Posted in

ANAKKU TIDAK DATANG KE PEMAKAMAN AYAHNYA DEMI BERPESTA — TAPI KEESOKAN HARINYA, SATU KEPUTUSANKU SAJA MENGHANCURKAN MIMPINYA UNTUK MENDAPATKAN WARISAN MILIARAN RUPIAH!

ANAKKU TIDAK DATANG KE PEMAKAMAN AYAHNYA DEMI BERPESTA — TAPI KEESOKAN HARINYA, SATU KEPUTUSANKU SAJA MENGHANCURKAN MIMPINYA UNTUK MENDAPATKAN WARISAN MILIARAN RUPIAH!

Aku menangis sambil berdiri di depan peti jenazah suamiku, Arturo.

Dia adalah suami yang baik dan penuh kasih, sekaligus pengusaha pekerja keras yang membangun perusahaan besar dari nol. Namun di tengah banyaknya pelayat, karangan bunga, dan ucapan belasungkawa yang terus berdatangan, ada satu orang yang sangat mencolok karena tidak hadir.

Anak tunggal kami, Carlo.

Sejak tadi para kerabat dan rekan bisnis suamiku terus bertanya di mana “sang pewaris” dan calon CEO perusahaan berikutnya berada. Aku hanya bisa tersenyum paksa dan berbohong bahwa mungkin dia terjebak macet.

Padahal kenyataannya, aku tidak bisa menghubunginya sejak kemarin.

Saat berkeliling mengucapkan terima kasih kepada para tamu, ponselku tiba-tiba berbunyi.

Sebuah notifikasi dari Instagram.

Seseorang menandai Carlo dalam sebuah video.

Begitu aku membukanya, hatiku hampir hancur.

Carlo berada di sebuah klub VIP terkenal dan sangat mewah bersama teman-temannya.

Musik berdentum keras.

Di kedua tangannya terdapat botol sampanye mahal.

Dia berpesta seolah tidak ada hari esok.

Caption videonya berbunyi:

“Merayakan lebih awal! Bos baru dan calon CEO masa depan ada di sini! Selamat tinggal, orang tua!”

Tanganku gemetar karena marah dan terluka.

Aku langsung meneleponnya berkali-kali hingga akhirnya dia mengangkat telepon.

“Carlo! Kamu di mana?!” teriakku dengan suara serak karena menangis. “Ayahmu sedang terbaring di peti jenazah! Semua tamu menunggumu! Bagaimana mungkin kamu bersenang-senang saat seluruh keluarga sedang berduka?!”

Dari seberang telepon terdengar tawanya yang menusuk hati.

“Ma, santai saja! Ayah sudah meninggal, dia juga tidak akan tahu apakah aku datang atau tidak. Lagi pula suasana di sana terlalu menyedihkan. Aku butuh hiburan dan ingin merayakan babak baru hidupku. Bukankah sekarang semua milik Ayah akan jadi milikku? Aku pulang besok saja saat pembacaan surat wasiat. Dadah, Ma!”

Lalu dia memutuskan telepon.

Aku terisak.

Aku dan Arturo telah memberikan segalanya untuknya—kemewahan, pendidikan terbaik, mobil-mobil mahal, bahkan uang saku yang tak pernah kurang.

Tetapi dia tumbuh menjadi pria tanpa empati, tanpa rasa hormat, dan dibutakan oleh uang.

Malam itu, setelah pulang dari rumah duka, aku masuk ke ruang kerja Arturo.

Aku harus menyiapkan berbagai dokumen yang diminta pengacara untuk esok hari.

Saat memeriksa isi brankasnya, aku menemukan sebuah amplop kulit tua yang tersembunyi di sudut paling dalam.

Di bagian depannya tertulis:

“Untuk istriku tercinta, Elena.”

Aku mengernyitkan dahi.

Dengan penasaran, aku membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat salinan asli surat wasiat terakhir Arturo, serta sepucuk surat tulisan tangan.

Aku mulai membaca surat itu.

Dan saat itulah air mataku kembali mengalir.

“Elena, jika kamu sedang membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada lagi.

Aku mengenal anak kita lebih baik daripada siapa pun.

Aku tahu ada kemungkinan besar Carlo hanya menunggu kematianku untuk mendapatkan perusahaan dan seluruh kekayaanku.

Karena itu, aku membuat keputusan yang mungkin akan mengejutkan banyak orang.

Jika Carlo tidak menunjukkan rasa hormat terakhirnya sebagai seorang anak dan tidak hadir dalam prosesi pemakamanku tanpa alasan yang sah, maka dia akan kehilangan haknya sebagai pewaris utama.

Sebaliknya, seluruh saham pengendali perusahaan, aset investasi, dan tabungan senilai lebih dari Rp150 miliar akan dialihkan ke Yayasan Arturo Foundation yang telah kusiapkan secara diam-diam selama lima tahun terakhir.

Carlo hanya akan menerima Rp150 juta sebagai tunjangan terakhir.

Namun keputusan akhir tetap berada di tanganmu.

Kamu adalah orang yang paling mengenalku dan paling memahami isi hatiku.

Pilihlah apa yang menurutmu benar.”

Aku memegang surat itu erat-erat.

Tangisku semakin deras.

Bukan karena jumlah uangnya.

Tetapi karena bahkan di saat-saat terakhir hidupnya, Arturo masih berharap anak kami bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik.

Keesokan paginya, Carlo datang ke kantor pengacara dengan setelan mahal dan senyum lebar.

Dia bahkan datang membawa brosur mobil sport yang ingin dibelinya.

“Akhirnya,” katanya sambil tertawa. “Saatnya mengetahui berapa miliar rupiah yang Ayah tinggalkan untukku.”

Dia tidak tahu bahwa satu tanda tangan dariku saja akan segera mengubah seluruh masa depannya.

Dan beberapa menit kemudian, saat surat wasiat dibacakan di hadapan semua keluarga dan direksi perusahaan, senyum di wajahnya perlahan menghilang.

Lalu berubah menjadi keterkejutan.

Kemudian menjadi ketakutan.

“Tunggu! Ini tidak masuk akal! Ini pasti kesalahan!” Carlo berteriak sambil memukul meja kaca di ruang rapat hingga brosur mobil sport-nya terlempar ke lantai.

Wajahnya yang tadinya cerah kini memucat seketika. Matanya melotot menatap pengacara keluarga kami, Pak Hendra, yang baru saja selesai membaca klausul darurat dari Arturo.

“Pak Hendra, Anda pasti salah baca! Aku anak tunggal! Ayah sangat menyayangiku, tidak mungkin dia memberikan seluruh aset Rp150 miliar itu kepada sebuah yayasan sosial!” Carlo beralih menatapku, napasnya memburu. “Ma! Katakan sesuatu! Ini pasti jebakan, kan? Mama yang menyuruh Pak Hendra mengubah surat wasiat Ayah!”

Aku duduk dengan tenang di ujung meja, mengenakan pakaian hitam polos tanpa perhiasan mewah. Di sampingku, sebuah tablet menampilkan video Instagram milik Carlo yang sudah kuunduh tadi malam—video di mana dia menenggak sampanye sambil merayakan kematian ayahnya sendiri.

“Pak Hendra tidak salah membaca, Carlo,” kataku, suaraku terdengar sangat dingin dan tenang, kontras dengan kepanikan luar biasa yang melanda anakku. “Ayahmu yang menulis sendiri aturan itu. Dan keputusan mutlak untuk mengaktifkan klausul tersebut… ada di tanganku.”

Aku menggeser tablet itu ke tengah meja. Layarnya memutar video pesta Carlo berulang-ulang, memantulkan kilatan lampu disko di wajah para jajaran direksi perusahaan yang hadir. Semua orang di ruangan itu menatap Carlo dengan pandangan penuh kekecewaan dan rasa jijik.

“Ma… Maafkan aku, Ma. Aku… aku hanya terbawa suasana malam itu,” suara Carlo mendadak mengecil. Dia mencoba merangkak mendekat, menggenggam tanganku dengan jemarinya yang gemetar. “Aku sangat sedih karena Ayah meninggal, makanya aku minum-minum untuk melupakan kesedihanku. Tolong, Ma… jangan tanda tangani pengalihan aset itu. Aku berjanji akan mengelola perusahaan Ayah dengan baik!”

Aku menatap tangan Carlo yang memegangiku. Tangan yang tidak pernah sekalipun menyentuh peti jenazah ayahnya. Tangan yang sibuk memegang botol alkohol saat ayahnya diturunkan ke liang lahat.

“Untuk melupakan kesedihan, Carlo?” Aku tersenyum pahit, lalu menarik tanganku dari genggamannya. “Lalu bagaimana dengan caption yang kamu tulis? ‘Selamat tinggal, orang tua’? Apakah itu juga bentuk dari rasa sedihmu?”

Carlo bungkam. Mulutnya menganga tanpa bisa mengeluarkan satu kata pun.

Aku menoleh ke arah Pak Hendra dan memberikan anggukan tegas. “Pak Hendra, serahkan dokumen pengalihan asetnya.”

“Ma! Jangan, Ma! Aku mohon!” Carlo berteriak histeris, menjatuhkan dirinya berlutut di samping kursiku. “Jika Mama melakukan ini, aku akan hancur! Teman-temanku, klubku, semua investasiku butuh uang itu! Mama tidak bisa memperlakukanku seperti ini!”

“Aku tidak menghancurkanmu, Carlo. Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri,” kataku tanpa menatapnya.

Aku mengambil pulpen premium milik mendiang suamiku, lalu dengan satu tarikan napas, aku menorehkan tanda tanganku di atas dokumen resmi tersebut.

Sret.

Satu tanda tangan selesai.

Detik itu juga, status Carlo sebagai pewaris takhta Imperium Bisnis Arturo resmi dicabut. Rp150 miliar bersama seluruh saham kendali perusahaan kini sah berpindah tangan ke yayasan kanker dan panti asuhan yang didirikan Arturo.

“Sudah selesai,” ujar Pak Hendra sambil merapikan berkas. “Sesuai dengan wasiat Tuan Arturo, Saudara Carlo hanya berhak menerima dana tunjangan akhir sebesar Rp150 juta. Setelah ini, semua fasilitas berupa apartemen penthouse, kartu kredit hitam, dan tiga mobil mewah yang terdaftar atas nama perusahaan akan ditarik kembali dalam waktu 24 jam.”

Carlo lemas. Dia terduduk di atas lantai marmer ruang rapat, menatap kosong ke langit-langit. Uang Rp150 juta mungkin terlihat banyak bagi orang biasa, namun bagi Carlo yang terbiasa menghabiskan ratusan juta dalam satu malam di klub malam, uang itu hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa bulan.

Aku berdiri dari kursiku, membetulkan selendang hitamku, lalu menatap anak tunggalku untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan ruangan.

“Ayahmu mendidikmu dengan kemewahan karena dia ingin kamu bahagia, Carlo. Tapi kamu salah mengartikannya sebagai kelemahan,” ucapku tegap. “Mulailah hidup dari bawah dengan Rp150 juta itu. Belajarlah menjadi manusia yang punya hati. Jika suatu hari kamu bisa membuktikan dirimu berubah, pintu rumah Mama selalu terbuka. Tapi untuk saat ini… nikmatilah babak baru hidupmu tanpa sepeser pun uang Ayah.”

Aku melangkah keluar dari ruang rapat dengan kepala tegak. Di belakangku, suara tangis dan raungan frustrasi Carlo menggema, meratapi impian miliaran rupiah yang sirna dalam sekejap akibat keserakahannya sendiri.