…mata saya membeku. Dunia seakan berhenti berputar.
“Apa… yang kamu lakukan?” suara saya serak, hampir tidak keluar.
Valerie menoleh dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Senyumnya tipis, dingin, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

“Oh, kamu sudah pulang?” katanya ringan. “Bagus. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana aku ‘mendidik’ ibumu agar lebih berguna.”
“I-ini bukan apa-apa, Gabriel…” Ibu saya buru-buru berkata di sela tangisnya. Tangannya gemetar, masih menggenggam kain kotor itu. “Mama hanya… hanya membersihkan sedikit…”
“Diam!” bentak Valerie tajam. “Kamu belum selesai. Aku masih melihat noda di sana.”
Saat itu juga, sesuatu dalam diri saya retak.
Wanita yang dulu dipuji-puji ibu saya sebagai “sempurna”… kini berdiri di depan saya seperti orang asing—tidak, lebih buruk dari itu. Kejam. Tanpa empati. Menikmati penderitaan orang lain.
“Ibu saya… bukan pembantu,” kata saya pelan, tapi penuh tekanan.
Valerie tertawa kecil, sinis. “Kalau bukan pembantu, lalu apa? Dia tinggal di rumahku, makan dari uangku, memakai fasilitas yang aku dan kamu sediakan. Setidaknya dia harus punya fungsi, bukan?”
Kata-kata itu seperti tamparan keras.
Rumahku?
Sejak kapan semuanya menjadi miliknya?
Dan lebih menyakitkan lagi—saya teringat Clara.
Clara yang dulu selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan bagi ibu saya… hanya untuk disindir.
Clara yang diam-diam mengganti obat ibu saya ketika stoknya habis… tanpa pernah meminta pujian.
Clara yang tetap tersenyum, bahkan ketika dihina setiap hari.
Dan saya… membuangnya.
Untuk ini.
“Bangun, Ma…” Saya berlutut, membantu ibu saya berdiri. Tubuhnya terasa ringan, terlalu ringan… seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan beban sendirian.
Air mata saya jatuh tanpa saya sadari.
“Maafkan Gabriel…” bisik saya.
Valerie berdiri dengan kesal. “Apa yang kamu lakukan? Aku belum selesai menghukumnya.”
Saya menoleh perlahan. Kali ini, tidak ada keraguan.
“Cukup.”
Satu kata itu menggema di seluruh dapur.
Wajah Valerie berubah. “Kamu berani melawanku?”
“Saya tidak melawanmu,” jawab saya dingin. “Saya sedang mengakhiri kesalahan terbesar dalam hidup saya.”
Dia tertawa lagi, tapi kali ini ada sedikit kegugupan di baliknya. “Kesalahan? Maksudmu menikah denganku? Jangan bercanda, Gabriel. Tanpa keluargaku, kamu bukan siapa-siapa.”
Saya mengeluarkan ponsel, menekan satu nomor.
“Pak Arman? Ya, ini Gabriel. Mulai hari ini, semua kerja sama dengan keluarga Valencia dihentikan. Ya, semuanya. Termasuk proyek kampanye mereka.”
Wajah Valerie langsung pucat.
“Kamu… tidak mungkin…”
“Saya CEO di perusahaan saya sendiri,” potong saya. “Dan saya yang memutuskan dengan siapa saya bekerja.”
“Kalau kamu melakukan ini, ayahku akan menghancurkanmu!”
“Mungkin,” saya mengangguk pelan. “Tapi setidaknya saya tidak akan lagi hidup sebagai pria yang menghancurkan hidup orang-orang yang mencintainya.”
Saya menatapnya lurus.
“Kita selesai, Valerie.”
Untuk pertama kalinya, dia kehilangan kata-kata.
Saya menggandeng ibu saya keluar dari dapur itu, meninggalkan semua kemewahan yang tiba-tiba terasa begitu kosong.
Malam itu, saya duduk sendirian di ruang kerja. Di tangan saya, ada sebuah foto lama.
Saya dan Clara.
Senyumnya hangat. Tulus. Tidak dibuat-buat.
Hati saya terasa diremas.
Saya tidak tahu apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Mungkin sudah terlambat.
Tapi satu hal yang pasti—kali ini, saya tidak akan lari dari kesalahan saya.
Saya meraih ponsel, jari saya gemetar saat mencari nomor yang sudah lama tidak saya hubungi.
Clara.
Nada dering itu terasa seperti hukuman.
Dan ketika akhirnya terdengar suara lembut di seberang sana…
“Halo?”
Dunia saya seakan berhenti lagi.
“Clara… ini aku, Gabriel.”
Sunyi sejenak.
Lalu suara itu menjawab, pelan namun tegas:
“Aku tahu.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya…
Saya tidak tahu harus berkata apa.