AKU MENERIMA IBU MERTUAKU YANG SUDAH TUA DAN LEMAH UNTUK KURAWAT SEPENUH HATI. SAAT IA MENINGGAL, IA MEWARISKANKU SEBUAH BANTAL TUA—DAN APA YANG KUTEMUKAN DI DALAMNYA MEMBUATKU MENANGIS…
Selama sebelas tahun, aku merawat ibu mertuaku, Bu Teresa.
Ia adalah wanita sederhana yang sepanjang hidupnya tinggal di sebuah kampung kecil di Jakarta. Ia tidak memiliki dana pensiun. Tidak memiliki tabungan. Yang ia miliki hanyalah puluhan tahun perjuangan membesarkan anak semata wayangnya sendirian setelah suaminya meninggal dunia.
Ketika kesehatannya mulai menurun, aku dan suamiku, Daniel Reyes, memutuskan untuk membawanya tinggal bersama kami.
Awalnya…
Aku berpikir aku melakukan hal yang benar.
Namun semuanya tidak mudah.
Setiap hari aku bangun pukul lima pagi.
Memasak bubur.
Menyiapkan obat-obatan.
Memandikannya.
Membersihkan kebutuhannya.
Dan di saat yang sama, aku juga harus mengurus suami dan anak-anak.
Malam hari, ketika semua orang sudah tertidur, aku masih terjaga untuk memastikan jadwal obatnya tidak terlewat.
Hari demi hari…
Aku semakin lelah.
Ada saat-saat ketika aku melihat teman-temanku berlibur, makan di restoran, atau menikmati hidup mereka…
Sementara aku merasa terkurung di rumah kecil kami.
Duniaku seakan hanya berputar di sekitar tempat tidur seorang lansia yang sakit.
Aku tidak pernah mengeluh.
Tetapi jauh di dalam hati…
Ada kalanya aku bertanya kepada diriku sendiri:
“Apakah pengorbananku sudah terlalu besar?”
—
Suatu sore yang diguyur hujan deras…
Bu Teresa memanggilku.
Suaranya sudah sangat lemah.
“Tess… kemarilah, Nak…”
Aku duduk di samping tempat tidurnya.
Tangannya dingin dan gemetar.
Ia menatapku lama sekali.
Seolah ingin mengingat wajahku untuk terakhir kalinya.
“Terima kasih, Nak… karena tidak pernah meninggalkanku…”
Air mataku langsung mengalir.
Pada saat itu, sebagian dari semua kelelahan yang selama ini kupendam terasa menghilang.
Lalu…
Ia menyerahkan sesuatu kepadaku.
Sebuah bantal tua.
Kainnya sudah pudar.
Jahitannya hampir robek.
Bantal itu tampak seperti barang yang seharusnya sudah lama dibuang.
Aku terdiam.
“Bu… ini apa?”
“Simpanlah… jangan dibuang…”
Itulah kalimat terakhir yang diucapkannya.
Malam itu juga…
Ia meninggal dunia.
—
Setelah pemakamannya selesai, rumah terasa sangat sunyi.
Tidak ada lagi suara batuk.
Tidak ada lagi panggilan lirih di tengah malam.
Seharusnya aku merasa lebih ringan.
Tetapi ternyata tidak.
Yang ada justru kesedihan yang aneh.
Dan sedikit rasa bersalah.
Bantal itu masih berada di atas kursi dekat jendela.
Setiap kali melihatnya…
Aku teringat malam-malam tanpa tidur.
Kelelahan yang tak pernah habis.
Dan saat-saat ketika aku hampir menyerah.
Aku mengambil bantal itu.
“Mungkin sudah saatnya dibuang…”
gumamku pelan.
Aku mulai mengumpulkan barang-barang lama miliknya.
Pakaian.
Selimut.
Barang-barang usang lainnya.
Semuanya siap untuk disingkirkan.
Aku memegang bantal itu.
Tetapi ada sesuatu yang aneh.
Bantal itu tidak terasa seperti bantal biasa.
Lebih keras.
Dan lebih berat.
Aku mengernyit.
“Kenapa berat sekali…?”
Karena lelah dan penasaran, aku menarik jahitan di salah satu sisinya.
Kainnya robek.
Isi kapas mulai keluar.
Dan kemudian—
Sesuatu jatuh ke lantai.
Tubuhku langsung membeku.

Itu bukan kapas.
Bukan kain.
Melainkan…
Sesuatu yang dibungkus dengan sangat rapi di dalam bantal itu…
Itu adalah sebuah kantong kain beludru merah yang sudah kusam, dibungkus lagi dengan beberapa lapis plastik bening agar tidak rusak.
Dengan tangan gemetar, aku memungut kantong itu dari lantai. Ketika kubuka ikatannya, air mataku langsung tumpah tanpa bisa dibendung.
Di dalamnya terdapat sebuah buku tabungan bank jadul, tumpukan surat obligasi negara, beberapa perhiasan emas murni kuno, dan selembar surat dengan tulisan tangan yang gemetar.
Aku duduk bersimpuh di lantai kamar yang sunyi, membuka lipatan surat itu, dan membacanya dengan dada yang sesak.
“Tessa, menantuku yang berhati malaikat…
Maafkan Ibu yang selama ini merepotkanmu. Ibu tahu kamu lelah. Ibu tahu kamu sering menangis di dapur saat mengira Ibu sudah tidur. Maafkan Ibu yang tidak bisa memberimu kemewahan seperti teman-temanmu.
Uang dan emas di dalam bantal ini adalah hasil ganti rugi tanah masa lalu dan seluruh sisa tabungan mendiang ayah mertuamu. Ibu sengaja tidak pernah memberitahukannya kepada Daniel, anak kandung Ibu sendiri. > Kenapa? Karena Ibu tahu tabiat anak Ibu. Jika dia tahu Ibu punya uang, dia akan menggunakannya untuk kesenangannya sendiri, atau mungkin dia tidak akan pernah mengizinkanmu merawat Ibu dengan tulus. Ibu ingin melihat siapa yang benar-benar menyayangi Ibu di masa tua tanpa melihat harta.
Dan kamu, Tessa… kamu merawat Ibu dengan seluruh jiwamu, meski kamu mengira Ibu tidak punya apa-apa. Kamu berhak atas semua ini, bukan Daniel. Ini tabungan masa depan untukmu dan cucu-cucu Ibu. Pakai ini untuk kebahagiaanmu, Nak. Terima kasih telah menjadi putri yang dikirim Tuhan untuk Ibu.”
Aku mendekap surat itu ke dadaku, menangis sejadi-jadinya sampai sesak.
Nilai dari isi bantal itu setelah kuperiksa ke bank ternyata sangat fantastis, mencapai miliaran rupiah jika dicairkan di masa sekarang. Sebuah nominal yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Daniel yang selalu merasa menjadi kepala keluarga yang paling bekerja keras.
Kejutan di Malam Hari
Malam itu, Daniel pulang kerja dengan wajah masam seperti biasa. Dia melihatku duduk di meja makan dengan mata sembab.
“Kamu masih menangisi Ibu?” tanyanya ketus sambil melepas dasi. “Sudahlah, Tessa. Kematian Ibu itu takdir. Lagipula, sekarang bebanmu sudah hilang, kan? Kamu tidak perlu repot mengurus lansia lagi.”
Aku menatap suaminya dengan pandangan yang benar-benar baru. Dingin dan tak tersentuh.
“Daniel, Ibu meninggalkan sebuah bantal tua untukku,” kataku pelan.
Daniel tertawa remeh, hampir mengejek. “Bantal tua? Hahaha, sudah kuduga. Ibu memang tidak punya apa-apa sampai akhir hayatnya. Buang saja ke tempat sampah. Jangan bikin rumah penuh dengan barang loakan.”
Aku tidak membalas ucapannya. Aku hanya menggeser map transparan yang berisi fotokopi sertifikat obligasi, buku tabungan atas namaku (karena Ibu sudah membuat surat kuasa mutlak sejak setahun lalu), dan surat wasiat resmi yang ditandatangani di atas meterai lama.
Daniel mengerutkan kening. Dia mengambil lembaran-lembaran itu.
Dalam hitungan detik, tawa remeh di wajahnya lenyap. Matanya membelalak lebar, wajahnya memucat, dan tangannya mulai bergetar hebat.
“I-Ini… dari mana Ibu dapat uang sebanyak ini?! Miliaran?! Dan… semuanya dibaliknamakan atas namamu?!” Daniel berteriak, suaranya melengking tinggi karena terkejut dan tidak terima. “Tessa! Aku anak kandungnya! Aku yang berhak atas uang ini! Kita harus cairkan ini dan beli mobil baru, lalu sisanya untuk investasiku!”
Dia bergerak hendak meraih dokumen-dokumen itu, tetapi aku dengan cepat menariknya kembali.
Babak Baru Kehidupanku
Aku berdiri, menatap Daniel lurus-lurus ke matanya. Tidak ada lagi Tessa yang penurut dan selalu mengalah karena merasa menumpang di rumah ini.
“Tidak, Daniel. Satu rupiah pun dari uang ini tidak akan menyentuh tanganmu,” kataku dengan suara yang teramat tenang namun mematikan.
“Apa maksudmu?! Aku suamimu!”
“Uang ini adalah upah dari keikhlasanku yang dinilai oleh Ibu. Sementara kamu? Kamu anak kandungnya, tapi setiap kali Ibu sakit, kamu selalu mengeluh tentang biaya obat. Kamu bahkan jarang masuk ke kamarnya untuk sekadar bertanya apakah dia sudah makan,” ujarku, membuat Daniel bungkam seribu bahasa.
“Besok pagi, aku dan anak-anak akan pindah dari rumah ini. Aku sudah membeli sebuah rumah baru yang layak untuk kami. Dan pengacaraku akan mengirimkan surat gugatan cerai kepadamu.”
Daniel terperangah, tubuhnya lemas seolah seluruh energinya tersedot habis. “Tessa, kamu tidak bisa melakukan ini! Kita sudah sebelas tahun menikah!”
“Sebelas tahun aku bertahan karena aku menghormati Ibu,” jawabku sambil melangkah menuju kamar anak-anak untuk mengemas barang. “Sekarang, malaikat pelindungku sudah tiada, dan dia telah memberiku kunci untuk membebaskan diriku sendiri.”
Keesokan paginya, aku benar-benar pergi tanpa menoleh ke belakang. Ibu Teresa tidak hanya meninggalkan harta, tetapi dia meninggalkan martabat dan kekuatan baru bagiku. Aku menangis, bukan karena sedih, melainkan karena bersyukur bahwa ketulusan tidak pernah berakhir sia-sia.