Posted in

Pagi harinya, Arini pulang dengan mata yang sedikit sembab. Saat mobilnya memasuki gang komplek, ia sudah bisa melihat “pos ronda” para ibu sudah terbentuk di depan rumah Bu Rosa. Arini sengaja tidak menoleh, namun suara mereka tetap saja menembus kaca mobilnya yang tertutup rapat.

“Nah, lihat itu. Pulang pagi lagi. Dokter sih dokter, tapi kalau telat nikah, aura cantiknya lama-lama … Pagi harinya, Arini pulang dengan mata yang sedikit sembab. Saat mobilnya memasuki gang komplek, ia sudah bisa melihat “pos ronda” para ibu sudah terbentuk di depan rumah Bu Rosa. Arini sengaja tidak menoleh, namun suara mereka tetap saja menembus kaca mobilnya yang tertutup rapat.Read more

Posted in

“Rin, jangan bicara begitu. Aku tahu aku salah, aku cuma terbawa emosi tadi,” Arka mencoba meraih tangan Arini, namun wanita itu dengan cepat menariknya menjauh.

“Terbawa emosi atau akhirnya menunjukkan jati diri yang sebenarnya?” Arini menyilangkan tangan di dada. “Selama ini … “Rin, jangan bicara begitu. Aku tahu aku salah, aku cuma terbawa emosi tadi,” Arka mencoba meraih tangan Arini, namun wanita itu dengan cepat menariknya menjauh.Read more

Posted in

Aku membiayai kuliahnya sampai dia lulus. Namun di hari wisudanya, dia merayakan kebahagiaan itu dengan perempuan lain.Dan saat itu juga, aku dibuang seperti sam pah.

Aku membiayai kuliahnya sampai dia lulus. Namun di hari wisudanya, dia merayakan kebahagiaan itu dengan perempuan … Aku membiayai kuliahnya sampai dia lulus. Namun di hari wisudanya, dia merayakan kebahagiaan itu dengan perempuan lain.Dan saat itu juga, aku dibuang seperti sam pah.Read more