Mateo tidak bisa lagi duduk diam. Tangan yang tadinya memegang cangkir kopi kini gemetar hebat, saking kencangnya ia mencengkeram ponsel hingga layarnya nyaris retak. Di layar, drama mengerikan itu berlanjut.
Pengkhianatan di Balik Pintu Terkunci
Clara meringis kesakitan, air mata mengalir deras di pipinya yang pucat. Ia tidak berteriak, ia hanya memeluk Baby Leo lebih erat agar bayi itu tidak terjatuh atau terkena amukan Mama Lucing.
“Ma, tolong… sakit, Ma,” rintih Clara.

“Sakit? Kamu pikir Mateo tidak sakit bekerja bagai budak di kantor hanya untuk memberi makan mulutmu itu?” Mama Lucing tidak berhenti di situ. Dia mengambil bantal dari boks bayi dan melemparkannya tepat ke arah luka jahitan Caesar Clara.
Mateo melihat istrinya mengerang kesakitan, tubuhnya melengkung menahan perih yang luar biasa di perutnya. Di saat itulah, Mateo menyadari bahwa luka di perut Clara yang selama ini dikeluhkan “lambat sembuh” bukan karena kurang nutrisi, melainkan karena perlakuan kasar ibunya sendiri selama berminggu-minggu.
Pelarian di Tengah Malam
Tanpa mematikan aplikasi itu, Mateo menyambar kunci mobilnya. Ia berlari keluar dari kantor di Makati, mengabaikan rekan kerja yang menatapnya bingung. Di dalam mobil, Mateo mengemudi seperti orang kesetanan menuju rumah mereka di pinggiran kota.
Selama perjalanan 40 menit yang terasa seperti selamanya, audio dari ponselnya terus menyala. Ia mendengar ibunya terus menghina Clara, menyebutnya “sampah” dan “wanita lemah”. Ia mendengar Clara memohon, “Tolong jangan bilang Mateo, Ma… aku tidak mau dia stres di kantor.”
Mateo memukul setir. Betapa bodohnya aku, batinnya. Ia merasa gagal sebagai suami. Ia telah memasukkan serigala ke dalam rumahnya sendiri.
Konfrontasi Mematikan
Tepat pukul 02:45 pagi, Mateo sampai di depan rumah. Ia tidak menggunakan kunci, melainkan mendobrak pintu depan dengan bahunya. Suara dentuman itu membuat suasana rumah yang sunyi menjadi mencekam.
Ia berlari ke lantai atas, menuju kamar bayi. Saat ia membuka pintu, pemandangan di depannya jauh lebih buruk daripada di layar ponsel. Ibunya sedang mencoba merenggut Baby Leo dari pelukan Clara yang lemas, sementara Clara terus bertahan meski rambutnya berantakan.
“MATEO?!” Mama Lucing terperanjat, wajahnya langsung berubah dari singa yang ganas menjadi domba yang malang dalam sekejap. “Mateo, syukurlah kamu pulang! Lihat istrimu, dia gila! Dia hampir menjatuhkan bayimu!”
Mateo tidak berkata apa-apa. Ia berjalan mendekat, matanya merah karena amarah dan tangis yang tertahan.
“Berhenti berbohong, Mak,” suara Mateo rendah namun bergetar. Ia mengangkat ponselnya yang masih menampilkan rekaman live kejadian beberapa menit lalu. “Aku melihat semuanya. Setiap detik. Setiap jambakan. Setiap hinaan.”
Wajah Mama Lucing menjadi pucat pasi. Ia mencoba mendekati anaknya. “Mateo, kamu salah paham… Mak hanya ingin mendidik dia…”
“KELUAR!” teriak Mateo. Suaranya menggelegar hingga Baby Leo menangis histeris. “Keluar dari rumah ini sekarang juga!”
Akhir dari Sebuah Kepalsuan
Malam itu, Mateo mengusir ibunya sendiri. Tanpa menunggu pagi, ia mengemasi barang-barang Mama Lucing ke dalam kantong plastik dan meletakkannya di teras. Ia tidak peduli ke mana ibunya akan pergi malam itu.
Mateo berlutut di depan Clara yang masih terduduk lemas di lantai. Ia memeluk istri dan anaknya, menangis tersedu-sedu sambil membisikkan kata maaf yang tak terhitung jumlahnya.
“Aku gagal menjagamu, Clara. Aku minta maaf…”
Clara hanya bisa menangis di pundak suaminya, melepaskan beban yang selama ini ia pikul sendirian demi menjaga “kedamaian” keluarga.
Sejak malam itu, Mateo menyadari satu hal pahit: terkadang, orang yang paling kita percayai untuk menjaga harta paling berharga kita, justru adalah orang yang paling berpotensi untuk menghancurkannya. Ia pun memutuskan untuk mengambil cuti panjang, berjanji tidak akan membiarkan Clara menghadapi dunia sendirian lagi, terutama tidak dari orang yang seharusnya ia sebut ‘Ibu’.