Keheningan malam Jakarta menyambutku saat aku melangkah keluar. Aku tidak menuju halte bus. Sebuah sedan hitam antipeluru sudah menungguku di tikungan gelap, jauh dari penglihatan mereka.
Seorang pria berjas rapi keluar dan membungkuk hormat. Dia adalah Pak Baskoro, orang kepercayaanku selama sepuluh tahun.

“Nona Muda, semuanya sudah siap,” ucapnya tegas. “Mobil Anda, dokter pribadi Anda, dan… berkas-berkas yang Anda minta.”
Aku masuk ke dalam mobil, mengusap perutku yang menendang pelan. “Pak Baskoro, besok pagi pukul 09.00, adakan rapat darurat seluruh jajaran eksekutif Vanguard Global. Secara fisik. Saya sendiri yang akan memimpin.”
“Baik, Nona. Bagaimana dengan Marco dan ibunya?”
Aku tersenyum tipis, senyum yang belum pernah mereka lihat selama tiga tahun ini. “Biarkan mereka menikmati malam terakhir mereka di ‘puncak dunia’.”
Hari Penghakiman
Pagi harinya, kantor pusat Vanguard Global Empire gempar. Marco datang dengan setelan jas seharga ratusan juta, menggandeng Valerie dengan angkuh. Mereka merasa di atas angin karena hari ini adalah hari pengangkatan Marco menjadi Vice President.
Doña Silvia bahkan ikut hadir, mengenakan perhiasan berlian berlebihan, duduk di lobi seolah dia pemilik gedung ini.
“Lihat sekelilingmu, Marco,” bisik Valerie. “Semua ini akan ada di bawah kendalimu. Bukan lagi berurusan dengan bau tanah toko bunga mantan istrimu itu.”
Marco tertawa bangga. “Aku akan memastikan Clara tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di radius satu kilometer dari gedung ini.”
Tepat pukul 09.00, mereka masuk ke ruang rapat utama. Namun, ada yang aneh. Semua jajaran direksi berdiri tegak dengan wajah pucat. Kursi utama CEO yang biasanya kosong, kini membelakangi mereka.
“Selamat pagi semuanya,” suara Marco menggelegar. “Mari kita mulai pengangkatan saya.”
“Duduklah, Marco,” sebuah suara dingin terdengar dari kursi utama. Suara yang sangat ia kenal.
Kursi itu berputar.
Marco membeku. Doña Silvia yang berdiri di pintu hampir menjatuhkan tas bermereknya. Di sana, duduk Clara Vanguard. Bukan dengan daster atau celemek bunga, melainkan dengan gaun sutra hitam formal, rambut yang tertata elegan, dan aura otoritas yang mematikan.
“Clara?! Apa yang kau lakukan di sana? Turun! Kau pikir ini lelucon?” teriak Marco, wajahnya merah padam karena malu di depan para direksi.
“Diam!” bentak Pak Baskoro yang berdiri di sampingku. “Anda sedang berbicara dengan Pemilik Tunggal dan CEO Vanguard Global Empire.”
Runtuhnya Istana Pasir
Ruangan itu sunyi senyap. Valerie gemetar hebat. Dia tahu persis siapa pemilik asli perusahaan ini, tapi dia tidak pernah tahu wajah sang “Ratu” karena aku selalu bekerja di balik layar.
“Ini tidak mungkin… kau miskin! Kau hanya gadis toko bunga!” jerit Doña Silvia dari ambang pintu.
Aku berdiri perlahan, mendekati mereka. “Toko bunga itu hobiku. Dan kalian… adalah proyek amalku. Tiga tahun aku membiayai gaya hidup kalian. Aku memberikanmu jabatan, Marco, bukan karena kau pintar, tapi karena aku mencintaimu. Aku memberimu posisi konsultan, Silvia, agar kau punya kesibukan selain bergosip.”
Aku melemparkan setumpuk dokumen ke meja.
“Per detik ini: Marco, kau dipecat atas dasar pelanggaran etika dan penyalahgunaan wewenang. Valerie, kau diberhentikan tanpa pesangon karena perzinahan di lingkungan kantor.“
Wajah Marco memucat. “Clara… sayang, dengarkan aku. Aku hanya khilaf. Valerie yang menggodaku!”
“Sayang?” aku tertawa kecil. “Tadi malam aku adalah ‘beban’. Sekarang aku adalah ‘sayang’? Maaf, Marco. Aku sudah menandatangani surat cerai itu. Dan ada satu hal lagi…”
Aku menatap Pak Baskoro. Beliau menyerahkan dokumen lain.
“Rumah mewah yang kalian tinggali, mobil-mobil yang kalian pamerkan, bahkan perhiasan di leher ibumu… semuanya terdaftar atas nama perusahaan. Dan karena kalian bukan lagi bagian dari perusahaan ini, aku memberikan waktu satu jam bagi kalian untuk mengosongkan rumah itu sebelum petugas keamanan menyita semuanya.”
Akhir yang Adil
“Clara, kau tidak bisa melakukan ini! Aku ayah dari anak itu!” teriak Marco putus asa, mencoba memegang tanganku.
Aku menghindar dengan jijik. “Anak ini tidak butuh ayah yang menganggapnya sebagai ‘beban yang menyeret turun’. Dia akan mewarisi kekaisaran ini, sementara kau? Kau akan kembali ke rusun kumuh tempat aku menemukanmu dulu.”
Keamanan menyeret Marco dan Valerie keluar di depan seluruh karyawan yang dulu mereka hinda. Doña Silvia menangis histeris di lantai lobi, memohon ampun, namun tak ada satu pun orang yang menolongnya.
Aku kembali ke kursi besarku, menghela napas panjang. Beban di bahuku telah hilang.
Aku mengusap perutku dan berbisik pelan, “Kita akan baik-baik saja, Nak. Mahkota ini sekarang milik kita berdua.”
Vanguard Global Empire tidak pernah sekuat ini sebelumnya, dan sang Ratu tidak lagi menyembunyikan mahkotanya.