Posted in

Mas, bisa transfer 15 juta? Buat renovasi rumah Ibu.

Ini adalah kelanjutan cerita dari sudut pandang Dimas, di mana kesombongannya mulai berbenturan dengan kenyataan pahit yang diciptakan oleh Kaizan.


Pesta yang Menjadi Kuburan Reputasi

Malam semakin larut, namun suara musik rebana di luar sana kini terdengar seperti lonceng kematian bagi harga diriku. Aku masih menatap layar ponsel, berharap ada keajaiban berupa notifikasi transfer masuk. Namun, yang muncul justru sebuah notifikasi dari grup WhatsApp keluarga besar.

Mataku membelalak. Seseorang—entah siapa—mengunggah rekaman video saat Kaizan menyerahkan tas berisi uang tunai 300 juta sebagai mahar untuk Dila di masjid tadi siang. Di bawah video itu, komentar para saudara mulai bermunculan:

“Wah, ternyata Kaizan sukses ya di Malaysia. Kirain selama ini cuma jadi kuli biasa.”

“Kok Dimas malah nikah sama Sisilia pakai uang kakaknya? Bukannya dia calon dokter?”

“Kasihan Dila, dulu dihina-hina, sekarang maharnya paling tinggi se-kecamatan.”

“Ibu! Lihat ini!” aku menyodorkan ponsel ke depan wajah Ibu. “Nama kita hancur! Semua orang mulai membicarakan kalau aku cuma dokter gadungan yang modalnya dari Bang Kaizan!”

Ibu meraung, ia mulai melepas kalung emasnya dengan kasar. “Ini tidak boleh terjadi! Besok Ibu akan ke rumah Dila! Ibu akan tuntut balik uang itu. Itu uang hasil jerih payah Kaizan yang harusnya jadi hak Ibu sebagai orang tua yang membesarkannya!”

Tagihan yang Menjerat

Baru saja Ibu selesai bicara, pintu kamar kembali digebrak. Bukan Sisilia yang kembali, melainkan Ayah Sisilia—Pak Subroto. Wajahnya merah padam, memegang tumpukan kuitansi.

“Dimas! Keluar kamu!” teriaknya. “Pihak katering bilang kalau kamu tidak bayar sekarang, mereka akan angkut semua piring dan makanan meskipun tamu masih ada! Belum lagi sewa tenda dan dekorasi! Mana uang yang kamu janjikan?!”

Aku berdiri dengan kaki gemetar. “Pa… Papa tenang dulu. Ada sedikit masalah teknis dengan bank di Malaysia. Uangnya tertahan.”

“Jangan panggil aku Papa sebelum urusan ini selesai!” bentak Pak Subroto. “Aku sudah dengar selentingan di luar. Kaizan memberikan uang itu pada Dila secara tunai. Itu artinya kamu tidak punya uang, kan? Kamu menipu keluarga kami!”

Sisilia muncul di belakang ayahnya, ia sudah melepas tiaranya. “Cukup, Yah. Batalkan saja resepsi besok. Aku malu. Teman-temanku sudah mulai bertanya kenapa maharku hanya seperangkat alat sholat dan cincin tipis ini, sementara wanita cacat itu dapat ratusan juta.”

Pembalasan yang Tak Terduga

Di tengah kericuhan itu, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor asing. Sebuah video singkat berdurasi 10 detik.

Aku membukanya dengan harapan itu adalah pesan dari Bang Kaizan yang meminta maaf. Tapi jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat isinya. Video itu memperlihatkan sebuah surat resmi dari universitas tempatku kuliah. Isinya adalah laporan pelanggaran kode etik dan penipuan dokumen beasiswa yang pernah kubuat dengan memalsukan tanda tangan Kaizan sebagai penjamin.

Di bawah video itu, ada pesan singkat:

“Dokter? Gelarmu dibangun dari keringat orang yang kamu khianati. Nikmati malam pengantinmu, Dimas. Besok, surat itu akan sampai ke meja Dekanmu. Selamat menempuh hidup baru yang miskin.”

Duniaku runtuh. Kaizan tidak hanya membawa lari uangnya; dia membawa kunci masa depanku.


Puncak Kehancuran

Malam itu, pesta berubah menjadi ajang penagihan hutang. Pak Subroto memaksa Ibu menyerahkan semua perhiasannya dan kunci mobil sedan baruku untuk jaminan hutang vendor. Sisilia mengunci diri di kamar, menolak untuk tidur seranjang denganku.

Aku duduk di teras rumah yang setengah gelap, menatap jalanan desa yang sepi. Di kejauhan, aku melihat sorot lampu mobil mewah melintas pelan. Itu mobil yang dikendarai Kaizan. Mobil itu sempat melambat di depan rumah Sisilia.

Dari kaca jendela yang terbuka sedikit, aku melihat Kaizan. Dia tidak lagi memakai seragam kuli yang bau matahari. Dia memakai kemeja hitam yang elegan. Di sampingnya, Dila tersenyum cantik, terlihat sangat bahagia.

Kaizan tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangkat jempolnya ke bawah, lalu menginjak gas, meninggalkan debu yang menyesakkan dadaku.

Aku sadar sekarang. Aku bukan lagi calon dokter yang dihormati. Aku hanyalah seorang pengantin tanpa modal, tanpa harga diri, yang kini harus bersiap menghadapi laporan polisi dan pemecatan dari kampus.

“Bang… kamu benar-benar menghancurkanku,” bisikku lirih di tengah isak tangis Ibu di dalam rumah.

Pembalasan Kaizan jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kehilangan uang. Dia membiarkanku berada di puncak harapan, lalu menarik tangga penyangganya hingga aku jatuh ke dasar jurang yang paling dalam.