SANG MILIARDER TERTEGUN SAAT MELIHAT KALUNG YANG SANGAT AKRAB DI LEHER SEORANG PELAYAN—KALUNG MILIK PUTRINYA YANG HILANG 25 TAHUN LALU. NAMUN KETIKA TERUNGKAP BAGAIMANA KALUNG ITU BISA BERADA PADANYA, WAJAH ISTRINYA YANG SELAMA INI DIKENAL “SANGAT BAIK HATI” LANGSUNG PUCAT… KARENA TERNYATA DIALAH IBLIS YANG MEMBUANG ANAK ITU.
PENANTIAN YANG TAK PERNAH BERAKHIR
Namaku Don Alejandro.
Usiaku enam puluh tahun.
Aku adalah pemilik tunggal salah satu kerajaan perbankan terbesar di Indonesia.
Namun di balik kekayaan yang bernilai triliunan rupiah, ada satu lubang besar di hatiku yang tidak pernah bisa ditutup oleh uang.
Dua puluh lima tahun yang lalu, putriku yang berusia tiga tahun, Sofia, menghilang.
Ia diculik saat berada di taman dan tidak pernah ditemukan lagi.
Sejak hari itu, duniaku runtuh.
Satu-satunya orang yang selalu menemaniku melewati masa-masa kelam itu adalah istri keduaku, Martina.
Martina merawatku.
Ia selalu lembut.
Selalu penuh perhatian.
Selalu tampak begitu peduli.
“Jangan terlalu sedih, Alejandro,” bisiknya berkali-kali sambil menghapus air mataku.
“Aku yakin Sofia berada di tempat yang baik. Aku akan selalu ada untukmu.”
Malam ini, aku dan Martina makan malam di sebuah restoran mewah eksklusif untuk merayakan hari jadi pernikahan kami.
Namun pikiranku masih melayang jauh.
Aku terus membayangkan seperti apa wajah Sofia sekarang jika ia masih hidup.
KECELAKAAN DAN SEBUAH KALUNG
Saat kami sedang berbicara, seorang pelayan wanita mendekat untuk menuangkan anggur ke gelas kami.
Tubuhnya kurus.
Wajahnya pucat.
Terlihat sangat lelah.
Usianya mungkin sekitar dua puluh delapan tahun.
Karena kelelahan, tangannya sedikit gemetar.
Beberapa tetes anggur merah tumpah ke taplak meja putih dan mengenai lengan gaun mahal Martina.
“Bodoh!” teriak Martina dengan suara nyaring.
Wajah lembutnya berubah seketika.
“Apakah kamu buta?! Tahukah kamu berapa harga gaun ini?! Gaji setahunmu pun tidak akan cukup untuk membayarnya, dasar sampah!”
“M-Maaf, Bu… Maafkan saya… Saya tidak sengaja…” jawab pelayan itu sambil menahan tangis.
Karena panik, ia buru-buru membungkuk untuk membersihkan noda di meja.
Dan saat itulah…
Sesuatu keluar dari balik seragamnya.
Sebuah kalung emas.
Dunia seolah berhenti berputar.
Garpu di tanganku terjatuh.
Kalung itu…
Tidak mungkin aku salah.
Kalung itu adalah liontin khusus berbentuk bulan dan matahari yang dihiasi berlian biru kecil.
Kalung tersebut dibuat secara khusus.
Hanya ada dua buah di dunia.
Satu untukku.
Dan satu lagi kuberikan kepada Sofia tepat pada hari ia menghilang.
PERTANYAAN YANG MENGGUNCANG DUNIAKU
“D-Dari mana kamu mendapatkan itu?!” tanyaku dengan suara gemetar.
Aku langsung berdiri dan memegang lengan pelayan itu sambil menatap kalungnya.
Pelayan itu ketakutan dan mundur selangkah.
“Pak… Tolong jangan laporkan saya… Tumpahan anggur tadi benar-benar tidak sengaja…”
“Bukan soal anggurnya!” seruku dengan suara yang hampir berubah menjadi isak tangis.
Aku mengangkat liontin itu dengan tangan bergetar.
“Kalung ini! Dari mana kamu mendapatkannya?!”
Pelayan itu membeku.
Matanya membesar karena kebingungan.
Dan pada saat itu…
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh lima tahun terakhir…
Aku merasakan secercah harapan.
Harapan yang selama ini kukira telah mati bersama hilangnya putriku.
Namun aku tidak menyadari bahwa di kursi seberangku…
Wajah Martina mulai kehilangan warna.
Tangannya yang tadi memegang gelas anggur kini bergetar hebat.
Karena ia tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun di meja itu.

Sesuatu yang selama dua puluh lima tahun berhasil ia sembunyikan.
Dan jika rahasia itu terbongkar malam ini…
Seluruh kehidupannya akan hancur dalam sekejap.
Ini hanyalah bagian awal dari cerita.
Kebenaran yang Terkoyak
Pelayan itu menelan ludah, matanya yang berkaca-kaca menatapku dengan rasa takut sekaligus bingung.
“K-Kalung ini… ini satu-satunya peninggalan dari ibu kandung saya, Pak,” jawabnya dengan suara cicit. “Saya dibesarkan di sebuah panti asuhan kecil di pinggiran kota. Ibu panti mengatakan, saat saya ditemukan telantar di dekat stasiun kereta dua puluh lima tahun lalu, kalung ini melingkar di leher saya. Nama saya… nama asli saya adalah Sofia.”
Sofia.
Nama itu menghantam dadaku seperti hantaman godam yang luar biasa keras. Aku menatap wajah pelayan itu lebih dekat. Garis rahangnya, bentuk matanya yang bulat—dia adalah jiplakan sempurna dari mendiang istri pertamaku. Wanita di hadapanku ini adalah putri kandungku yang selama ini kucari.
“Sofia… ini benar-benar kamu, Nak,” bisikku, air mata yang kupendam selama puluhan tahun kini luruh tanpa kendali. Aku langsung mendekapnya erat. Tubuhnya yang kurus bergetar, dia masih terlalu bingung untuk membalas pelukanku.
Namun, di tengah momen haru itu, sebuah suara denting yang keras memecah keheningan restoran.
PRANG!
Gelas anggur di tangan Martina jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai.
Aku melepaskan pelukanku dari Sofia dan menoleh ke arah istriku. Wajah Martina yang biasanya dipenuhi riasan mahal kini tampak mengerikan—pucat pasi, matanya melotot panik, dan napasnya memburu. Dia seperti melihat hantu di siang bolong.
“M-Martina? Ada apa denganmu?” tanyanya, insting perbankanku yang tajam mendadak menangkap gelagat yang sangat mencurigakan.
“A-Alejandro… pelayan ini pasti berbohong!” pekik Martina dengan suara melengking, mencoba menguasai keadaan meski suaranya bergetar hebat. “Dia pasti mencuri kalung itu dari suatu tempat! Atau dia hanya membaca berita lama dan mencoba memeras kita! Sofia kita sudah mati, Alejandro! Jangan percaya pada sampah jalanan ini!”
Topeng yang Terbuka
“Dia tidak berbohong,” sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk restoran.
Kami semua menoleh. Seorang pria paruh baya berpakaian rapi melangkah masuk. Jantungku berdegup kencang saat mengenali siapa dia. Pria itu adalah Lukas, mantan kepala pengawal pribadiku yang tiba-tiba mengundurkan diri secara misterius dua puluh lima tahun lalu, tepat seminggu setelah Sofia menghilang.
“Lukas? Mengapa kamu ada di sini?” tanyaku terperangah.
Lukas tidak melihatku. Pandangannya lurus tertuju pada Martina yang kini tampak seperti ingin lenyap ditelan bumi.
“Saya ada di sini untuk menebus dosa masa lalu saya, Tuan Alejandro,” kata Lukas dengan suara penuh penyesalan. Dia berlutut di hadapanku. “Gadis pelayan ini… dia memang putri Anda, Sofia. Dan dia tidak diculik oleh orang asing.”
Lukas mengangkat tangannya, menunjuk tepat ke arah Martina.
“Wanita yang Anda sebut istri ini… dialah yang membayar saya dua puluh lima tahun lalu untuk menyingkirkan Sofia!”
Bagaikan disambar petir. Restoran mewah itu mendadak menjadi sangat dingin.
“LUKAS! JAGA MULUTMU! KAU SUDAH GILA?!” teriak Martina histeris, berdiri dari kursinya hingga kursinya terjungkal ke belakang. “Alejandro, jangan dengarkan orang gila ini! Dia hanya ingin menghancurkan pernikahan kita!”
“Saya punya buktinya, Tuan,” lanjut Lukas tenang, mengabaikan teriakan histeris Martina. Dari balik jasnya, Lukas mengeluarkan sebuah rekaman kaset lama dan setumpuk dokumen mutasi rekening bank kuno.
“Dua puluh lima tahun lalu, Nyonya Martina yang saat itu baru saja bertunangan dengan Anda merasa terancam dengan keberadaan Sofia. Dia takut seluruh harta warisan Anda akan jatuh ke tangan anak dari istri pertama. Dia memerintahkan saya untuk membunuh Sofia.”
Lukas menunduk, air matanya menetes ke lantai. “Tapi saya tidak tega membunuh anak sekecil itu. Jadi, saya mengambil uang dari Nyonya Martina, membawa Sofia pergi jauh, dan meninggalkannya di depan sebuah panti asuhan dengan harapan dia bisa hidup. Saya tidak berani mencopot kalung itu karena saya berharap suatu saat… takdir akan mempertemukan Anda kembali dengannya. Dan hari ini, Tuhan mengabulkannya.”
Kehancuran Sang Iblis
Aku memandang Martina. Wanita yang selama dua puluh lima tahun ini tidur di sampingku, wanita yang berpura-pura menangis bersamaku setiap kali hari ulang tahun Sofia tiba, ternyata adalah iblis yang membuang putriku sendiri.
“Alejandro… demi Tuhan, itu tidak benar… aku mencintaimu…” Martina merangkak mendekatiku, mencoba meraih kakiku dengan tangan yang gemetar.
Aku mundur selangkah, menatapnya dengan pandangan paling jijik yang pernah kulayangkan pada seorang manusia.
“Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, Martina,” kataku, suaraku terdengar begitu dingin hingga membuat seisi ruangan merinding.
Aku langsung mengeluarkan ponselku dan menghubungi kepala keamanan serta pengacaraku.
“Panggil polisi ke Restoran Le Prime sekarang juga. Bawa bukti penculikan anak dua puluh lima tahun lalu. Dan siapkan surat pembatalan pernikahan serta pencabutan seluruh hak waris atas nama Martina.”
Martina menjerit histeris saat beberapa petugas keamanan restoran langsung memegangi tangannya agar tidak kabur. Wajahnya yang selama ini dikenal “sangat baik hati” di kalangan sosialita Jakarta kini hancur, digantikan oleh topeng keputusasaan seorang kriminal yang tertangkap basah.
Aku berbalik, tidak lagi memedulikan wanita iblis yang sedang diseret keluar dari restoran itu.
Aku menatap Sofia—putri kecilku yang kini telah tumbuh dewasa dalam penderitaan yang seharusnya tidak pernah dia rasakan. Aku meraih tangannya yang kasar karena kerja keras, lalu mengecupnya dengan takzim.
“Sofia… maafkan Papa karena terlambat menemukanmu,” bisikku di antara tangis bahagia. “Tapi mulai malam ini, penderitaanmu telah berakhir. Papa akan memberikan seluruh dunia yang sempat direnggut darimu.”
Sofia menatapku, dan untuk pertama kalinya, sebuah senyuman tulus yang sangat mirip dengan ibunya merekah di wajahnya. Penantian dua puluh lima tahunku telah usai, dan keadilan akhirnya menemukan jalannya sendiri.