SUAMIKU MENGUMUMKAN PERCERAIAN KAMI DI MEDIA SOSIAL TEPAT PADA HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN KAMI. DAN KEESOKAN PAGINYA, APA YANG KULAKUKAN BENAR-BENAR MEMBUATNYA TERKEJUT…
Pada hari ulang tahun pernikahan kami, Daniel Reyes membuat sebuah unggahan di Facebook.
“Kalau postingan ini mendapat 10 like, kami akan bercerai.”
Bersama unggahan itu, ia juga mengunggah foto surat perjanjian perceraian yang sudah ditandatangani. Di bagian tanda tangan Pihak Pertama, namanya tertulis dengan santai, seolah sebuah vonis yang memutuskan seluruh hubungan kami.
Aku menatap unggahan itu cukup lama.
Mataku terasa perih karena cahaya layar. Tanpa sadar aku menyentuh wajahku, dan baru saat itulah aku menyadari jari-jariku sudah basah.
Aku menangis.
Tidak…
Ternyata aku sedang tertawa.
Aku tertawa sampai air mata mengalir.
Sepuluh like?
Daniel Reyes, kau sedang bercanda?
Aku membuka kembali unggahan itu dan menekan tombol hati.
Layar sedikit bergerak.
Namaku langsung muncul sebagai orang pertama yang menyukai postingan tersebut.
Screenshot.
Simpan.
Semua kulakukan dalam satu gerakan cepat.
Setelah itu, aku keluar dari Facebook dan membuka percakapanku dengan Daniel.
Pesan terakhir kami sudah seminggu yang lalu.
Dia: “Aku tidak pulang malam ini.”
Aku: “Baik.”
Dua kata yang kering.
Sama seperti pernikahan kami yang sebenarnya sudah lama mati.
Aku mengetik dan langsung mengirim pesan:
“Daniel Reyes, aku sudah memberi like. Sampai jumpa di kantor catatan sipil.”
Pesanku langsung terbaca.
Hampir bersamaan, ponselku mulai bergetar tanpa henti.
Aku tidak menjawab.
Aku mengaktifkan mode senyap, membalik ponselku di atas meja, lalu berjalan menuju ruang ganti.
Tiga tahun menikah…
Tetapi barang-barangku ternyata sangat sedikit.
Satu koper saja bahkan belum penuh.
Semua perhiasan yang pernah diberikan Daniel tersusun rapi di lemari.
Aku tidak mengambil satu pun.
Karena sebenarnya semua itu tidak pernah diberikan untukku.
Itu diberikan untuk nama “Mrs. Reyes”.
Saat melewati pintu kamar, aku melihat foto pernikahan kami.
Perempuan dalam foto itu tersenyum penuh harapan.
Pria di sampingnya memeluknya dengan hangat.
Dulu, Daniel masih tahu cara tersenyum.
Tiga tahun.
Cukup lama untuk mengubah seorang wanita yang penuh cinta…
Menjadi seseorang yang hampir tidak lagi merasakan apa pun.
Aku membalik bingkai foto itu menghadap dinding.
Mengambil koperku.
Dan untuk terakhir kalinya memandang apartemen yang kutinggali selama tiga tahun.
Sebuah kondominium mewah di kawasan pusat bisnis Jakarta.
Indah.
Elegan.
Tetapi tidak pernah menjadi rumah bagiku.
Pintu tertutup perlahan di belakangku.
Terdengar seperti sebuah helaan napas panjang.
Namun aku tidak menoleh.
—
Aku berada di dalam taksi, dan ponselku masih terus bergetar.
Tujuh panggilan tak terjawab.
Dua belas pesan.
Aku tidak membuka satu pun.
Bahkan aku menghapus seluruh riwayat percakapan kami.
Aku tidak memblokirnya.
Aku juga tidak menghapus pertemanan kami.
Aku hanya menghapus chat itu.
Karena aku sadar…
Kalimat seperti “Baik”, “Ya”, atau “Aku tidak pulang malam ini” bahkan tidak layak menghabiskan memori ponselku.
Sopir taksi sempat melirikku lewat kaca spion.
Mungkin dia berpikir:
Seorang wanita dengan koper, mata memerah, malam-malam sendirian…
Pasti sedang bertengkar dengan suaminya.
Namun dia tidak bertanya apa pun.
Dia hanya mengecilkan volume radio.
Dan aku bersyukur atas keheningan itu.
Di luar, lampu-lampu Jakarta berkilauan.
Cahaya neon memantul di kaca jendela seperti potongan-potongan kenangan.
Saat kami baru menikah, kami juga sering seperti ini.
Daniel menyetir.
Aku duduk di kursi penumpang.
Tangan kami saling menggenggam.
Saat itu aku berpikir…
Inilah yang disebut selamanya.
“Selamanya” itu adalah aku yang duduk di sampingnya.
Ada gantungan kecil di kaca mobil yang selalu bergoyang.
Lagu-lagu favoritku selalu diputar.
Tetapi lambat laun…
Ada wanita lain yang duduk di kursi itu.
Gantungan itu hilang.
Musiknya berubah.
Dan aku mengira…
Akulah yang kurang.
Sampai suatu hari aku melihat sebuah foto di kantornya.
Dia bersama seorang wanita.
Berdiri sangat dekat.
Tersenyum bahagia.
Di belakang foto itu tertulis sebuah nama:
“Daniel Reyes.”
Tulisan tangan seorang wanita.
Aku tidak pernah bertanya siapa dia.
Karena aku sudah tahu jawabannya.
Foto itu diambil di bawah Menara Eiffel.
Padahal Daniel pernah mengatakan bahwa ia pergi ke Paris sendirian.
Ternyata tidak.
Sepanjang malam aku mengumpulkan semuanya.
Struk pembayaran.
Riwayat panggilan.
Jejak perjalanan selama setahun terakhir.
Dan semakin banyak yang kutemukan…
Semakin tenang aku menjadi.
Semakin jelas semuanya.
Malam-malam ketika dia selalu “sibuk”.
Aroma parfum asing.
Ponsel yang selalu disembunyikan.
Semua itu…
Membentuk satu cerita.
Judulnya:
Pengkhianatan.
Aku tidak menangis.
Aku tidak membuat keributan.
Aku menyimpan semua bukti itu.
Dan terus menjalankan peranku sebagai “Mrs. Reyes”.
Di pesta-pesta mewah Jakarta.
Aku berdiri di sampingnya.
Tersenyum.
Sempurna.
Di depan keluarganya.
Di depan teman-temannya.
Aku memainkan peranku dengan sangat baik.
Sampai akhirnya…
Dia sendiri percaya bahwa aku tidak mengetahui apa pun.
Taksi berhenti di depan sebuah hotel.

Aku masuk ke kamar.
Mandi.
Berbaring di tempat tidur.
Dan baru saat itulah aku kembali mengambil ponselku…
Aku menyalakan layar ponsel.
Notifikasi dari Daniel sudah menumpuk seperti sampah. Ada 43 panggilan tak terjawab dan belasan pesan yang nadanya berubah dari bingung, marah, hingga mulai memohon.
Daniel: Apa maksudmu memberi like? Kau gila?! Daniel: Angkat teleponku! Jangan membuat lelucon bodoh ini di media sosial! Daniel: Pulang sekarang. Kita perlu bicara.
Aku hanya tersenyum tipis, lalu membuka aplikasi perbankan dan memeriksa sisa saldo di rekening pribasaku—rekening yang selama tiga tahun ini diam-diam kuisi dari hasil kerja keras sebagai desainer grafis freelance tanpa sepengetahuannya. Jumlahnya lebih dari cukup untuk memulai hidup baru.
Setelah itu, aku mengirim satu pesan terakhir kepada pengacaraku sebelum mematikan ponsel dan tertidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Keesokan Paginya: Pukul 09.00 WIB
Daniel Reyes terbangun dengan kepala pening di apartemen kami yang kosong. Dia mengira aku hanya sedang merajuk dan menginap di rumah temanku. Pikirannya masih meremehkanku, menganggap unggahan Facebook-nya semalam hanyalah gertakan untuk mengujiku.
Namun, saat dia melangkah ke ruang tamu, kejutan pertama sudah menantinya.
Di atas meja kopi, terjajar rapi tiga buah benda:
- Kunci duplikat apartemen yang biasa kubawa.
- Cincin pernikahan kami yang bertahtakan berlian, berkilau dingin di bawah lampu.
- Sebuah map jinjing plastik transparan.
Dengan tangan gemetar karena amarah yang mulai bercampur kecemasan, Daniel membuka map tersebut. Di dalamnya bukan surat cinta atau permohonan maaf, melainkan sebuah dokumen tebal dengan kop surat dari salah satu firma hukum papan atas di Jakarta.
Itu adalah gugatan cerai resmi, lengkap dengan lampiran setebal lima puluh halaman.
Kejutan yang Sesungguhnya
Daniel terduduk lemas di sofa saat membalik halaman demi halaman lampiran tersebut. Wajahnya seketika pucat pasi, kehilangan seluruh keangkuhannya.
Apa yang kulakukan benar-benar membuatnya hancur semalam:
- Bukti Perselingkuhan yang Sempurna: Semua struk hotel di Paris, manifes penerbangan atas nama wanita itu, mutasi rekening Daniel untuk membelikan tas mewah, hingga foto-foto kedekatan mereka yang kukumpulkan setahun terakhir, semuanya tercetak dengan resolusi tinggi.
- Tuntutan Harta Gana-Gini dan Ganti Rugi: Dalam hukum pernikahan, bukti perzinaan dan pengkhianatan finansial yang sekongret ini akan membuatnya kehilangan hak atas sebagian besar aset gabungan kami, termasuk kondominium mewah yang sangat dia banggakan ini.
- Otomatisasi Publikasi: Tepat pukul 08.00 pagi tadi, firma hukumku telah merilis pernyataan resmi ke jaringan bisnis Daniel dan pihak keluarga besar mengenai gugatan cerai ini dengan alasan “Perselingkuhan dan Penelantaran”.
Unggahan Facebook-nya semalam yang awalnya berniat mempermalukanku di depan publik, kini justru berbalik menjadi senjata makan tuan. Netizen dan rekan bisnisnya kini melihat unggahan “10 like” itu bukan sebagai lelucon pria keren, melainkan sebagai bukti keputusasaan seorang suami manipulatif yang ketakutan karena kedoknya telah terbongkar.
Ponsel Daniel di atas meja mulai berdering liar. Telepon dari ibunya, dari atasannya di perusahaan, dan dari para investor. Nama baik dan karier yang dia bangun dengan penuh kesombongan runtuh dalam hitungan jam.
Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, aku sedang duduk di sebuah kafe terbuka di pinggiran Jakarta, menikmati secangkir kopi hangat dan sepiring kroasan.
Matahari pagi menyentuh wajahku, terasa hangat dan membebaskan.
Ponselku bergetar sekali. Sebuah notifikasi dari akun Facebook-ku muncul:
Unggahan Daniel Reyes telah mendapatkan 1.400 like dan 2.000 komentar.
Aku menyesap kopiku, tersenyum, lalu menghapus aplikasi Facebook dari ponselku selamanya. Permainan telah usai, dan hari ini, kehidupanku yang sesungguhnya baru saja dimulai.