Posted in

Pada hari aku putus dengan Tristan, aku memasukkan ular putih yang telah ia pelihara selama tiga tahun ke dalam tas

  1. Ikatan yang Tak Terlihat

“Apa maksudmu ‘bertanggung jawab’?!” aku mundur selangkah, punggungku menabrak dinding dingin kamar.

Pria itu—atau mungkin… makhluk itu—tidak memaksaku. Dia hanya berdiri, menatapku dengan tenang, seolah aku adalah sesuatu yang sudah lama ia cari.

“Dalam bangsa kami,” katanya pelan, “siapa pun yang membebaskan roh penjaga dari belenggu… akan terikat dengannya. Bukan sebagai tuan. Bukan sebagai budak.”
Dia berhenti sejenak.
“Tapi sebagai pasangan jiwa.”

Aku tertawa kering. “Kamu bercanda, kan? Ini pasti mimpi. Aku habis putus, stres, lalu halusinasi.”

Dia tidak tersinggung. Justru matanya melembut.
“Kau boleh menyangkal. Tapi tubuhmu sudah menerimaku.”

Tiba-tiba, pergelangan tanganku terasa panas. Aku menoleh—sebuah tanda kecil berbentuk sisik berwarna perak muncul di kulitku. Berkilau samar.

“Apa ini?!” panikku.

“Itu tanda ikatan kita.”

Aku mencoba menggosoknya, tapi tidak hilang. Jantungku berdegup kencang. Semua ini terlalu tidak masuk akal—ular berubah jadi pria? Ikatan jiwa? Tanda aneh di tubuhku?

“Namaku… Seraphion,” katanya. “Tapi kau boleh memanggilku apa pun yang kau suka.”

“Aku lebih suka kamu jadi ular lagi,” balasku cepat.

Untuk pertama kalinya, dia tertawa pelan.

  1. Dunia yang Terungkap

Hari-hari berikutnya berubah menjadi sesuatu yang… tidak nyata.

Di siang hari, Seraphion kembali menjadi ular putih kecil, meringkuk di tempat tidurku. Tapi di malam hari, dia akan kembali ke wujud manusianya.

Dan setiap malam, aku belajar satu hal baru—tentang dunia yang selama ini tersembunyi dari manusia.

Tentang bangsa mereka.
Tentang para penjaga kuno.
Tentang “Anito” yang ternyata bukan sekadar mitos.

“Keluarga Del Fierro,” jelasnya suatu malam, “dipilih oleh leluhurku untuk menjaga keberadaanku. Sebagai imbalannya, mereka diberkati dengan kekayaan dan kekuasaan.”

“Jadi… semua kekayaan mereka itu karena kamu?” tanyaku.

“Sebagian.”

Aku terdiam. Tiba-tiba semuanya masuk akal—kenapa ibunya Tristan begitu panik, kenapa kakeknya menganggap ular itu lebih berharga dari segalanya.

“Tapi mereka melupakan tugasku,” lanjut Seraphion. “Mereka berhenti memberi makan energi, berhenti merawatku… dan aku hampir lenyap.”

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku merasa bersalah.

“Maaf… aku juga sempat menganggapmu cuma hewan yang malang.”

Dia menggeleng pelan.
“Tidak. Kau satu-satunya yang melihatku.”

Kalimat itu… entah kenapa membuat dadaku terasa hangat.

  1. Bayangan dari Masa Lalu

Kehidupanku yang tenang tidak bertahan lama.

Suatu sore, saat aku pulang kerja, pintu kontrakanku sudah terbuka.

Di dalam, Tristan berdiri. Bersama ibunya.

Dan… Bianca.

“Akhirnya kamu pulang juga,” kata Tristan dingin.

Aku langsung waspada. “Kalian ngapain di sini?”

Ibunya melangkah maju, wajahnya tegang.
“Niana, kami tidak datang untuk bertengkar. Kami hanya ingin mengambil kembali… milik keluarga kami.”

“Maksud Anda, ular itu?” kataku tajam.

Bianca menyeringai. “Kamu benar-benar berpikir kamu bisa menyimpan sesuatu yang bukan milikmu?”

Aku tertawa kecil. “Lucu. Tiga tahun kalian mengabaikannya. Sekarang tiba-tiba jadi penting?”

Tiba-tiba, udara di ruangan terasa berubah.

Dingin.

Sangat dingin.

Dari belakangku, suara yang familiar terdengar—tenang, tapi penuh tekanan.

“Dia… bukan milik kalian lagi.”

Seraphion.

Dalam wujud manusianya.

Mereka semua membeku.

Wajah Tristan pucat pasi. Ibunya gemetar. Bahkan Bianca, yang tadi begitu percaya diri, mundur selangkah.

“A-Anito…” bisik ibunya dengan suara bergetar.

Seraphion melangkah maju, matanya kini bersinar lebih terang dari sebelumnya.

“Kalian telah melanggar perjanjian leluhur. Kalian meninggalkanku… dan kini datang hanya karena keserakahan.”

“Tidak! Kami—kami hanya—” Tristan terbata-bata.

“Diam.”

Satu kata itu cukup membuat seluruh ruangan sunyi.

Seraphion menoleh padaku.
“Keputusan ada padamu, Niana.”

Aku terkejut. “Apa?”

“Ikatan ini membuatmu menjadi penentuku. Aku tidak akan menyentuh mereka… tanpa izinmu.”

Aku menatap Tristan.

Pria yang dulu kupikir adalah segalanya.

Yang membuatku kehilangan diriku sendiri selama tiga tahun.

Dan sekarang… berdiri di hadapanku, ketakutan.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sakit.

Hanya… kosong.

“Pergi,” kataku pelan.

Mereka tidak bergerak.

Aku menatap mereka lebih tajam.
“Aku bilang, pergi. Dan jangan pernah kembali.”

Tanpa perlu diulang dua kali, mereka berbalik dan pergi dengan cepat.

Pintu tertutup.

Sunyi.

  1. Awal yang Baru

Aku duduk perlahan di kursi. Tanganku masih sedikit gemetar.

Seraphion kembali ke bentuk manusianya, berdiri di depanku.

“Kau bisa saja menghancurkan mereka,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kenapa tidak?”

Aku tersenyum kecil.
“Karena mereka sudah tidak berarti apa-apa lagi.”

Dia menatapku lama. Seolah mencoba memahami sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ribuan tahun.

“Manusia… benar-benar aneh,” gumamnya.

“Dan kamu?” aku mengangkat alis. “Ular yang berubah jadi pria, bicara soal ikatan jiwa, hidup tiga ribu tahun—itu normal?”

Dia tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya, senyum itu terasa… hangat.

“Mungkin,” katanya pelan, “aku mulai menjadi lebih manusia… karena kamu.”

Aku memutar mata. “Jangan mulai gombal.”

Tapi entah kenapa… pipiku terasa sedikit hangat.

Di luar, angin malam berhembus pelan.

Untuk pertama kalinya sejak perpisahanku… aku tidak merasa sendirian.

Dan mungkin—hanya mungkin—ular yang kubawa pulang karena marah… justru adalah awal dari sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.