Mas Randy, yang tadinya terlihat memejamkan mata, membukanya perlahan, dan langsung tertuju padaku.
Detik berikutnya, dia melakukan adegan yang mungkin sudah ia latih di depan cermin. Matanya melebar, seolah baru saja melihat cahaya ilahi turun dari langit-langit kamar.
Aku mematung. Saat mendengar berita kecela kaannya dari Tania, aku yakin itu bukan insiden sungguhan. Tapi babak baru dari drama yang sedang dimainkannya bersama para pemain pendukungnya.
“Din …” suaranya terdengar parau, serak, dan begitu rapuh.
Air mata menetes dari sudut matanya, mengalir membasahi pipi yang sedikit lecet.
“Aku … aku sudah ingat,” bisiknya dengan nada tak percaya. “Aku sudah ingat semuanya, Din!”
Hening sejenak. Aku bisa merasakan atmosfer di ruangan itu berubah menjadi panggung sinetron.
Aku tidak berlari memeluknya. Aku tidak menangis haru. Aku tetap berdiri di tempatku, di dekat pintu, memegang tas tanganku erat-erat. Wajahku datar, dingin sedingin pendingin ruangan yang berdengung halus di atasku.
Melihat reaksiku yang kaku, Mama Anita langsung mengambil peran. Ia berdiri, menghambur dan memelukku dengan tangisan yang kutahu itu hanya sandiwara.
“Maafkan Mama, Din! Maafkan Papa!” ratapnya di bahuku.”Maaf, selama ini kami sudah salah karena tidak percaya dengan yang kamu katakan. Ternyata benar Randy masih hidup! Ini keajaiban untuk kita, Din!”
Aku membiarkan tubuhku dipeluk, tapi tanganku tidak bergerak sedikit pun untuk membalas pelukan mama mertuaku.
Papa Mukti mengusap sudut matanya yang kering, mengangguk-angguk penuh drama. “Ini mukjizat, Din. Yang Maha kuasa sudah mengembalikan Randy pada kita.”
Perutku mual. Mukjizat? Bukan. Ini skenario darurat yang dibuat Mas Randy. Dan aku semakin yakin, selama ini kalian berdua ada di belakangnya.
Kece la kaan yang diatur, ingatan yang tiba-tiba kembali, dan permohonan maaf yang banjir air mata. Itu semua hanya drama.
“Syukurlah kalau Mas Randy sudah ingat,” ucapku pelan, melepaskan pelukan Mama Anita dengan sopan tapi tegas.
Aku menatap Mas Randy yang masih berakting kesakitan di ran jang.
“Bisa Dinda bicara berdua dengan Mas Randy?” pintaku.
Mama Anita dan Papa Mukti saling pandang, lalu mengangguk cepat. “Iya, tentu saja. Kalian berdua butuh waktu. Ayo, Pa, Mel, kita keluar dulu.”
Mereka berbondong-bondong keluar, menyisakan aku dan Mas Randy hanya berdua di dalam ruangan.

Ya, hanya ada kami berdua sekarang.
Mas Randy menatapku dengan mata yang ia buat sesayu mungkin, penuh penyesalan dan kerinduan yang direkayasa. Tangan kanannya yang tidak diinfus bergerak perlahan di atas sprei, mencoba meraih tanganku yang menggantung di sisi tu buh.
Aku mundur selangkah, menghindari sentu hannya.
Tangan itu berhenti di udara, lalu terkepal pelan sebelum ditariknya kembali.
“Din …” panggilnya lagi, kali ini lebih lembut. “Maafkan aku. Sungguh, Din. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku setahun ini.”
Aku tidak menjawab. Aku menarik kursi penunggu, duduk agak berjarak darinya. “Ceritakan,” ucapku singkat.
Mas Randy terlihat menelan lu dah. Sepertinya ia perlu membasahi kerongkongannya untuk memulai dongengnya.
“Waktu kece la kaan kapal itu terjadi aku berhasil meloncat dari kapal, lalu berusaha berenang ke tepian. Tapi malam itu terlalu gelap, saat ombak besar datang aku tidak sempat menghindar dan hilang keseimbangan. Aku memben tur karang, lalu hanyut sampai ke pesisir. Saat aku tersadar, aku sudah ada di rumah sakit kecil di daerah terpencil dalam kondisi tidak ingat apa-apa.”
Mas Randy mengambil jeda sejenak, menatap lekat padaku. Lalu melanjutkan dengan cerita yang lebih dramatis.
“Hanya ada Clarissa dan orang tuanya di sana. Mereka bilang, aku ini Banyu, tunangan Clarissa yang yatim piatu. Mereka bilang aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain mereka.”
Air mata buaya kembali menetes dari matanya.
“Aku kor ban keadaan, Din. Aku dimani pulasi. Aku tidak tahu kalau aku punya istri sebaik kamu dan punya anak selucu Ellea. Kalau aku ingat, demi Tuhan, Din, aku tidak akan pernah menikah dengan Clarissa. Aku hanya cinta sama kamu.”
Aku mendengarkan setiap katanya dalam diam. Mataku menatap lurus ke matanya yang basah.
Dalam hati, aku tertawa miris. ‘Anak yatim piatu? Kor ban keadaan? Dima ni pulasi? Sungguh, sandiwara yang menji jikan!’
Padahal telingaku sendiri mendengar bagaimana mulut manisnya itu bilang jika Clarissalah satu-satunya wanita di hidupnya.
“Kamu tidak perlu khawatir, sayang. Aku sudah memilihmu dan menjadikanmu satu-satunya pendampingku. Duniaku saat ini hanya kamu dan jagoan kecil kita.”
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalaku, menimpali setiap kebo hongan yang keluar dari mulut Mas Randy. Dia bukan kor ban yang lupa ingatan. Dia adalah aktor yang lupa kalau penontonnya sudah membaca naskah aslinya.
“Lalu, bagaimana dengan Clarissa?” tanyaku memancing.
Mas Randy terdiam.
Aku tersenyum.”Aku tahu, kamu pasti berat membuat keputusan. Jadi biar aku bantu meringankannya.”
“Maksud kamu?” Mas Randy menatapku bingung.
Aku berdiri. “Sebentar, aku panggil Mama, Papa dan Clarissa dulu. Kita perlu bicara bersama,” ucapku, seraya berbalik menuju pintu.
***
Aku berdiri di ujung ran jang, menghadap mertua, adik ipar dan maduku yang terlihat te gang.
“Ma, Pa, Mas Randy …” suaraku tenang, tapi bervolume cukup untuk menguasai ruangan.
Semua mata tertuju padaku.
“Aku bersyukur sekali sekarang Mas Randy sudah ingat semuanya. Itu artinya Mas Randy sadar sepenuhnya siapa dirinya, siapa aku, dan siapa Clarissa.”
Mas Randy mengangguk antusias. “Iya, Din. Aku ingat.”
“Bagus,” aku tersenyum tipis. “Berarti Mas Randy juga sadar kalau selama setahun ini, ada Clarissa yang merawat Mas. Ada an ak yang lahir dari hu bungan kalian.”
Wajah Mama Anita kian mene gang. Begitu juga dengan yang lainnya.
“Aku sudah pikirkan matang-matang,” lanjutku, menatap lurus ke arah Mas Randy.
“Karena Mas Randy sudah selamat, sudah sehat ingatannya, dan sudah ada wanita lain yang terbukti bisa menjaga Mas dengan baik, maka …”
Aku menjeda kalimatku sejenak. Menatap orang-orang di hadapanmu satu persatu, untuk menyaksikan kecemasan di wajah mereka.
” … Begitu Mas Randy keluar dari rumah sakit, aku akan mengajukan gugatan ce rai padanya!”