindukanmu.”

Ia berhenti sejenak.

Seolah tidak terbiasa merendahkan diri.

Lalu kembali dengan nada angkuhnya.

“Minta maaf saja kepada Chloe di depan umum.”

“Aku akan melupakan semua yang terjadi lima tahun lalu.”

“Ini kesempatan terakhirmu.”

“Ada yang akan menjemputku.”

Hanya itu jawabanku sebelum memotong ucapannya.

Beberapa detik kemudian ia tertawa sinis.

“Ada yang menjemputmu?”

“Ysa…”

“Jangan lupa.”

“Di Jakarta, selain aku, kamu tidak punya siapa-siapa.”

Ia memang tidak salah.

Sejak umur tiga belas tahun…

Aku diasuh oleh mendiang ibu Tristan, Nyonya Alicia.

Demi melindungiku, keluarga Valderama menyembunyikan identitasku dari publik sebagai gadis yatim piatu.

Tidak seorang pun tahu siapa aku sebenarnya.

“Ysa…”

“Kamu lupa pesan terakhir Mama?”

Ia mencoba mengancamku menggunakan nama ibunya.

“Baik.”

Jawabku singkat hanya untuk mengakhiri pembicaraan.

Ia tampak puas menganggapku menyerah.

“Bagus.”

“Tapi untuk sementara kita tidak perlu bertemu.”

“Aku sedang sangat sibuk.”

Baginya…

Aku masih tetap seseorang yang pantas dihukum.

Ia tidak tahu…

Aku justru lebih bahagia tanpa melihat wajahnya.

Begitu keluar dari terminal…

Sebuah sedan hitam mewah milik keluarga Valderama berhenti di depanku.

Pak Pedri, sopir tua yang dulu selalu baik kepadaku, turun membukakan pintu.

“Nona Ysa…”

“Banyak yang berubah pada diri Anda.”

Katanya pelan sambil melihatku melalui kaca spion.

“Tuan Tristan sebenarnya sangat mengkhawatirkan Anda.”

“Jangan buat beliau marah lagi.”

Aku hanya tersenyum tipis dan memandang keluar jendela.

Ingatanku kembali ke hari pernikahan kami.

Aku mengenakan gaun senilai miliaran rupiah.

Beberapa menit sebelum pemberkatan dimulai…

Tristan dipanggil teman-temannya karena katanya ada keadaan darurat.

Saat itulah Chloe mendekat.

Dengan senyum penuh ejekan.

“Tahu tidak, Ysa?”

Gaunmu ini sudah kupakai tadi malam.”

“Dan Tristan bilang…”

“…gaun ini jauh lebih cocok untukku.”

Ia menunjukkan sebuah video.

Suara napas.

Desahan.

Dan suara Tristan.

Sudah cukup untuk menghancurkan seluruh duniaku.

*”Aku tidak bisa memperlakukan Ysa seperti aku memperlakukanmu, Chloe.”*

*”Dia terlalu polos.”*

*”Aku harus mengajarinya pelan-pelan agar pantas menjadi istriku.”*

Saat itulah…

Aku menampar Chloe sekuat tenaga.

Lalu apa yang dilakukan Tristan?

Ia langsung melindungi Chloe.

Merobek gaun pengantinku di depan semua tamu.

Membatalkan pernikahan kami.

Dan menyeretku langsung menuju bandara.

Tiga hari setelah aku kembali ke Jakarta…

Mobil keluarga Valderama membawaku ke **La Vista Estate** di Puncak.

Perkebunan pribadi paling mewah milik miliarder misterius, Xavier Ong.

Malam ini adalah pesta penyambutannya.

Seluruh kalangan elite Indonesia berlomba mendapatkan undangan.

Bahkan satu undangan saja bernilai ratusan juta rupiah.

Begitu memasuki aula megah itu…

Chloe langsung menghadangku.

“Lihat siapa yang datang.”

“Anak yatim kesayangan Tristan.”

Katanya keras agar semua orang mendengar.

“Bagaimana kamu bisa masuk tanpa undangan?”

“Jangan-jangan kamu menyelinap masuk untuk mencuri.”

Orang-orang mulai berbisik.

Tatapan meremehkan mengarah kepadaku.

Aku tersenyum tipis.

“Baru tahu ternyata sekarang kamu pemilik tempat ini, Chloe.”

“Atau…”

“…Tristan sudah mulai membuangmu juga?”

Wajah Chloe langsung memerah karena marah.

Saat itulah Tristan masuk bersama para pengawalnya.

Chloe segera memeluk lengannya.

“Tristan!”

“Lihat perempuan ini!”

“Dia masuk tanpa undangan lalu mempermalukanku!”

Tristan menatapku.

Matanya dipenuhi emosi yang rumit.

“Ysa…”

“Bagaimana kamu bisa masuk?”

“Kalau memang ingin datang…”

“Kamu tinggal bilang padaku.”

Ia tidak tahu…

Seluruh kawasan La Vista Estate telah dibeli oleh keluarga Salvador.

Dan aku…

Adalah **Ysabelle Salvador**.

Satu-satunya pewaris keluarga terkaya di Indonesia.

Keluarga yang selama ini mereka remehkan.

Saat Tristan hendak menarik lenganku untuk mengusirku…

Seorang pria bertubuh tinggi dan sangat tampan tiba-tiba berdiri di depan kami.

Ia menarikku ke dalam pelukannya.

Memelukku erat di hadapan semua orang.

Mata Tristan langsung memerah karena marah.

Tangannya mengepal kuat.

“Lepaskan dia!”

“Ysabelle, jelaskan semua ini!”

teriaknya.

Aku memandangnya sambil tersenyum dingin.

“Dia laki-lakiku.”

“Oh ya…”

“Pria tampan dan kaya seperti dia?”

“Di rumahku masih ada tujuh orang lagi.”

Pernyataan santai yang keluar dari bibirku itu bagaikan petir di siang bolong bagi semua orang di aula megah tersebut.

Wajah Tristan yang tadinya memerah karena amarah mendadak membeku, berganti dengan ekspresi tidak percaya yang amat sangat. Chloe di sampingnya sampai melongo, sementara bisik-bisik para tamu undangan elite Jakarta langsung meledak riuh.

Pria tinggi di sampingku—Julian Salvador, sepupu kandung sekaligus kepala pelindung keluarga Salvador—hanya terkekeh rendah. Ia melingkarkan lengannya di pinggangku dengan posesif, menatap Tristan seolah pria Valderama itu hanyalah remah debu di sepatunya.

“Ysabelle! Cukup lelucon murahan ini!” bentak Tristan, suaranya bergetar menahan malu dan murka. “Kamu pikir dengan membawa pria asing dan membual seperti ini, kamu bisa membuatku cemburu? Kamu hanyalah gadis yatim piatu yang dipelihara ibuku! Di rumahmu ada tujuh pria lagi? Hah, jangan mimpi!”

“Tuan Valderama,” potong Julian, suaranya berat dan berwibawa, seketika membungkam riuh aula. “Jaga ucapan Anda. Gadis yang Anda sebut yatim piatu ini adalah Ysabelle Salvador, putri tunggal dari mendiang Abraham Salvador. Pemilik sah dari seluruh dinasti bisnis Salvador, termasuk tanah La Vista Estate tempat Anda berdiri menumpang pesta malam ini.”

Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan.

“T-tidak mungkin…” Chloe terbata-bata, wajahnya mendadak sepucat kain kafan. “Dia hanya perempuan miskin yang dibuang ke Papua! Tristan, katakan padaku dia berbohong!”

Tristan tidak menjawab. Matanya terbelalak menatap bros platinum berlambang burung phoenix khas keluarga Salvador yang tersemat di dadaku—lambang yang hanya boleh dikenakan oleh darah murni Salvador. Ingatan Tristan mendadak mundur ke pesan terakhir ibunya sebelum meninggal, yang selalu melarangnya menyakiti Ysabelle. Ibunya bukan mengadopsi anak yatim, ibunya sedang menyembunyikan sang putri mahkota demi melindunginya dari perebutan kekuasaan internal Salvador.

Dan sekarang, singa betina itu telah kembali dengan kuku yang sudah tajam.

“Ysa… kamu…” Tristan melangkah maju, tangannya gemetar mencoba meraihku. “Maafkan aku… aku tidak tahu. Lima tahun ini… aku hanya ingin mendidikmu agar—”

“Mendidikku?” Aku tertawa, suara tawaku terdengar begitu renyah namun dingin menusuk tulang. “Menghukumku di pedalaman tanpa uang dan pengawal, membiarkanku bertaruh nyawa di daerah konflik hanya agar aku menjadi boneka penurutmu? Kamu salah besar, Tristan.”

Aku melangkah maju, mendekatkan wajahku ke arahnya dan Chloe.

“Di Papua, tanpa uang darimu, aku justru menemukan jaringan bisnis emas hitam milik keluargaku yang sempat hilang. Tujuh pria yang kubilang ada di rumahku? Mereka adalah tujuh panglima tertinggi benteng pertahanan Salvador yang kini berdiri di belakangku. Dan tebak apa yang mereka bawa ke Jakarta?”

Aku menjentikkan jariku.

Pintu aula terbuka lebar. Belasan pria tegap berjas hitam masuk, dipimpin oleh pengacara utama keluarga Salvador. Mereka membawa beberapa map dokumen merah.

“Malam ini, seluruh saham Valderama Group yang telah dibeli secara senyap oleh Salvador resmi ditarik,” ujar sang pengacara lantang. “Juga, atas perintah Nona Ysabelle, kami mengajukan tuntutan hukum atas penggelapan dana yayasan Alicia Valderama yang diam-diam digunakan oleh Tuan Tristan untuk membiayai kemewahan Nona Chloe.”

“Tristan!” Chloe menjerit panik saat dua petugas kepolisian yang mengekor di belakang pengacaraku langsung berjalan ke arahnya dengan borgol siap di tangan. “Tolong aku, Tristan! Aku tidak mau dipenjara!”

Namun Tristan bahkan tidak menoleh pada wanita simpanannya itu. Matanya terkunci padaku, dipenuhi penyesalan yang teramat sangat, frustrasi, dan ketakutan yang mendalam karena menyadari dia baru saja kehilangan wanita yang bisa menaikkan derajatnya ke puncak dunia.

“Ysa, tolong… kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kita punya sejarah delapan tahun bersama! Pernikahan kita… kita bisa melanjutkannya sekarang!” ratap Tristan, kehilangan seluruh keangkuhannya sebagai pewaris Valderama. Dia berlutut di lantai marmer, mencoba memohon di hadapan semua orang yang dulu menyaksikan dia membuangku.

Aku menatapnya dari atas ke bawah untuk terakhir kalinya.

“Pernikahan?” Aku tersenyum tipis, lalu memberi isyarat kepada petugas keamanan untuk menyeret Chloe dan mengusir Tristan dari propertiku. “Aku memang menyukai pakaian pengantin, Tristan. Tapi gaun itu terlalu mewah jika hanya digunakan untuk bersanding dengan seorang pecundang sepertimu.”

Aku berbalik, menggandeng lengan Julian, dan berjalan menuju podium utama untuk menyambut para kolega bisnisku yang sesungguhnya.

Dari balik punggungku, terdengar teriakan frustrasi Tristan yang diseret keluar bersama kehancuran nama baik dan dinasti keluarganya. Burung yang pernah dia kurung kini telah terbang begitu tinggi di angkasa, meninggalkan sangkar emasnya yang kini berubah menjadi penjara bawah tanah untuk dirinya sendiri.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.