Posted in

Seorang Janda dengan Dua Anak Memungut Karpet Mewah dari Tempat Pembuangan Sampah untuk Bertahan Hidup—Tetapi Saat Sedikit Membukanya, Ia Membeku karena Apa yang Dilihat di Dalamnya…

**Seorang Janda dengan Dua Anak Memungut Karpet Mewah dari Tempat Pembuangan Sampah untuk Bertahan Hidup—Tetapi Saat Sedikit Membukanya, Ia Membeku karena Apa yang Dilihat di Dalamnya…**

Sore itu, langit di atas kawasan kumuh Jakarta Utara perlahan diselimuti awan kelabu yang berat. Bau sampah, asap kendaraan, dan air selokan yang kotor bercampur menjadi satu, menempel di kulit seolah tak akan pernah bisa hilang.

Di tengah tumpukan barang bekas di ujung gang dekat sungai yang menghitam, seorang wanita kurus membungkuk sambil mengais sampah. Tangannya yang penuh kapalan dan hampir berdarah membongkar karung-karung bekas, kardus basah, dan kantong plastik kusut satu per satu.

Namanya Rosa Santos.

Usianya tiga puluh delapan tahun.

Sudah hampir empat tahun ia menjadi janda.

Suaminya meninggal dalam kecelakaan kerja di sebuah proyek konstruksi pelabuhan, meninggalkan Rosa dengan dua anak kecil, sebuah rumah reyot yang bocor saat hujan, dan utang rumah sakit yang belum sanggup ia lunasi hingga sekarang.

Sejak saat itu hidup terasa mencekiknya.

Pagi hari ia mencuci piring di warung makan kecil.

Malam hari ia memungut botol bekas, besi tua, dan sisa makanan dari pasar maupun tempat pembuangan sampah.

Ada hari-hari ketika ia masih bisa membawa pulang sedikit uang dan memasak bubur untuk anak-anaknya.

Tetapi ada juga hari ketika ia harus berbohong bahwa dirinya tidak lapar agar kedua anaknya bisa makan.

Hari ini bahkan lebih buruk dari biasanya.

Sejak pagi ia sudah dipulangkan lebih awal karena warung tempatnya bekerja sepi pembeli.

Upah hariannya pun dipotong setengah.

Saat mencoba meminta sayuran layu dan ikan kecil sisa di pasar tradisional, ia sudah didahului orang lain.

Menjelang sore, uang di sakunya hanya tersisa sekitar **Rp12.000**.

Tidak cukup bahkan untuk membeli setengah kilogram beras.

“Ibu…” suara Mika terdengar lirih dari belakang. “Aku lapar…”

Rosa menoleh.

Putrinya yang berusia tujuh tahun berdiri sambil memegangi perut. Rambutnya kusut karena panas matahari dan ujung bajunya sudah memudar.

Di sampingnya berdiri Junjun, kakaknya yang berusia sepuluh tahun.

Anak laki-laki itu tidak mengeluh, tetapi bibirnya pucat dan matanya cekung karena sejak siang hanya minum air putih.

Rosa segera berlutut dan mengusap rambut putrinya.

“Sebentar lagi, Nak. Ibu pasti menemukan sesuatu. Nanti malam kita makan.”

Ia tersenyum.

Senyum yang begitu tipis dan menyedihkan.

Mika mengangguk penuh kepercayaan.

Namun Junjun mengalihkan pandangan.

Usianya cukup untuk memahami bahwa terkadang orang dewasa membuat janji bukan karena yakin bisa menepatinya, tetapi karena itu satu-satunya cara agar hati mereka tidak hancur.

Rosa kembali mengais tumpukan sampah.

Tangannya gemetar karena lapar dan lelah.

Ia membalik pakaian berjamur, kotak styrofoam kotor, botol plastik penyok, kipas angin rusak, bingkai foto pecah, dan berbagai barang lain yang dibuang oleh orang-orang kaya di sisi kota yang berbeda.

Orang-orang yang tinggal di rumah besar berpendingin udara.

Orang-orang yang mungkin tidak pernah harus memungut roti basi dari tempat sampah agar tidak pingsan karena kelaparan.

Lalu tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang berbeda.

Lembut.

Tebal.

Dan sangat halus.

Rosa terdiam.

Ia menarik benda itu dengan kuat.

Dari bawah tumpukan kardus basah dan kantong plastik kotor muncul sebuah gulungan besar yang diikat menggunakan tali plastik merah.

Saat debu dan kotoran berjatuhan, Rosa melihat motif elegan di sisinya.

Sebuah karpet mewah.

Bukan tikar murah atau karpet biasa.

Melainkan karpet tebal dan mahal yang mungkin pernah menghiasi ruang tamu sebuah mansion mewah.

Mata Rosa membesar.

Satu pikiran langsung muncul di kepalanya.

Menjualnya.

Bahkan jika hanya laku murah di toko barang bekas, ia masih bisa memperoleh uang.

Cukup untuk membeli beras, telur, ikan asin, susu untuk Mika, dan obat batuk untuk Junjun.

Bahkan mungkin masih tersisa untuk membayar sebagian tagihan listrik.

“Ibu, karpetnya bagus sekali…” kata Mika.

Junjun mendekat dan menatap karpet itu dengan ragu.

“Ibu… kenapa ada orang membuang barang seperti ini?”

Rosa tidak langsung menjawab.

Karena pertanyaan yang sama juga muncul dalam pikirannya.

Barang seperti ini tidak mungkin dibuang begitu saja.

Kecuali jika…

Ia menelan ludah dan memaksa dirinya mengusir pikiran buruk yang mulai muncul.

“Mungkin mereka sedang membersihkan rumah,” katanya cepat. “Ayo bantu Ibu membukanya. Kalau masih bagus, berarti Tuhan sedang membantu kita hari ini.”

Ia berlutut di tanah berlumpur dan mulai melepas tali plastik merah itu.

Entah mengapa, saat jarinya menyentuh simpul tali tersebut, hawa dingin tiba-tiba menjalar di sepanjang punggungnya.

Angin bertiup melewati tempat pembuangan sampah.

Lembaran seng tua berderak di kejauhan.

Sekawanan burung gagak terbang dari tiang listrik sambil mengeluarkan suara nyaring yang terdengar seperti peringatan.

Rosa menoleh.

Di pintu masuk tempat pembuangan sampah, ia teringat sebuah SUV hitam yang tadi siang berhenti sebentar.

Seorang petugas keamanan dari kompleks mewah di seberang jalan tampaknya menurunkan gulungan karpet itu sebelum buru-buru pergi.

Saat itu Rosa terlalu sibuk mencari makanan untuk memperhatikannya.

Namun sekarang…

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

“Ibu?” panggil Junjun pelan.

Rosa menarik napas dalam-dalam.

“Mari kita buka.”

Ia menarik ujung karpet sedikit.

Lapisan luar terbuka dan memperlihatkan kain beludru merah tua di bagian dalam.

Ia menariknya lagi.

Karpet itu sangat berat.

Terlalu berat untuk sekadar sebuah karpet.

Harapan kecil yang sempat muncul di wajah Rosa perlahan menghilang.

Rasa takut dingin merayap dari tengkuknya hingga ke tulang belakang.

“Mama…” suara Mika mulai bergetar.

“Berdiri di belakang Ibu,” kata Rosa cepat tanpa mengalihkan pandangan.

Junjun segera menarik adiknya menjauh beberapa langkah.

Dengan kedua tangan, Rosa menggulung karpet itu sedikit lagi.

**Thud.**

Sesuatu di dalamnya jatuh perlahan ke tanah.

Bukan kayu.

Bukan logam.

Melainkan sesuatu yang memiliki berat sekaligus kelembutan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Napas Rosa tercekat.

Ia terdiam beberapa detik.

Tetapi bayangan kedua anaknya yang kelaparan membuatnya menguatkan diri.

Ia kembali menarik gulungan karpet itu.

Karpet terbuka semakin lebar.

Aroma parfum mahal tiba-tiba tercium.

Namun bercampur dengan bau asing yang samar dan membuat perutnya mual.

Rosa mundur setengah langkah.

Tangannya mulai gemetar hebat.

Di bawah lapisan beludru merah gelap, muncul sudut kain sutra berwarna krem.

Tidak.

Tidak mungkin.

Lutut Rosa melemas hingga jatuh ke tanah.

Jantungnya berdetak begitu keras sampai terasa menyakitkan.

Dengan napas tersengal, ia menarik karpet itu sekali lagi…

Gulungan beludru mewah itu akhirnya terbuka sepenuhnya di atas tanah berlumpur, dan dalam sekejap, seluruh darah di tubuh Rosa seakan membeku.

Di dalam karpet itu, tergeletak sesosok tubuh wanita muda yang terbujur kaku.

Kulitnya sepucat pualam, kontras dengan gaun malam sutra krem yang melekat di tubuhnya. Rambut hitam panjangnya tersebar acak di atas kain merah, dan sepasang matanya yang tak lagi bernyawa menatap kosong ke langit kelabu Jakarta Utara.

Rosa menutup mulutnya dengan kedua tangan agar jeritannya tidak lolos. Napasnya memburu, dadaku bergemuruh hebat karena kepanikan yang luar biasa.

Namun, bukan hanya fakta bahwa ada mayat di dalam karpet itu yang membuat Rosa mati rasa. Melainkan perhiasan yang melingkar di leher wanita itu.

Sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk huruf “M” yang dihiasi berlian kecil.

Rosa mengenalnya. Ia sangat mengenalnya.

Itu adalah Maya, putri tunggal dari pemilik warung makan tempat Rosa bekerja. Wanita muda berusia dua puluh dua tahun yang dikabarkan hilang sejak dua hari lalu setelah pamit pergi ke sebuah pesta di kawasan elit Pluit. Pemilik warung, yang merupakan majikan Rosa, bahkan sempat menangis histeris pagi tadi karena putrinya tak kunjung pulang.

“Ibu… itu siapa?” suara Mika memecah keheningan yang mencekam. Anak perempuan itu mencoba melongokkan kepalanya dari balik punggung Junjun.

“Jangan lihat! Mika, Junjun, balik badan sekarang! Jangan lihat!” bisik Rosa dengan nada panik yang tertahan.

Junjun, yang tampaknya mulai memahami situasi, langsung memeluk adiknya erat-erat dan membalikkan tubuh mereka membelakangi tumpukan sampah. Tubuh bocah sepuluh tahun itu ikut gemetar.

Rosa memaksa matanya yang beralih kembali ke jasad Maya. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang lain. Di tangan kanan Maya yang terkepal kaku, ada selembar kertas yang terlipat kecil, terjepit di antara jemarinya yang mulai membiru.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan jantung yang berpacu layaknya dikejar setan, Rosa memberanikan diri mendekat. Bau anyir darah yang mengering dan parfum mahal yang memualkan menusuk hidungnya. Ia menarik kertas itu perlahan dari cengkeraman tangan kaku sang mayat.

Ketika Rosa membuka lipatan kertas itu, matanya membelalak.

Itu bukan surat biasa. Itu adalah robekan dari sebuah buku agenda kerja, dan di atasnya tertulis sebuah nama dengan tulisan tangan yang tergesa-gesa menggunakan darah:

“Hendrawan — Kompleks Regensi Blok A”

Hendrawan.

Nama itu seperti petir di siang bolong bagi Rosa. Hendrawan adalah nama anggota dewan kota sekaligus pemilik dari kompleks perumahan mewah di seberang jalan tempat pembuangan sampah ini. Dia adalah orang paling berkuasa di wilayah ini, pria yang fotonya terpampang di baliho-baliho besar di sepanjang jalan protokol.

Tiba-tiba, memori Rosa berputar cepat. Ia teringat dengan mobil SUV hitam yang menurunkan karpet ini tadi siang. Petugas keamanan yang menurunkan karpet itu mengenakan seragam khusus dengan logo ‘Regensi’.

Ini bukan sekadar pembuangan mayat. Ini adalah pembunuhan yang melibatkan orang paling berkuasa di distrik ini, dan sekarang, Rosa beserta kedua anaknya berada di tengah-tengah konspirasi maut tersebut.

Kreeek.

Suara langkah kaki yang menginjak ranting kering mengejutkan Rosa.

Ia langsung menoleh ke arah pintu masuk tempat pembuangan sampah. Di sana, di balik kabut tipis dan rintik hujan yang mulai turun, sebuah siluet tinggi besar berjaket hitam sedang berdiri, menatap langsung ke arah Rosa dan anak-anaknya.

Pria itu memegang sebuah HT (Handy Talky) di tangan kirinya, dan tangan kanannya perlahan meraba pinggang belakangnya, tempat sebuah benda logam berkilat tersembunyi.

Itu adalah petugas keamanan dari kompleks mewah tadi. Dia kembali untuk memastikan tidak ada saksi.

“Ibu…” Junjun berbisik ketakutan, merasakan bahaya yang semakin mendekat.

Rosa melipat kertas itu erat-erat di dalam genggamannya, memasukkannya ke dalam saku celananya yang lusuh. Rasa lapar yang tadinya menyiksa perutnya kini hilang sama sekali, digantikan oleh naluri murni seorang ibu yang harus menyelamatkan anak-anaknya.

Ia tahu, jika mereka berteriak, tidak akan ada yang mendengar di area kumuh yang sepi ini. Jika mereka lari ke jalan raya, mobil SUV itu bisa dengan mudah melindas mereka.

Rosa menatap kedua anaknya, lalu beralih ke gang sempit di samping sungai yang gelap dan penuh dengan tumpukan ban bekas—satu-satunya jalan tikus yang hanya diketahui oleh para pemungut sampah setempat.

“Junjun, pegang tangan Mika,” bisik Rosa, suaranya kini terdengar tajam dan penuh kepastian. “Saat Ibu bilang lari… kita lari sekuat tenaga. Jangan pernah menoleh ke belakang.”