Posted in

“BU… TOLONG JEMPUT AKU! MEREKA MENYIKSA AKU!” SAAT SEORANG KOLONEL WANITA MENEROBOS UNTUK MENYELAMATKAN PUTRINYA, KELUARGA CÁRDENAS YANG SANGAT BERKUASA LANGSUNG PUCAT KARENA MEREKA TIDAK TAHU TELAH MENANTANG KOMANDAN PALING DITAKUTI DI ANGKATAN BERSENJATA.

“BU… TOLONG JEMPUT AKU! MEREKA MENYIKSA AKU!” SAAT SEORANG KOLONEL WANITA MENEROBOS UNTUK MENYELAMATKAN PUTRINYA, KELUARGA CÁRDENAS YANG SANGAT BERKUASA LANGSUNG PUCAT KARENA MEREKA TIDAK TAHU TELAH MENANTANG KOMANDAN PALING DITAKUTI DI ANGKATAN BERSENJATA.

Suasana kantorku di Markas Besar Komando Tinggi Angkatan Bersenjata Filipina sangat tenang.

Sebagai Kolonel Victoria de Leon, wanita pertama yang menjadi Komandan Special Tactical Operations Group, aku sudah terbiasa menghadapi tekanan berat, bahaya, dan pertempuran berdarah. Tidak ada yang membuatku mundur ketika menyangkut pertahanan negara.

Namun di balik seragam keras dan deretan medali keberanianku, aku tetap seorang ibu.

Dan satu-satunya kelemahanku adalah putriku, Isabella.

Ketika Isabella menikah dengan Mateo Cárdenas, pewaris salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di negara ini, aku tidak pernah benar-benar merasa tenang.

Keluarga Cárdenas terkenal karena kesombongan dan koneksi politik mereka yang kuat.

Pada hari pernikahan mereka, aku sengaja tidak mengenakan seragam militer dan hanya berpura-pura sebagai pegawai pemerintah biasa agar keluarga mempelai pria tidak merasa terintimidasi dan agar putriku dapat menjalani kehidupan yang tenang.

Keluarga Cárdenas mengira aku hanyalah ibu mertua miskin yang tidak berarti, seorang wanita yang tidak mampu melawan kekayaan mereka.

Aku membiarkan mereka berpikir demikian.

Selama aku melihat Isabella tersenyum bahagia, aku rela menelan harga diriku.

Namun malam itu, saat sedang memeriksa laporan intelijen rahasia, telepon pribadiku tiba-tiba berdering.

Ketika melihat nama Isabella di layar, aku langsung menjawabnya.

“Isabella, Nak? Sudah malam, ada apa menelepon Ibu?” sapaku lembut.

Namun alih-alih suara ceria, yang kudengar hanyalah isak tangis pelan dan gemetar.

“Bu… Bu, tolong… jemput aku. A-Aku sudah tidak sanggup lagi… mereka menyiksaku.”

Aku langsung membeku di kursiku.

Suara putriku terdengar pecah dan dipenuhi ketakutan yang luar biasa.

“Apa yang kamu katakan? Di mana Mateo? Siapa yang menyakitimu?!” tanyaku panik.

“Itu Mateo, Bu… dan ibunya juga. Mereka memukuliku hanya karena aku menolak menandatangani dokumen yang memindahkan usaha kecil milikku ke atas nama mereka. Bu, tolong aku, aku dikurung di kamar—”

Tiba-tiba ucapannya terputus.

Dari seberang telepon, aku mendengar suara pintu yang didobrak dengan keras.

Sesaat kemudian terdengar suara suaminya, Mateo.

“Berani-beraninya kamu menelepon ibumu yang miskin itu?!” bentak Mateo, suaranya terdengar sangat jelas melalui sambungan telepon yang belum terputus.

“Mateo, aku mohon, jangan—” jerit Isabella, disusul suara hantaman keras dan bunyi ponsel yang terbanting ke lantai.

“Ibu mertuamu tidak akan bisa menyelamatkanmu, Jalang! Di kota ini, keluarga Cárdenas adalah hukum!” Suara tawa dingin ibu Mateo, Doña Teresa, menggema di latar belakang sebelum panggilan itu mati total.

KLIK.

Darah di dalam tubuhku mendadak mendidih. Rasa hangat yang biasa mengalir di dadaku berubah menjadi dingin yang mematikan. Detik itu juga, sosok Victoria sebagai seorang ibu yang lembut lenyap, digantikan oleh Komandan Angkatan Bersenjata yang paling ditakuti di negeri ini.

Aku berdiri, mengenakan baret merahku, dan menekan tombol interkom di meja kerja dengan hentakan keras.

“Mayor Santos! Kumpulkan Tim Alpha dan Bravo. Persiapkan delapan unit kendaraan taktis lapis baja dan dua helikopter serbu. Kita bergerak ke kediaman Cárdenas dalam waktu lima menit!” perintahku, suaranya menggelegar tanpa bantahan.

“Siap, Kolonel! Apakah ini misi pemberantasan terorisme?” tanya Mayor Santos dari seberang garis.

“Lebih dari itu,” desisku tajam. “Ini misi penyelamatan sandera. Dan siapa pun yang menghalangi… hancurkan.”

Lima belas menit kemudian, keheningan di kawasan elit terkaya di Manila pecah berantakan. Suara deru mesin helikopter militer berputar rendah di atas langit, sementara delapan truk lapis baja memblokade seluruh akses jalan menuju mansion megah keluarga Cárdenas.

BRAAAKKK!

Gerbang besi setinggi empat meter milik kediaman Cárdenas hancur berkeping-keping ditabrak oleh kendaraan taktis baris depan. Puluhan prajurit bersenjata lengkap dengan seragam taktis hitam langsung merangsek masuk, mengamankan area dan melumpuhkan belasan penjaga pribadi keluarga Cárdenas dalam hitungan detik.

Aku melangkah masuk melalui puing-puing gerbang, berjalan dengan langkah tegap, dikawal oleh laras-laras senapan otomatis yang mengarah ke depan. Suara sepatu boot militerku berdentum gahar di atas lantai marmer halaman rumah mereka.

Pintu utama mansion terbuka lebar. Mateo dan ibunya, Doña Teresa, berlari keluar dengan wajah merah padam karena amarah, didampingi oleh pengacara keluarga mereka.

“Apa-apaan ini?! Siapa yang memberi kalian izin menyerbu rumah kami?!” teriak Mateo sombong, meskipun tubuhnya sedikit bergetar melihat moncong senjata yang mengarah padanya. “Kalian tahu siapa kami?! Satu telepon ke Jenderal Angkatan Bersenjata, dan kalian semua akan dipecat!”

Doña Teresa melangkah maju, menunjuk wajahku dengan jarinya yang penuh cincin berlian. “Oh, lihat siapa yang datang! Ibu mertua miskin yang tidak tahu diri! Jadi kamu memanggil tentara-tentara bayaran ini untuk menakut-nakuti kami? Berapa kamu membayar mereka, hah?!”

Aku berhenti tepat tiga langkah di depan mereka. Aku perlahan mendongak, membiarkan cahaya lampu teras menyoroti pangkat melati emas tiga di pundakku dan lambang komando tertinggi di dadaku.

“Mayor Santos,” panggilku datar.

“Siap, Komandan!” Mayor Santos maju dan memberikan hormat militer yang sangat khidmat kepadaku.

Melihat hal itu, pengacara keluarga Cárdenas yang mengenali seragamku langsung tersentak mundur. Wajahnya mendadak pucat pasi seperti mayat. “M-Mateo… Doña Teresa… dia… dia bukan pegawai pemerintah biasa…”

“Apa maksudmu, Pengacara?!” bentak Doña Teresa ketakutan.

“Dia… Dia adalah Kolonel Victoria de Leon! Komandan Pasukan Khusus Operasi Taktis! Pemimpin tertinggi militer yang memegang otoritas darurat dari Presiden!” suara pengacara itu gemetar hebat hingga dokumen di tangannya terjatuh.

Mendengar hal itu, kesombongan di wajah Mateo langsung runtuh. Lututnya melemas. Sementara Doña Teresa hampir kehilangan keseimbangan, menyadari bahwa “wanita miskin” yang selama ini mereka hina adalah orang yang bisa melenyapkan seluruh dinasti mereka hanya dengan satu jentikan jari.

“Di mana putriku?” tanyaku, suaraku sangat pelan, namun getaran otoritas di dalamnya membuat bulu kuduk mereka meremang.

“V-Victoria… ini hanya kesalahpahaman keluarga…” Mateo mencoba terbata-bata, tangannya gemetar. “Isabella… dia ada di atas…”

“Satu menit,” kataku sambil melihat jam tangan militarku. “Jika dalam satu menit putriku tidak keluar dengan selamat, aku akan meratakan mansion ini dengan tanah dan memastikan seluruh keluarga Cárdenas membusuk di penjara militer atas tuduhan makar dan penyiksaan.”

Belum sempat satu menit berlalu, dua prajuritku sudah turun dari lantai atas sambil membimbing Isabella. Wajah putriku lebam, dan sudut bibirnya berdarah.

Melihat kondisi putriku, mataku menyipit tajam. Kilatan amarah yang mematikan terpancar jelas.

“Ibu…” tangis Isabella pecah saat dia berlari memelukku.

Aku mendekapnya erat, mencium rambutnya, lalu menyerahkannya kepada tim medis militer yang sudah bersiap. Setelah memastikan putriku aman, aku berbalik dan menatap Mateo serta ibunya yang kini sudah bersujud di atas lantai, menangis ketakutan.

“Kolonel Victoria, tolong maafkan kami! Kami tidak tahu! Kami berjanji akan memberikan semua aset kami pada Isabella! Tolong jangan bunuh kami!” ratap Doña Teresa, harga dirinya yang setinggi langit kini hancur lebur di bawah sepatu boot-ku.

Aku menatap mereka dengan pandangan paling dingin yang pernah kuberikan pada musuh di medan perang.

“Kekayaanmu tidak bisa membelimu dari murka seorang ibu, Teresa,” ucapku tegap. “Mayor Santos, borgol mereka berdua. Sita seluruh aset keluarga Cárdenas atas dugaan pendanaan ilegal, dan jebloskan mereka ke sel isolasi pangkalan militer tertinggi. Biarkan mereka tahu bagaimana rasanya dikurung tanpa ada hukum yang bisa menyelamatkan mereka.”

Malam itu, keluarga Cárdenas yang begitu berkuasa akhirnya runtuh dan pucat tanpa sisa. Mereka baru sadar, di dunia ini, ada satu aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar: Jangan pernah menyentuh anak dari seorang komandan perang, atau kamu harus siap menghadapi seluruh pasukan militer di depan pintu rumahmu.