Posted in

SEORANG PETUGAS KEBERSIHAN DI RUMAH SAKIT UMUM MENYADARI KETUKAN JARI YANG ANEH DARI SEORANG PASIEN KOMA — DAN DIA TERKEJUT SAAT MENEMUKAN BAHWA ITU ADALAH PESAN RAHASIA YANG MEMINTA TOLONG KARENA KEPONAKANNYA SEDANG MERACUNINYA*

*SEORANG PETUGAS KEBERSIHAN DI RUMAH SAKIT UMUM MENYADARI KETUKAN JARI YANG ANEH DARI SEORANG PASIEN KOMA — DAN DIA TERKEJUT SAAT MENEMUKAN BAHWA ITU ADALAH PESAN RAHASIA YANG MEMINTA TOLONG KARENA KEPONAKANNYA SEDANG MERACUNINYA**

“Empat tetes pemutih, dua takar sabun, dan setengah ember air panas.”

Rosa terus menggumamkan kalimat itu sambil menggosok lantai licin yang menguning di Bangsal 4 sebuah rumah sakit umum besar di Jakarta.

Saat itu sudah lewat tengah malam, dan udara dipenuhi campuran aroma obat-obatan, darah, serta disinfektan yang menyengat.

Sebagai petugas kebersihan kontrak yang baru diterima bekerja, ia harus menunjukkan kinerja terbaiknya. Pekerjaan ini adalah satu-satunya harapannya untuk membiayai obat asma yang mahal bagi putranya yang berusia tujuh tahun.

Ia bekerja dalam diam, menundukkan kepala, dan berusaha tidak ikut campur dalam urusan yang bukan tanggung jawabnya.

Saat membersihkan bagian bawah Tempat Tidur 14, ia memperhatikan pasien yang terbaring di sana.

Pada kartu identitas tipis di kaki tempat tidur tertulis nama **Nestor Macaraeg**.

Menurut para perawat yang sering bergosip di ruang jaga, pria tua itu dibawa ke rumah sakit dua minggu sebelumnya setelah mengalami stroke berat yang membuatnya berada dalam kondisi seperti koma—tidak bisa berbicara, tidak bisa bergerak, hanya mampu membuka mata.

Satu-satunya orang yang rutin menjenguknya adalah keponakannya yang tampan dan tampak baik hati, **Gary**, yang setiap hari membawa sup hangat dan dengan sabar menyuapi pria tua itu.

Keesokan harinya saat makan siang, Rosa sedang membersihkan jendela di dekat Tempat Tidur 14 ketika Gary datang sambil membawa termos biru.

Pria itu bahkan sempat tersenyum kepadanya sebelum duduk di samping pasien tua tersebut.

Tak lama kemudian, Gary keluar sebentar untuk menjawab panggilan telepon di ponselnya.

Saat hanya Rosa dan pasien itu yang tersisa di ruangan, ia mendengar suara yang sangat pelan.

**Tap. Tap. Tap-tap-tap. Tap.**

Suara itu berasal dari tangan kanan pria tua tersebut.

Jari telunjuknya perlahan mengetuk pagar logam tempat tidur.

Di mata dokter dan perawat, itu hanyalah kejang otot tak sadar yang biasa terjadi pada korban stroke.

Namun Rosa langsung terdiam.

Almarhum kakeknya adalah seorang operator telegraf militer yang sudah pensiun, dan sejak kecil ia telah diajari membaca sinyal melalui bunyi ketukan.

Irama itu terasa sangat familiar.

Dua ketukan pendek. Satu panjang. Tiga pendek.

Rosa mengikuti pola itu dengan saksama.

**H-E-L-P.**

**TOLONG.**

Kemudian muncul rangkaian ketukan berikutnya.

**P-O-I-S-O-N.**

Jantung Rosa berdegup kencang, berdentum keras di balik seragam birunya yang kusam. P-O-I-S-O-N. Racun. Ia menatap wajah Nestor yang kaku. Mata pria tua itu terbuka sedikit, bergulir ke arah pintu, lalu kembali menatap Rosa dengan keputusasaan yang begitu pekat. Pria ini tidak koma karena stroke. Dia terjebak di dalam tubuhnya sendiri, lumpuh, dan perlahan-lahan dihabisi.

Sebelum Rosa sempat mencerna kengerian itu, langkah kaki terdengar mendekat. Gary kembali, mengantongi ponselnya dengan senyum ramah yang kini terlihat seperti seringai monster di mata Rosa.

“Masih membersihkan, Mbak?” tanya Gary sopan, lalu duduk dan membuka termos birunya. Aroma sup ayam yang hangat menyeruak, namun entah mengapa, bau gurih itu kini tercium amis dan mematikan di hidung Rosa.

Rosa memaksakan sebuah anggukan kaku, berpura-pura sibuk dengan kain lapnya, sementara matanya melirik tajam ke arah termos. Di sudut meja medis, ia menangkap sesuatu yang janggal: sebuah botol kecil obat tetes mata yang isinya tinggal seperempat. Tetrahidrozolin. Rosa tahu zat itu; dalam dosis tinggi, obat tetes mata yang dicampurkan ke dalam makanan bisa menyebabkan penurunan fungsi sistem saraf secara drastis, menyerupai gejala stroke total.

“Mari Kek, makan supnya dulu biar cepat sembuh,” bisik Gary lembut, menyendokkan cairan hangat itu ke mulut Nestor yang sedikit terbuka. Rosa bersumpah ia melihat air mata mengalir di sudut mata Nestor yang lumpuh. Ketukan jari pria tua itu melemah, putus asa.

Rosa tahu ia tidak bisa langsung berteriak menuduh. Tanpa bukti, seorang petugas kebersihan kontrak sepertinya hanya akan dianggap gila atau dipecat karena mencemarkan nama baik keluarga pasien. Ia harus memutar otak, memikirkan putranya, sekaligus nyawa pria tua di hadapannya.

“Empat tetes pemutih, dua takar sabun, dan setengah ember air panas.” Gumaman mantra kerjanya tiba-tiba memicu sebuah ide nekat.

Rosa sengaja berjalan mundur sambil menarik ember pelnya. Saat posisi tubuhnya tepat di samping Gary yang sedang menyuapi Nestor, Rosa berpura-pura tersandung kakinya sendiri.

PRANGG!

Ember hitam itu terguling. Air sabun bercampur pemutih yang panas dan berbau menyengat tumpah ruah, membasahi celana Gary dan—yang paling penting—menyiram mangkuk serta termos sup hingga isinya terkontaminasi total.

“Astaga! Maaf, Mas! Maaf sekali, saya ceroboh!” jerit Rosa panik, memasang wajah ketakutan yang sangat meyakinkan. Ia segera berlutut, berpura-pura membersihkan kekacauan itu.

“Sialan! Apa-apaan sih kamu?!” Topeng kesopanan Gary pecah. Ia berdiri dengan geram, mengibaskan celananya yang basah. “Bisa kerja tidak, sih?! Lihat ini, supnya jadi tidak bisa dimakan!”

“Maaf, Mas, biar saya ambilkan mangkuk baru dan saya bersihkan termosnya,” kata Rosa gemetar, langsung menyambar termos biru yang kini telah kemasukan air sabun kimia tersebut sebelum Gary sempat melarang.

Rosa membawa termos itu setengah berlari keluar bangsal. Namun, ia tidak pergi ke wastafel. Ia berlari lurus menuju laboratorium patologi rumah sakit yang berada di lantai dasar. Di sana, ada dokter residen muda yang terkenal idealis dan sering menyapanya saat sif malam.

Sambil menangis beralasan, Rosa memohon pada dokter tersebut untuk menguji sisa sup di dasar termos secara diam-diam, mengklaim bahwa ia tidak sengaja mencampurkan zat berbahaya dan takut dipecat. Sang dokter, yang curiga dengan aroma kimia aneh di luar bau pemutih, setuju untuk melakukan tes cepat toksikologi.

Tiga puluh menit kemudian, hasilnya keluar: positif mengandung dosis mematikan dari zat penekan sistem saraf pusat.

Malam itu juga, suasana Bangsal 4 pecah. Gary yang sedang mengemas barang-barangnya sambil memaki-maki pihak rumah sakit dikejutkan oleh kedatangan dua petugas polisi bersama pihak keamanan.

“Gary Mahendra, Anda ditahan atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana terhadap Nestor Macaraeg,” ujar petugas polisi dingin sambil memborgol kedua tangan pria tampan itu. Gary pucat pasi, menatap nanar ke arah termos birunya yang kini berada di dalam kantong barang bukti transparan.

Saat Gary diseret melewati lorong, tatapannya bertemu dengan Rosa yang berdiri di sudut ruangan, memegang erat gagang pelnya. Tidak ada lagi senyum ramah dari pria itu, hanya tatapan penuh kebencian dari seorang predator yang tertangkap basah.

Keesokan paginya, setelah penawar racun diberikan dan tim dokter mulai membersihkan sisa zat beracun dari tubuhnya, Nestor menunjukkan perkembangan ajaib. Ia belum bisa bicara, namun matanya jauh lebih hidup.

Sebelum sifnya berakhir, Rosa masuk ke kamar Nestor untuk mengosongkan tempat sampah. Saat ia berbalik untuk pergi, sebuah suara ketukan yang akrab kembali terdengar dari pagar logam tempat tidur.

Tap. Tap-tap. Tap.

Rosa menoleh. Nestor menatapnya dengan senyum tipis yang dipaksakan oleh otot-otot wajahnya yang mulai pulih.

Rosa tersenyum hangat, matanya berkaca-kaca. Melalui ketukan jarinya sendiri di tepi ember, Rosa membalas kode telegraf rahasia yang diajarkan mendiang kakeknya:

S-A-F-E.

Anda sudah aman.