Posted in

SAAT AKU MELIHAT ISTRTIKU YANG SEDANG HAMIL DELAPAN BULAN BERDIRI SENDIRIAN DAN MENCUCI GUNUNGAN PIRING PADA JAM SEPULUH MALAM, SESUATU DALAM DIRIKU TERASA PATAH. KUKUMPULKAN KETIGA ADIK PEREMPUANKU DI RUANG TAMU, DAN KATA-KATA YANG KULONTARKAN MEMBUNGKAM MEREKA SEMUA SERTA MENGHANCURKAN KESOMBONGAN MEREKA SEPENUHNYA

Keheningan di dapur itu terasa mencekam. Aku menuntun Clara ke kamar, mendudukkannya di tempat tidur, dan mencium keningnya. “Jangan keluar kamar sampai aku memanggilmu,” bisikku.

Aku berjalan kembali ke ruang tamu. Tawa mereka masih terdengar, kontras dengan gemuruh amarah di dadaku. Tanpa suara, aku berjalan ke arah televisi dan mencabut kabel power-nya. Layar menjadi hitam seketika.

“Kak! Apa-apaan sih?” protes Chloe, kesal karena dramanya terpotong.

“Lagi seru nih, Kak!” timpal Mia.

Aku berdiri tegak di depan mereka. Wajahku datar, namun tatapanku dingin menusuk. “Diana, Chloe, Mia. Mama. Berdiri.”

Mungkin karena nada suaraku yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya, mereka semua perlahan berdiri dengan wajah bingung, bahkan Mama Susan mulai meletakkan ponselnya.

“Kalian tahu apa yang baru saja aku lihat di dapur?” tanyaku pelan. “Istriku, yang sedang hamil delapan bulan, mencuci piring kalian sampai menangis kesakitan. Sementara kalian duduk di sini, menikmati pizza yang kubayar, di rumah yang kubangun, dengan kenyamanan yang aku sediakan.”

“Ah, Kak, jangan berlebihan,” celetuk Diana dengan nada meremehkan. “Dia kan cuma cuci piring sebentar. Kami juga capek tadi seharian kuliah.”

Aku tertawa sinis. “Capek? Diana, kamu berusia dua puluh lima tahun, pengangguran, dan aku masih membayar kursusmu yang tidak pernah selesai. Chloe, kamu dua puluh dua tahun, menghabiskan uang jajanku untuk gaya hidup. Mia, kamu sembilan belas tahun, tapi bersikap seolah tidak punya tangan dan kaki.”

Aku menoleh ke arah Mama. “Dan Mama… Mama membiarkan menantu Mama sendiri diperlakukan seperti pelayan?”

“Gabriel, dia itu menantu, sudah sewajarnya membantu keluarga—” kata Mama membela diri.

“Cukup!” bentakku, membuat mereka semua tersentak. “Mulai detik ini, aturan di rumah ini berubah. Dan jika kalian tidak suka, pintunya terbuka lebar.”

Aku mengeluarkan ponselku dan di depan mata mereka, aku memblokir semua kartu kredit tambahan yang mereka pegang.

“Pertama, semua kartu kredit ini mati sekarang. Tidak ada lagi pizza, tidak ada belanja online, tidak ada gaya hidup mewah dari keringatku,” kataku tegas. “Kedua, besok pagi kalian semua akan mencari pekerjaan. Aku tidak peduli itu di kafe atau toko ritel. Ketiga, mulai besok, rumah ini tidak akan memiliki asisten rumah tangga atau Clara yang melayani kalian. Kalian mencuci baju sendiri, membersihkan kamar sendiri, dan mencuci piring sendiri.”

“Kak! Kamu tega?” Mia mulai menangis. “Kami ini adik-adikmu!”

“Justru karena kalian adikku, aku melakukan ini. Aku gagal mendidik kalian menjadi manusia yang punya empati. Kalian bukan adik-adikku, kalian adalah parasit yang menghisap darah istriku,” ucapku tajam. “Jika besok aku melihat Clara menyentuh satu saja piring kotor yang bukan miliknya, aku akan mengepak barang-barang kalian dalam satu koper dan kalian harus keluar dari rumah ini sebelum matahari terbenam.”

Diana mencoba berteriak, “Ini rumah keluarga! Kamu tidak bisa mengusir kami!”

Aku mendekat ke arahnya, membuat dia mundur selangkah. “Ini rumahku, Diana. Atas namaku. Dan yang kalian sebut ‘keluarga’ adalah orang-orang yang saling menjaga, bukan yang menindas wanita hamil demi kenyamanan pribadi. Kesombongan kalian bahwa kalian adalah ‘tuan rumah’ berakhir malam ini.”

Aku berbalik, meninggalkan mereka yang berdiri mematung dalam diam yang memekakkan telinga. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa beban berat di pundakku terangkat. Aku masuk ke kamar, melihat Clara yang tertidur karena kelelahan, dan berjanji dalam hati: mulai besok, tidak akan ada lagi air mata yang jatuh karena ulah mereka.